Hubungan militer antara Rusia dan China disinyalir semakin erat dan berlangsung secara rahasia di balik layar. Intelijen Eropa menduga Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) telah melatih ratusan personel militer Rusia untuk kebutuhan perang di Ukraina.
Informasi sensitif ini terungkap melalui dokumen rahasia yang diperoleh media asal Jerman, Die Welt. Laporan tersebut menyebutkan bahwa program pelatihan berlangsung akhir tahun lalu di enam pangkalan militer yang berlokasi di wilayah China.
Pelatihan tersebut difokuskan pada penguasaan teknologi pesawat tanpa awak atau drone serta sistem peperangan elektronik. Setelah pendidikan selesai, para tentara Rusia dikabarkan langsung dikirim ke garis depan, termasuk ke unit drone elite bernama Rubicon.
Pertukaran Ilmu Militer dan Pengintaian Senjata Barat
Kerja sama strategis ini ternyata tidak hanya menguntungkan satu pihak, melainkan berjalan secara timbal balik. Dokumen intelijen menunjukkan bahwa personel militer China juga mendapatkan pelatihan serupa di pangkalan-pangkalan militer Rusia.
Sepanjang tahun lalu, diperkirakan ada sekitar 600 anggota PLA yang mempelajari berbagai taktik tempur di Rusia. Materi yang dipelajari mencakup penempatan artileri, pengoperasian kendaraan lapis baja, hingga sistem pertahanan udara yang canggih.
Selain pelatihan fisik, kedua negara juga dilaporkan saling berbagi data intelijen mengenai performa senjata buatan Barat. Mereka sangat tertarik membedah kemampuan alutsista Amerika Serikat dan Eropa yang saat ini digunakan oleh militer Ukraina.
Beberapa jenis persenjataan Barat yang menjadi fokus perhatian utama mereka adalah:
- Sistem peluncur roket multipel HIMARS buatan Amerika Serikat.
- Sistem pertahanan udara Patriot yang dikenal sangat efektif.
- Kendaraan tempur infanteri Marder kiriman pemerintah Jerman.
- Tank tempur utama (Main Battle Tank) Abrams milik Amerika Serikat.
Data-data mengenai senjata tersebut dikumpulkan untuk memahami kelemahan serta cara efektif guna menangkis serangan di medan tempur. Informasi ini sangat krusial bagi kedua negara dalam memperbarui strategi pertahanan maupun serangan mereka.
Sikap Netral Beijing yang Mulai Diragukan
Selama ini, pemerintah China selalu menegaskan posisi mereka sebagai pihak netral dalam konflik Rusia dan Ukraina. Namun, temuan terbaru ini justru memperkuat dugaan bahwa Beijing memberikan dukungan yang lebih besar dari yang diakui secara resmi.
Negara-negara Barat telah berulang kali melayangkan kritik keras terhadap kebijakan perdagangan China. Beijing diketahui tetap memasok komponen "dual-use" atau barang yang bisa digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer ke Rusia.
Daftar barang kebutuhan ganda yang banyak diekspor China ke Rusia meliputi:
| Kategori Barang | Kegunaan Militer Potensial |
|---|---|
| Semikonduktor | Sistem kendali senjata dan navigasi drone. |
| Motor Listrik Kecil | Penggerak mesin drone dan perangkat elektronik tempur. |
| Komponen Elektronik | Perbaikan sistem komunikasi dan radar militer. |
Tabel di atas merangkum jenis barang yang dikirim China dan kontribusinya terhadap kemampuan industri pertahanan Rusia. Hal inilah yang memicu kekhawatiran global mengenai peran terselubung China dalam memperpanjang konflik di Ukraina.
Sejak invasi besar-besaran dimulai pada tahun 2022, Beijing memang menolak untuk mengecam tindakan militer Moskwa. Di sisi lain, Rusia kini sangat bergantung pada China sebagai pasar utama ekspor minyak mereka akibat sanksi ekonomi Barat.
Ketergantungan ekonomi dan dukungan militer yang semakin terbuka ini menciptakan blok kekuatan baru di panggung geopolitik. Hubungan yang kian mesra antara Vladimir Putin dan Xi Jinping diprediksi akan terus menjadi tantangan besar bagi stabilitas keamanan global.