IHSG Anjlok 8,69%, Asing Malah Borong Saham MDKA hingga ADRO di 2026

IHSG Anjlok 8,69%, Asing Malah Borong Saham MDKA hingga ADRO di 2026
Foto: IHSG Anjlok 8,69%, Asing Malah Borong Saham MDKA hingga ADRO di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rapor merah dengan pelemahan signifikan sebesar 8,69% sepanjang periode perdagangan 2 hingga 5 Juni 2026. Kondisi pasar modal Indonesia ini sangat dipengaruhi oleh aksi jual masif yang dilakukan oleh investor asing dalam kurun waktu sepekan.

Meskipun tekanan jual melanda pasar secara luas, minat investor global terhadap beberapa saham emiten dalam negeri ternyata tidak sepenuhnya padam. Beberapa saham di sektor sumber daya alam justru menjadi target koleksi investor asing di tengah tren penurunan indeks tersebut.

Daftar Saham Incaran Investor Asing

Berdasarkan data yang dihimpun dari RTI Infokom, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) menempati posisi teratas sebagai saham yang paling banyak diborong asing. Saham emiten tambang ini mencatatkan nilai beli bersih (net foreign buy) mencapai Rp373,8 miliar selama sepekan.

Posisi berikutnya ditempati oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) dengan torehan net buy asing sebesar Rp218,5 miliar. Selain itu, emiten batu bara PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) juga masuk dalam radar investor mancanegara dengan nilai beli Rp206,8 miliar.

Beberapa emiten lain yang juga mencatatkan akumulasi beli bersih oleh investor asing meliputi:

  • PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan nilai aksi beli mencapai Rp203 miliar.
  • PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang mencatatkan perolehan senilai Rp186,6 miliar.
  • PT Timah Tbk. (TINS) dengan torehan nilai transaksi beli Rp171,8 miliar.
  • PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang diborong asing dengan nilai Rp122,1 miliar.
  • PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) dengan total aksi beli Rp99,5 miliar.
  • PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) melalui akumulasi beli Rp70,4 miliar.
  • PT Indika Energy Tbk. (INDY) dengan pencapaian net foreign buy Rp64,2 miliar.
  • PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang mencatatkan transaksi beli senilai Rp57,9 miliar.
  • PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) dengan perolehan aksi beli Rp54 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan energi masih menjadi pilihan utama bagi investor luar negeri. Meskipun begitu, akumulasi beli ini tidak serta-merta membuat harga saham-saham tersebut menguat di pasar.

Dampak Penurunan IHSG terhadap Pergerakan Saham

Meskipun tercatat mengalami beli bersih oleh asing, mayoritas harga saham di atas justru bergerak melemah mengikuti arus IHSG. Tekanan pasar yang sangat kuat membuat nilai saham para emiten tersebut tetap terkoreksi dalam kurun waktu satu minggu terakhir.

Sebagai contoh, saham MDKA mengalami koreksi sebesar 0,77% hingga berakhir di level Rp2.570 per lembar saham. Penurunan lebih tajam dialami oleh saham EMAS yang merosot 5,13% ke angka Rp7.400, serta ADRO yang melemah 2,61% menuju level Rp2.240.

Kondisi yang jauh lebih berat dialami oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang harganya anjlok hingga 17,26% ke level Rp139. Hal ini membuktikan bahwa aksi beli asing belum cukup kuat untuk menahan sentimen negatif yang sedang menyelimuti pasar modal domestik.

Secara keseluruhan, IHSG harus puas ditutup melemah 8,69% dalam pekan ini dengan total aksi jual bersih asing mencapai Rp7,38 triliun. Angka ini memperpanjang tren negatif investor asing sepanjang tahun 2026 yang akumulasinya telah mencapai Rp61,36 triliun.

Laporan Resmi dari Bursa Efek Indonesia

Kautsar Primadi Nurahmad, selaku Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, menjelaskan bahwa kinerja pasar modal dalam sepekan terakhir menunjukkan data yang bervariasi. Ia mengonfirmasi adanya perubahan level indeks yang cukup drastis dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

IHSG kini berada pada posisi 5.594,765, turun cukup jauh dari posisi penutupan pekan lalu yang sempat menyentuh angka 6.127,381. Penurunan indeks secara otomatis berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Berikut adalah ringkasan perbandingan data perdagangan saham selama sepekan terakhir:

Indikator Pasar Pekan Lalu Pekan Ini Perubahan (%)
Level IHSG 6.127,381 5.594,765 -8,69%
Kapitalisasi Pasar (Triliun) Rp10.729 Rp9.807 -8,59%
Frekuensi Harian (Juta Kali) 2,11 2,41 +14,11%
Volume Harian (Miliar Lembar) 30,95 33,63 +8,66%
Nilai Transaksi (Triliun) Rp28,38 Rp26,97 -5,71%

Data di atas memperlihatkan bahwa meskipun harga saham berguguran, aktivitas transaksi di bursa justru mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Investor terlihat lebih aktif melakukan perdagangan meskipun nilai transaksinya mengalami sedikit penurunan dibanding periode sebelumnya.

Jika ditarik lebih jauh ke awal tahun 2026, kondisi pasar modal saat ini memang sedang mengalami tekanan yang sangat hebat. Pada pembukaan tahun tanggal 2 Januari 2026, IHSG sempat berada di level 8.748,13 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp16.014 triliun.

Dengan demikian, kapitalisasi pasar BEI telah terpangkas sekitar Rp6.207 triliun atau setara dengan 38,8% sejak awal tahun. Hal ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh para pelaku pasar di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi yang terjadi saat ini.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data berita terkait dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen saham tertentu. Keputusan untuk melakukan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing pembaca.

Artikel terkait

Rekomendasi