Gultik Blok M: Kuliner Legendaris Jakarta yang Tetap Murah di Tahun 2026

Gultik Blok M: Kuliner Legendaris Jakarta yang Tetap Murah di Tahun 2026
Foto: Gultik Blok M: Kuliner Legendaris Jakarta yang Tetap Murah di Tahun 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Blok M memang dikenal sebagai surga kuliner di Jakarta dengan beragam pilihan yang menggugah selera di setiap sudut jalannya. Pengunjung bisa menemukan berbagai macam rasa yang memanjakan lidah dengan cara yang berbeda-beda.

Namun, jika Anda berjalan ke arah tikungan Jalan Mahakam menuju Taman Ayodya, akan terlihat pemandangan yang sangat ikonik. Di sana berderet para penjual gulai tikungan atau yang lebih populer dengan sebutan gultik.

Para pedagang ini telah menjadi ciri khas kawasan Blok M sejak tahun 1980-an dengan karakteristik dagangan yang hampir serupa. Mereka menggunakan gerobak pikul, panci besar, serta tumpukan piring yang terlindungi oleh payung lebar.

Di depan gerobak, biasanya tersedia meja kecil dengan beberapa kursi plastik yang sering kali penuh sesak oleh pembeli. Kuliner legendaris ini selalu menjadi andalan banyak orang selama puluhan tahun, baik karena rasanya maupun harganya yang bersahabat.

Sejarah dan Perjalanan Gultik dari Masa ke Masa

Sejak empat dekade lalu, gultik sudah mengukuhkan posisinya sebagai kuliner malam favorit di kawasan Jakarta Selatan. Biasanya, para pedagang baru mulai terlihat menata dagangan mereka saat sore hari menjelang petang.

Meskipun mayoritas baru aktif di malam hari, beberapa penjual sudah mulai melayani pelanggan sejak pukul 16.00 WIB. Salah satunya adalah Gultik Pak Kumis yang saat ini dikelola oleh beberapa orang pegawai.

Ade Heri, pria berusia 35 tahun yang bekerja di Gultik Pak Kumis, menceritakan sedikit sejarah usaha tersebut. Lapak tempatnya bekerja tepat berada di persimpangan Jalan Mahakam-Bulungan dan sudah ada sejak tahun 1980-an.

Ia mengisahkan bahwa dahulu kawasan Blok M dikenal sebagai area yang cukup keras dan sering terjadi aksi tawuran. Namun, para pedagang tetap gigih bertahan dan berjuang mencari nafkah di lokasi yang kini menjadi pusat kuliner tersebut.

Seiring berjalannya waktu, area ini resmi menjadi sentra gultik setelah para pedagang mendapatkan izin dari pihak kelurahan setempat. Keberadaan mereka yang terkumpul di satu titik memudahkan pelanggan untuk memilih lapak mana saja.

Berdasarkan berbagai informasi, kuliner ini sebenarnya dipelopori oleh para perantau asal Sukoharjo, Jawa Tengah. Mereka membawa resep gulai khas Solo yang kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan selera warga ibu kota.

Nama "gulai tikungan" sendiri muncul karena posisi para pedagang yang hampir selalu menempati sudut-sudut tikungan jalan. Sebutan gultik ini mulai sangat populer dan melekat di ingatan masyarakat sejak memasuki era 1990-an.

Menurut Ade, rasa gultik memiliki perbedaan yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan gulai pada umumnya. Ia menjelaskan bahwa bumbu yang digunakan jauh lebih lengkap dan kompleks untuk menciptakan cita rasa yang khas.

Beberapa rempah utama yang menjadi rahasia kelezatan gultik antara lain adalah:

  • Potongan lengkuas dan jahe untuk aroma segar.
  • Batang serai dan kayu manis sebagai penambah wangi.
  • Gula merah untuk menyeimbangkan rasa gurih.
  • Lada putih untuk memberikan sensasi hangat di tenggorokan.

Kombinasi bumbu-bumbu tersebut menghasilkan kuah yang tidak terlalu kental namun memiliki kedalaman rasa rempah yang kuat. Hal inilah yang membuat pelanggan selalu kembali meski pilihan makanan lain di Blok M sangat banyak.

Cita Rasa dan Pengalaman Menikmati Gultik

Satu porsi gultik dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni hanya Rp10.000 saja. Dengan harga tersebut, pembeli sudah mendapatkan nasi, irisan daging, tetelan, taburan bawang goreng, serta siraman kuah gulai encer dan kerupuk.

Di setiap meja, tersedia botol kecap dan sambal cair bagi mereka yang ingin menyesuaikan rasa sesuai selera masing-masing. Tersedia juga piring berisi aneka sate-satean yang bisa dipilih sebagai teman makan nasi gulai.

Pilihan satenya pun beragam, mulai dari sate telur puyuh, sate usus, hingga sate ati ampela yang masing-masing dihargai Rp5.000 per tusuk. Untuk minuman, tersedia teh botol atau air mineral dengan harga yang sama murahnya.

Ketika kuahnya dicicipi, aroma rempahnya tidak terlalu tajam namun memberikan kejutan rasa saat sudah menyentuh lidah. Ada perpaduan rasa manis yang tipis dengan kehangatan rempah yang menusuk namun tetap terasa nyaman.

Tekstur dagingnya pun tergolong sangat empuk dan tidak sulit saat dikunyah oleh pelanggan. Hal ini dikarenakan proses perebusan yang memakan waktu cukup lama serta teknik penyajian daging yang diiris secara tipis-tipis.

Cara menikmati kerupuknya pun beragam, ada yang lebih suka memakannya dalam kondisi renyah di akhir suapan. Namun, banyak juga yang memilih merendam kerupuk di dalam kuah hingga layu agar rasa gulainya meresap sempurna.

Karena porsi gultik dikenal cukup kecil, kehadiran sate-satean berfungsi sebagai tambahan agar perut terasa lebih kenyang. Porsi minimalis ini justru seringkali membuat pembeli tidak cukup hanya memesan satu piring saja.

Bagi mereka yang menyukai makanan bersantan namun tidak ingin merasa enek, gultik adalah pilihan yang tepat. Kuahnya yang cenderung encer membuatnya terasa lebih ringan di perut dibandingkan gulai kental khas rumah makan Padang.

Harga Murah Sebagai Magnet Utama Pelanggan

Meski selera rasa bersifat subjektif, faktor utama yang membuat gultik tetap eksis hingga sekarang adalah harganya. Kuliner ini sering kali menjadi penyelamat bagi mereka yang ingin makan enak di saat kondisi keuangan sedang menipis.

Jojo, seorang pria berusia 59 tahun, merupakan salah satu pelanggan setia yang sudah mengenal gultik sejak tahun 1989. Ia menyebutkan bahwa sejak dulu gultik memang dikenal sebagai makanan daging-dagingan yang paling murah di kawasan tersebut.

Ia bahkan memiliki kenangan tersendiri dengan tempat ini sejak masa muda hingga kini telah berkeluarga. Jojo menceritakan bahwa ia sering membawa istri dan anak-anaknya untuk makan di sini karena lokasinya yang tak jauh dari rumah mertua.

Dahulu, Jojo mengaku sanggup menghabiskan dua sampai tiga piring gultik dalam sekali duduk karena porsinya yang mungil. Namun sekarang, ia merasa cukup dengan satu piring saja ditambah beberapa tusuk sate pendamping.

Ia juga mencatat adanya perubahan dalam penyajian gultik dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Menurutnya, sate-satean yang kini berjejer di meja dulunya tidak ada dan baru mulai muncul di tahun-tahun belakangan.

Hal senada disampaikan oleh Fitri, pembeli berusia 37 tahun yang sudah berlangganan gultik sejak masa kuliahnya di tahun 2009. Baginya, harga Rp10.000 sangat masuk akal bagi kantong mahasiswa yang ingin jajan enak.

Fitri juga mengamati bahwa jumlah penjual gultik di Blok M kini jauh lebih banyak dibandingkan masa lalunya. Dulu pusatnya hanya di sekitar Barito, namun kini penjual memenuhi jalanan dari Bulungan hingga ujung Taman Ayodya.

Tantangan Ekonomi dan Penurunan Penjualan

Meskipun harganya tetap dipertahankan di angka Rp10.000, para pedagang merasakan adanya tantangan berat dalam beberapa tahun terakhir. Ade Heri mengakui bahwa volume penjualan mengalami penurunan yang cukup terasa dibandingkan masa lalu.

Dahulu, pembeli biasanya sudah mulai ramai sejak sore hari begitu lapak baru saja dibuka. Namun sekarang, suasana ramai baru benar-benar terlihat setelah waktu Magrib atau saat malam sudah mulai larut.

Ade berpendapat bahwa penurunan ini bukan disebabkan oleh perubahan selera masyarakat terhadap gultik. Menurut pengamatannya, faktor ekonomi yang sedang sulit menjadi alasan utama mengapa orang-orang kini lebih menahan diri untuk jajan.

Berikut adalah perbandingan data penjualan gultik berdasarkan pengamatan Ade Heri di lapangan:

Periode Waktu Rata-rata Penjualan Nasi (Liter) Keterangan Waktu Ramai
Dahulu (Masa Kejayaan) 8 - 10 Liter per hari Ramai sejak sore hari
Kini (Hari Biasa) 5 Liter per hari Ramai setelah Magrib
Kini (Kamis - Jumat) 6 Liter per hari Peningkatan tipis menjelang akhir pekan

Data di atas menunjukkan adanya penyusutan volume penjualan nasi yang cukup signifikan dalam operasional harian para pedagang gultik. Meski demikian, mereka tetap berusaha bertahan di tengah dinamika ekonomi yang tidak menentu.

Walaupun jumlah literan nasi yang terjual menurun, Ade mengaku usahanya tetap bisa berjalan tanpa mengalami kerugian. Pendapatan yang ia peroleh setiap harinya masih dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di rumah.

Ia bahkan sempat berkelakar mengenai menu yang mereka tawarkan dengan istilah "KKN" atau kurang-kurang nambah. Istilah ini merujuk pada porsi gultik yang kecil sehingga memicu pelanggan untuk memesan piring kedua atau ketiga.

Keunikan porsi dan harga yang konsisten inilah yang membuat Gultik Blok M tetap memiliki tempat istimewa di hati warga Jakarta. Hingga kini, tikungan Jalan Mahakam tetap menjadi saksi bisu perjuangan para pedagang kuliner legendaris ini.

Artikel terkait

Rekomendasi