Gucci Sulap Times Square Jadi Runway, Paris Hilton dan Tom Brady Tampil Memukau

Gucci Sulap Times Square Jadi Runway, Paris Hilton dan Tom Brady Tampil Memukau
Foto: Ilustrasi Gucci Sulap Times Square Jadi Runway, Paris Hilton dan Tom Brady Tampil Memukau.
Ukuran teks

Kawasan Times Square di New York yang biasanya dipadati wisatawan mendadak berubah menjadi panggung mode spektakuler pada Sabtu malam, 16 Mei 2026. Lapangan ikonik yang dikelilingi oleh cahaya lampu dan videotron raksasa tersebut disulap menjadi runway untuk memamerkan koleksi Gucci Cruise terbaru.

Koleksi ini merupakan karya perdana dari Demna Gvasalia dalam kapasitasnya sebagai Direktur Kreatif baru rumah mode asal Italia tersebut. Perhelatan busana yang megah ini juga disiarkan secara langsung melalui berbagai papan reklame besar di sekitar lokasi acara.

Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang hubungan Gucci dengan Manhattan. Kota ini merupakan tempat pertama kalinya Gucci membuka butik di luar Italia pada tahun 1953 silam.

Demna memperkenalkan koleksi bertajuk "Gucci Core" yang ia deskripsikan sebagai sebuah momen kembalinya identitas asli merek tersebut. Ia menegaskan ambisinya untuk menghadirkan sesuatu yang terasa mustahil dengan menempatkan Gucci tepat di jantung kota metropolitan dunia.

Deretan Pesohor di Atas Runway Times Square

Kemeriahan acara semakin memuncak ketika sejumlah tokoh ternama muncul di atas panggung sebagai model utama untuk memperagakan busana rancangan Demna. Mulai dari supermodel legendaris era 90-an Cindy Crawford hingga mantan atlet football kenamaan, Tom Brady, turut beraksi di runway.

Paris Hilton, yang dikenal sebagai pengusaha sekaligus DJ, juga tampil mencuri perhatian dengan membawakan berbagai koleksi busana yang variatif. Ia mengenakan mulai dari setelan bisnis yang formal, mantel trench, hingga gaun panjang yang anggun dan elegan.

Sederet tokoh penting dunia mode dan hiburan internasional terlihat mengisi barisan kursi penonton untuk menyaksikan pertunjukan bersejarah ini. Nama-nama besar seperti Anna Wintour dan penyanyi legendaris Mariah Carey tampak hadir memberikan dukungan mereka.

Representasi selebritas dari Asia juga cukup kuat, seperti aktor asal China, Zhang Linghe, yang dikenal lewat perannya sebagai Jenderal Xie Zheng. Selain itu, aktris populer asal Thailand, Davika Hoorne, juga hadir memukau dengan balutan setelan berwarna merah menyala.

Demna menjelaskan bahwa variasi dalam koleksi ini merupakan representasi dari keragaman gaya yang sering berpapasan di jalanan kota. Ia ingin menghadirkan busana yang mencerminkan realitas sosial dan gaya hidup masyarakat perkotaan yang dinamis.

Sentuhan Unik Demna untuk Koleksi Cruise

Koleksi Cruise kini tidak lagi sekadar pakaian untuk berlibur, melainkan sarana bagi merek mewah untuk membangun narasi geografis yang kuat. Pertunjukan ini pun digelar di luar jadwal kalender mode dua tahunan yang biasanya dilakukan di pusat mode dunia.

Dalam wawancara dengan WWD, Demna mengungkapkan usahanya untuk merangkum seluruh ekosistem bisnis Gucci ke dalam pertunjukan tersebut. Ia mencoba memasukkan elemen dari berbagai lini, mulai dari Gucci Gym, Gucci Pets, hingga layanan kesehatan Gucci Life.

Beberapa lini bisnis yang turut diintegrasikan dalam konsep pertunjukan ini adalah:

  • Gucci Aqua dan koleksi perlengkapan olahraga dari lini Gucci Gym.
  • Konsep hunian mewah yang diwakili oleh Palazzo Gucci Hotel.
  • Lini produk untuk hewan peliharaan melalui divisi Gucci Pets.
  • Inovasi di bidang kesehatan dan gaya hidup melalui suplemen Gucci Life.

Integrasi berbagai elemen ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Gucci adalah merek yang unik dan memiliki sisi menyenangkan tanpa harus terlihat konyol. Demna merasa perlu memecah keharmonisan yang terlalu kaku untuk memberikan kejutan baru bagi para pecinta mode.

Ia menganalogikan setiap tontonan sebagai gangguan yang menarik perhatian orang, selaras dengan karakter Times Square yang penuh dengan pesan komersial. Koleksi ini sangat menekankan pada konsep "Gucci Core" yang menawarkan pakaian dasar namun diinterpretasikan ulang.

Setiap busana dirancang agar sesuai dengan karakter masyarakat New York yang beragam dan memiliki selera yang luas. Pengunjung dapat melihat mantel panjang maupun pendek, serta setelan jas bergaya 90-an yang memiliki potongan ketat atau longgar.

Fokus pada Kebutuhan Pakaian Dasar Pelanggan

Koleksi ini menampilkan model-model yang berpenampilan layaknya pebisnis profesional dengan setelan jas motif garis yang dijahit khusus. Penampilan mereka semakin lengkap dengan tas jinjing berlogo baru atau ransel berukuran besar yang sangat fungsional.

Ada pula segmentasi gaya yang menggambarkan wanita kelas atas saat sedang berbelanja dengan pakaian berbahan kulit domba yang mewah. Mereka tampil modis sambil membawa ponsel, matras yoga, hingga buket bunga sebagai pelengkap aktivitas sehari-hari di kota besar.

Demna menyebut bahwa koleksi ini sebenarnya adalah hal-hal yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia dalam berpakaian. Namun, ia menyadari bahwa barang-barang esensial seperti ini justru sering kali sulit ditemukan di butik Gucci sebelumnya.

Ia mengibaratkan koleksi terbarunya sebagai sebuah kosa kata dalam berpakaian yang bisa disusun sesuai keinginan penggunanya. Pelanggan diberi kebebasan untuk merangkai gaya mereka sendiri menggunakan "kata-kata" atau item busana yang telah disediakan.

Beberapa item kunci yang menarik perhatian dalam koleksi kali ini meliputi:

  • Mantel wol Inggris berwarna merah yang materialnya serupa dengan seragam Pengawal Kerajaan Inggris.
  • Jaket kulit model cropped yang dipadukan dengan rok mini atau rok pensil bergaya sensual.
  • Mantel kulit khas maskapai Flora dari era 60-an yang dilukis tangan dengan detail bertema balap.
  • Eksplorasi gaya yang mengacu pada masa keemasan Tom Ford saat memimpin rumah mode ini.

Rangkaian busana ini dianggap sangat cocok untuk digunakan di lingkungan manapun, terutama di kota metropolitan seperti New York. Demna berhasil memadukan sejarah masa lalu dengan kebutuhan modern masyarakat perkotaan saat ini.

Strategi Gucci dalam Memulihkan Penjualan

Keputusan Gucci menggelar acara besar di Amerika Serikat sejalan dengan tren merek mewah Eropa lainnya yang sedang membidik pasar Amerika Utara. Langkah ini diambil sebagai salah satu strategi untuk memacu pertumbuhan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sebelumnya, Christian Dior juga melakukan hal serupa dengan meluncurkan koleksi Cruise mereka di Los Angeles pada bulan yang sama. Pertunjukan di Times Square ini juga menjadi kelanjutan dari debut sukses Demna di Milan pada awal tahun 2026.

Desainer kelahiran Georgia ini memiliki rekam jejak yang mengesankan dengan menghabiskan sepuluh tahun di Balenciaga. Ia resmi ditunjuk menjadi Direktur Kreatif Gucci pada Juli tahun lalu untuk menggantikan posisi Sabato De Sarno.

Berikut adalah ringkasan performa dan latar belakang perubahan manajerial di tubuh Gucci:

Aspek Informasi Detail Keterangan
Direktur Kreatif Saat Ini Demna Gvasalia (Mulai Juli 2025)
Direktur Kreatif Sebelumnya Sabato De Sarno (Menjabat selama 2 tahun)
Kinerja Penjualan Q1 2026 Mengalami penurunan sebesar 8 persen
Faktor Eksternal Penghambat Ketegangan politik di Iran dan penurunan turis Timur Tengah
Target Strategis Transformasi kreatif untuk pemulihan keuntungan Kering

Merek Gucci memegang peran krusial karena menyumbang sebagian besar keuntungan bagi grup konglomerat mewah asal Prancis, Kering. Oleh karena itu, penunjukan Demna diharapkan mampu membawa perubahan kreatif yang signifikan bagi masa depan label tersebut.

Meskipun sedang menghadapi tantangan penurunan penjualan, pihak Kering optimis bahwa hasil kuartalan ini adalah langkah awal menuju pemulihan. Fokus mereka kini tertuju pada inovasi desain yang mampu menarik kembali minat para pembeli internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi