Gara-gara Getok Harga Hotel, Fans BTS Ogah Menginap di Busan 2026 Terbaru

Gara-gara Getok Harga Hotel, Fans BTS Ogah Menginap di Busan 2026 Terbaru
Foto: Gara-gara Getok Harga Hotel, Fans BTS Ogah Menginap di Busan 2026 Terbaru. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Praktik "getok harga" yang dilakukan oleh sejumlah penyedia penginapan di Busan tengah menjadi sorotan tajam. Situasi ini sangat menyulitkan para penggemar yang berencana menonton konser BTS pada pertengahan Juni 2026 mendatang.

Konser yang dijadwalkan berlangsung pada 12 hingga 13 Juni 2026 tersebut memiliki makna spesial bagi para penggemar. Selain merayakan hari jadi debut ke-13 grup tersebut, momen ini menjadi penampilan perdana mereka setelah kembali secara penuh pada Maret lalu.

Antusiasme tinggi dari penggemar lokal maupun mancanegara sayangnya dimanfaatkan secara sepihak oleh pemilik akomodasi. Banyak laporan menyebutkan bahwa tarif kamar melonjak drastis hingga berkali-kali lipat dari harga normal.

Melansir data dari Badan Konsumen Korea pada Jumat (29/5/2026), rata-rata tarif penginapan naik hingga 7,5 kali lipat. Temuan ini didapatkan berdasarkan berbagai aduan masyarakat yang merasa dirugikan oleh kebijakan harga tersebut.

Modus operandi yang digunakan pemilik penginapan pun beragam demi meraup keuntungan instan. Ada yang tega membatalkan pesanan lama pelanggan dengan alasan renovasi atau pemesanan ganda yang tidak masuk akal.

Setelah pesanan dibatalkan secara sepihak, kamar tersebut kemudian dijual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi. Praktik tidak sehat ini memaksa para penggemar untuk memutar otak demi mendapatkan tempat beristirahat yang terjangkau.

Banyak penggemar akhirnya memutuskan untuk mencari alternatif akomodasi di luar wilayah Busan. Hal ini dilakukan demi menghindari biaya menginap yang dianggap sudah tidak masuk akal dan mencekik kantong.

Salah satu penggemar yang terdampak adalah Eunice, seorang guru asal Filipina yang sengaja terbang ke Korea Selatan. Ia mengaku terkejut saat melihat harga sewa di platform Airbnb melonjak hingga sepuluh kali lipat dari tarif biasanya.

Akibat kondisi tersebut, Eunice memilih untuk menginap di Kota Ulsan yang terletak di sisi timur laut Busan. Ia hanya akan berada di Ulsan sesaat sebelum konser dimulai dan menghabiskan sisa waktunya di Seoul.

Eunice merasa sangat kecewa dengan perilaku para pemilik akomodasi di Busan yang dianggap tidak ramah wisatawan. Sebagai penggemar, ia bahkan berharap agar idolanya tidak lagi menggelar acara di kota tersebut di masa depan.

Ia menambahkan bahwa perilaku ini sangat tidak adil bagi Busan sebagai sebuah destinasi wisata yang sebenarnya menarik. Rasa kecewa ini muncul karena perbandingan layanan yang sangat kontras dengan kota lain.

Perbandingan Biaya dan Keluhan Wisatawan

Eunice memberikan perbandingan menarik saat BTS menggelar konser gratis di Seoul beberapa waktu lalu. Menurut pengamatannya, harga penginapan di ibu kota saat itu tetap stabil dan tidak mengalami lonjakan gila-gilaan.

Hal senada disampaikan oleh Verena Thiel, seorang mahasiswa asal Jerman yang kini menetap di Korea Selatan. Ia harus merogoh kocek hingga enam kali lipat untuk menginap di sebuah kamar Airbnb di Busan.

Berikut adalah detail perbandingan harga akomodasi yang dialami oleh para penggemar di Busan:

  • Kamar Airbnb Standar: Harga normal sekitar 77.000 won (Rp 921 ribu) melonjak menjadi 467.000 won (Rp 5,6 juta) per malam.
  • Kamar Hotel Menengah: Tarif yang dipatok oleh penyedia hotel mencapai angka 1 juta won atau setara dengan Rp 12 juta.
  • Layanan Pemerintah: Penginapan alternatif di kuil dan pusat pemuda yang disediakan pemerintah Busan langsung ludes terjual dalam waktu singkat.

Kenaikan harga yang sangat drastis ini dinilai tidak masuk akal meskipun terjadi pada musim puncak kunjungan. Thiel merasa peningkatan hingga ratusan ribu won adalah bentuk pemerasan terhadap para penggemar yang ingin memberikan dukungan.

Situasi ini semakin memperburuk citra Busan di mata para ARMY, sebutan bagi penggemar setia BTS. Sebagai informasi, kota ini sudah tiga kali menjadi lokasi acara besar BTS, yaitu pada tahun 2019, 2022, dan kini tahun 2026.

Pemerintah setempat menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan pelanggaran hukum. Fokus penyelidikan tertuju pada Undang-Undang Pengendalian Kesehatan Masyarakat yang mengatur standar layanan akomodasi.

Reaksi Tegas dari Anggota BTS

Masalah getok harga ini rupanya sampai ke telinga para anggota BTS dan memicu kemarahan mereka. Mereka menyayangkan adanya pihak-pihak yang mencoba mencari keuntungan tidak wajar di tengah kegembiraan para penggemar.

Dalam sebuah siaran langsung setelah tampil di Las Vegas pada 26 Mei 2026, RM memberikan kritik pedasnya. Ia mengaku banyak mendengar kabar tidak mengenakkan mengenai tarif hotel yang sangat mahal menjelang konser Busan.

RM mengimbau agar para pelaku usaha di Busan berpikir jangka panjang dalam menjalankan bisnis mereka. Ia mengingatkan bahwa citra Busan sebagai kota yang keren seperti "Miami-nya Korea" harus tetap dijaga dengan baik.

Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Jimin, yang merupakan putra daerah asli kelahiran Busan. Ia menegaskan bahwa momen konser seharusnya menjadi kenangan yang menyenangkan bagi setiap pengunjung yang datang.

Jimin mengingatkan bahwa meski uang adalah hal penting, tindakan menaikkan harga secara ekstrem adalah hal yang keterlaluan. Ia ingin para penggemar pulang dengan perasaan bahagia, bukan terbebani oleh biaya hidup yang mahal.

Jungkook, yang juga berasal dari Busan, memberikan reaksi yang tidak kalah keras terhadap fenomena ini. Dengan singkat dan tegas, ia meminta para pemilik penginapan untuk segera menghentikan praktik tersebut.

Ringkasan tanggapan anggota BTS terkait masalah kenaikan harga akomodasi:

  • RM (Leader): Meminta pelaku usaha berpikir jangka panjang dan tidak merusak citra kota yang keren.
  • Jimin: Menekankan pentingnya kenyamanan penggemar di atas ambisi mengejar keuntungan materiil semata.
  • Jungkook: Memberikan teguran keras agar praktik getok harga segera dihentikan karena sudah melampaui batas wajar.

RM mengakui bahwa seluruh anggota grup merasa frustrasi karena mereka tidak memiliki wewenang langsung untuk mengatasi masalah ini. Mereka sangat ingin membantu para penggemar, namun penyelesaian masalah ini sepenuhnya ada di tangan otoritas setempat.

Meskipun perbedaan harga antara musim ramai dan sepi adalah hal lumrah, RM tetap meminta adanya kewajaran. Jangan sampai keinginan menyukseskan acara justru dirusak oleh keserakahan yang merugikan banyak pihak.

Artikel terkait

Rekomendasi