Kalimantan Timur dikenal sebagai pilar utama industri batubara di Indonesia dengan kontribusi ekspor mencapai 33 persen secara nasional. Berdasarkan data BPS 2024, nilai ekspor komoditas ini menyentuh angka fantastis sebesar Rp414 triliun.
Meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan akses energi. Sejumlah wilayah di provinsi ini ternyata masih berjuang mendapatkan pasokan listrik yang stabil untuk kehidupan sehari-hari.
Potret Perjuangan Energi dalam Film Pelita Asa
Kesenjangan energi ini diangkat secara mendalam melalui film dokumenter berjudul Pelita Asa yang diproduksi oleh Project CASE. Film ini menyoroti kehidupan warga mulai dari Dusun Donomulyo hingga Desa Muara Enggelam dalam menghadapi tantangan energi.
Desa Muara Enggelam menjadi salah satu titik fokus karena lokasinya yang terisolasi tanpa akses jalan darat. Kondisi geografis tersebut membuat pembangunan jaringan listrik konvensional dari pemerintah sangat sulit diwujudkan.
Dulu, penduduk setempat hanya bisa mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan durasi menyala yang terbatas. Listrik biasanya hanya tersedia pada waktu sore hingga malam hari, sehingga aktivitas warga terhambat di siang hari.
Kondisi sulit ini mendorong masyarakat untuk berinovasi secara mandiri demi memenuhi kebutuhan listrik mereka. Warga sepakat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal yang dikelola langsung oleh Badan Usaha Milik Desa (BumDes).
Aliansyah, Staf Kaur Keuangan Desa Muara Enggelam, menjelaskan bahwa kemandirian adalah pilihan terakhir karena keterbatasan jalur darat. Melalui PLTS, warga akhirnya bisa mendapatkan sumber energi yang paling relevan dengan letak geografis desa mereka.
Dampak Positif Listrik Mandiri bagi Ekonomi Desa
Kehadiran PLTS komunal membawa perubahan signifikan bagi roda perekonomian dan aktivitas sosial di Desa Muara Enggelam. Kini, listrik sudah tersedia pada siang hari sehingga produktivitas warga meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa manfaat nyata yang dirasakan masyarakat desa antara lain:
- Ibu rumah tangga kini dapat memanfaatkan berbagai peralatan elektronik untuk mempermudah pekerjaan domestik.
- Pelaku usaha kecil dan warung di desa mulai berkembang pesat berkat adanya pasokan listrik yang lebih stabil.
- Kualitas hidup masyarakat meningkat karena akses energi tidak lagi bergantung pada jadwal operasional mesin diesel.
- Kemandirian energi melalui BumDes menciptakan sistem tata kelola listrik yang lebih terjangkau bagi warga.
Keberhasilan Desa Muara Enggelam dalam mengelola PLTS menjadi bukti bahwa transisi energi bisa dimulai dari tingkat tapak. Inisiatif lokal ini sekaligus menjadi solusi konkret di tengah keterbatasan infrastruktur energi nasional.
Menuju Transisi Energi yang Berkeadilan
Transisi dari energi fosil ke energi bersih di Kalimantan Timur memiliki tantangan yang sangat kompleks. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan ekonomi dan lapangan kerja masyarakat yang masih sangat besar pada sektor batubara.
Yusuf Suryanto selaku Direktur di Kementerian PPN/Bappenas menekankan bahwa percepatan transisi energi merupakan agenda krusial. Langkah ini dianggap sebagai strategi utama untuk memperkuat ketahanan energi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Pemerintah memfokuskan transisi energi pada beberapa aspek penting berikut:
| Aspek Transisi | Tujuan Utama |
|---|---|
| Kualitas Pelayanan | Menyediakan akses energi yang andal dan stabil bagi seluruh warga. |
| Keadilan Sosial | Memastikan wilayah 3T mendapatkan hak energi yang sama dengan wilayah perkotaan. |
| Keberlanjutan | Mengalihkan sumber energi fosil ke sumber yang lebih bersih dan ramah lingkungan. |
Target pemerintah bukan hanya sekadar mengganti teknologi, melainkan meningkatkan standar hidup masyarakat secara menyeluruh. Dengan pelayanan energi yang bersih, diharapkan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
Yusuf juga mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi kesenjangan akses energi di wilayah pelosok. Film Pelita Asa diharapkan menjadi jembatan kesadaran bagi publik bahwa transisi energi harus dilakukan secara adil dan merata.