Demam Dracin 2026, Tren Busana Tradisional China Makin Banyak Dicari Turis

Demam Dracin 2026, Tren Busana Tradisional China Makin Banyak Dicari Turis
Foto: Demam Dracin 2026, Tren Busana Tradisional China Makin Banyak Dicari Turis. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kawasan wisata sejarah di Beijing, China, kini dipenuhi oleh pemandangan unik para wisatawan yang berpenampilan layaknya bangsawan dari masa kekaisaran kuno. Fenomena ini muncul akibat tren penggunaan busana tradisional yang kian digandrungi, mengubah wajah destinasi ikonik seperti Kota Terlarang menjadi panggung drama kolosal di dunia nyata.

Ledakan popularitas drama China (dracin) bertema sejarah menjadi faktor utama yang memicu antusiasme turis untuk bertransformasi menjadi kaisar atau permaisuri. Kondisi ini membawa berkah bagi para pelaku usaha penyewaan kostum dan jasa rias wajah yang menjamur di sekitar lokasi wisata.

Dampak Popularitas Drama Kolosal pada Sektor Wisata

Kehadiran para turis dengan jubah bersulam phoenix dan aksesori mewah kini menjadi pemandangan yang lazim di kawasan Forbidden City. Chen Jiao, seorang penata rias profesional, mengungkapkan bahwa jadwal kerjanya sangat padat, terutama saat memasuki musim liburan atau akhir pekan.

Setiap harinya, Chen mulai merias sejak pukul 6 pagi dan sanggup melayani hingga 24 pelanggan perempuan dalam sehari. Ia baru bisa beristirahat sejenak ketika area Kota Terlarang mulai ditutup bagi pengunjung umum.

Rincian biaya dan layanan yang ditawarkan untuk transformasi penampilan ini:

  • Paket Riasan Dasar: Biaya mulai dari 300 yuan atau sekitar Rp800 ribu untuk penataan rambut dan makeup sederhana.
  • Paket Eksklusif: Dapat mencapai lebih dari 1.000 yuan atau sekitar Rp2,6 juta tergantung pada kerumitan kostum dan aksesori.
  • Aksesori Pendukung: Penggunaan liontin giok, mutiara, hingga pelindung kuku emas khas bangsawan kuno.
  • Penataan Rambut: Rambut ditata mengikuti tren gaya rambut dari dinasti tertentu yang dipilih oleh pelanggan.

Setelah selesai berdandan, para wisatawan segera menuju titik-titik estetis di Kota Terlarang untuk mengabadikan momen melalui foto atau video. Menariknya, banyak pengunjung yang tetap memadukan unsur kuno dengan gaya modern, seperti memakai kacamata hitam, sepatu kets, hingga membawa minuman kekinian.

Kembalinya Minat Generasi Muda pada Budaya Leluhur

Tren ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan mencerminkan meningkatnya ketertarikan generasi muda Tiongkok terhadap akar sejarah mereka. Gaya busana yang paling diminati umumnya berasal dari Dinasti Ming dan Dinasti Qing, dua periode kekaisaran terakhir yang berpusat di Beijing.

Pendiri Hanfu Beijing, Cai Zehong, menjelaskan bahwa anak muda mulai menemukan pesona estetika dalam pakaian tradisional sambil mendalami warisan budaya yang kaya. Hal ini menunjukkan adanya rasa bangga terhadap identitas nasional yang dikemas melalui cara yang lebih modern.

Pertumbuhan Bisnis yang Pesat

Peningkatan jumlah studio kostum di sekitar objek wisata sejarah berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Media lokal mencatat bahwa pada tahun 2020, hanya ada sedikit studio yang beroperasi, namun kini jumlahnya telah melonjak berkali-kali lipat.

Aspek Keterangan Tren Busana Tradisional
Inspirasi Utama Drama kolosal China (dracin) dan sejarah kekaisaran.
Gaya Terpopuler Busana dari Dinasti Ming (elegan) dan Dinasti Qing.
Target Pasar Wisatawan domestik, generasi muda, dan mahasiswa.
Lokasi Utama Kota Terlarang (Forbidden City), Beijing.

Tabel di atas merangkum elemen-elemen penting yang mendorong pertumbuhan tren busana tradisional di kalangan wisatawan China saat ini. Pilihan busana sering kali disesuaikan dengan latar belakang lokasi agar menghasilkan perpaduan visual yang harmonis.

Liu Ruitong, seorang mahasiswa dari Hebei, menceritakan alasannya memilih gaun hitam bergaya Dinasti Ming untuk kunjungannya. Menurutnya, warna hitam memberikan kesan yang sangat elegan dan bermartabat, serta sangat serasi dengan atmosfer megah di Kota Terlarang.

Artikel terkait

Rekomendasi