Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mengungkapkan adanya kesenjangan yang sangat mencolok terkait jumlah penduduk miskin di berbagai ibu kota provinsi di Indonesia. Data tersebut menempatkan Kota Medan sebagai wilayah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi, sementara Pangkalpinang tercatat memiliki angka terendah.
Kondisi kemiskinan yang terjadi di pusat pemerintahan daerah ini memberikan gambaran nyata mengenai ketimpangan pembangunan yang masih menjadi persoalan besar. Pemerintah pusat maupun daerah kini menghadapi tantangan serius untuk meratakan kesejahteraan di wilayah yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi.
Analisis Ketimpangan Ekonomi di Kota Besar
Ibu kota provinsi memiliki peran strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pusat-pusat kota ini masih berjuang keras untuk meningkatkan taraf hidup seluruh lapisan masyarakatnya.
Berdasarkan data yang dirilis pada Selasa (12/5/2026), tingginya angka kemiskinan di kota-kota besar sangat dipengaruhi oleh fenomena urbanisasi yang masif. Arus penduduk yang datang dari desa ke kota terus meningkat tanpa disertai dengan ketersediaan lapangan kerja yang mencukupi.
Kota-kota besar seperti Medan, Palembang, dan Surabaya menjadi destinasi utama bagi para pendatang yang ingin mencari peruntungan hidup. Medan mencatatkan 171,60 ribu jiwa penduduk miskin, disusul Palembang dengan 162,31 ribu jiwa, dan Surabaya sebanyak 105,09 ribu jiwa.
Besarnya tekanan sosial-ekonomi di wilayah tersebut dipicu oleh ketidakmampuan sektor formal dalam menyerap ledakan jumlah pencari kerja. Akibatnya, banyak warga yang terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri modern di perkotaan.
Bahkan kota dengan basis industri dan perdagangan yang mapan seperti Bandung dan Semarang tetap memiliki persoalan kemiskinan struktural yang nyata. Di Bandung terdapat 99,12 ribu jiwa penduduk miskin, sementara Semarang mencatatkan angka 74,36 ribu jiwa.
Masalah utama di kota-kota tersebut berakar pada rendahnya kualitas sumber daya manusia serta sulitnya akses terhadap layanan sosial dasar. Hal ini menciptakan siklus kemiskinan yang sulit diputus jika tidak ada intervensi kebijakan yang tepat sasaran dari pemerintah setempat.
Perbandingan Wilayah dengan Angka Kemiskinan Rendah
Menariknya, data BPS 2025 menunjukkan bahwa dari 36 ibu kota provinsi yang tercatat, lebih dari separuhnya memiliki penduduk miskin di atas 20 ribu jiwa. Namun, ada pengecualian di beberapa wilayah, terutama di kawasan Kalimantan dan Kepulauan Bangka Belitung.
Pangkalpinang menjadi ibu kota dengan penduduk miskin paling sedikit, yakni hanya 9,99 ribu jiwa saja. Diikuti oleh Banjarbaru dengan 10,27 ribu jiwa dan Palangkaraya yang mencatatkan angka 11,16 ribu jiwa penduduk miskin.
Rendahnya angka kemiskinan di kota-kota tersebut mengindikasikan bahwa skala kota yang lebih kecil cenderung lebih mudah dikelola. Tekanan urbanisasi yang tidak terlalu ekstrem membuat pemerintah daerah lebih efektif dalam mengendalikan angka kemiskinan di wilayah mereka.
Berikut adalah daftar lengkap mengenai jumlah penduduk miskin di berbagai ibu kota provinsi di Indonesia berdasarkan data terbaru:
| No | Ibu Kota Provinsi | Penduduk Miskin (Ribu Jiwa) |
|---|---|---|
| 1 | Medan (Sumatera Utara) | 171,60 |
| 2 | Palembang (Sumatera Selatan) | 162,31 |
| 3 | Surabaya (Jawa Timur) | 105,09 |
| 4 | Bandung (Jawa Barat) | 99,12 |
| 5 | Bandar Lampung (Lampung) | 80,19 |
| 6 | Semarang (Jawa Tengah) | 74,36 |
| 7 | Makassar (Sulawesi Selatan) | 71,63 |
| 8 | Jayawijaya (Papua Pegunungan) | 61,64 |
| 9 | Jayapura (Papua) | 38,33 |
| 10 | Padang (Sumatera Barat) | 37,38 |
| 11 | Kupang (NTT) | 37,91 |
| 12 | Nabire (Papua Tengah) | 34,18 |
| 13 | Manokwari (Papua Barat) | 31,72 |
| 14 | Samarinda (Kalimantan Timur) | 30,45 |
| 15 | Yogyakarta (DI Yogyakarta) | 28,58 |
| 16 | Merauke (Papua Selatan) | 27,72 |
| 17 | Pontianak (Kalimantan Barat) | 27,50 |
| 18 | Bengkulu (Bengkulu) | 46,23 |
| 19 | Pekanbaru (Riau) | 39,16 |
| 20 | Sorong (Papua Barat Daya) | 41,39 |
| 21 | Serang (Banten) | 41,07 |
| 22 | Mataram (NTB) | 39,82 |
| 23 | Jambi (Jambi) | 47,21 |
| 24 | Ambon (Maluku) | 22,30 |
| 25 | Mamuju (Sulawesi Barat) | 22,48 |
| 26 | Manado (Sulawesi Utara) | 21,73 |
| 27 | Palu (Sulawesi Tengah) | 21,99 |
| 28 | Denpasar (Bali) | 23,20 |
| 29 | Kendari (Sulawesi Tenggara) | 18,38 |
| 30 | Banda Aceh (Aceh) | 15,87 |
| 31 | Tanjungpinang (Kepulauan Riau) | 13,47 |
| 32 | Gorontalo (Gorontalo) | 12,12 |
| 33 | Palangkaraya (Kalimantan Tengah) | 11,16 |
| 34 | Banjarbaru (Kalimantan Selatan) | 10,27 |
| 35 | Pangkalpinang (Bangka Belitung) | 9,99 |
| 36 | DKI Jakarta (Jakarta) | 464,87 |
Data di atas merangkum angka kemiskinan di berbagai wilayah pusat administrasi provinsi di seluruh Indonesia. Sebagai catatan tambahan, angka untuk DKI Jakarta mencakup seluruh wilayah provinsi secara kolektif.
Sementara itu, informasi untuk beberapa daerah seperti Tanjung Selor di Kalimantan Utara dan Sofifi di Maluku Utara belum tersedia secara terpisah dalam basis data BPS kali ini. Hal ini menunjukkan perlunya integrasi data yang lebih menyeluruh di masa mendatang.
Tantangan Pemerintah ke Depan
Melihat tingginya angka kemiskinan di beberapa ibu kota besar, pemerintah diharapkan mampu merancang kebijakan ekonomi yang lebih inklusif. Urbanisasi tidak boleh dibiarkan menjadi beban, melainkan harus dikelola agar menjadi peluang pertumbuhan ekonomi daerah.
Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi masyarakat urban menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan. Dengan SDM yang kompeten, penduduk di ibu kota provinsi diharapkan bisa lebih mandiri secara ekonomi dan keluar dari garis kemiskinan.
Program-program perlindungan sosial juga perlu terus dievaluasi agar benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan di kawasan padat penduduk. Penanganan kemiskinan di wilayah perkotaan membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan wilayah perdesaan karena karakteristik masalah yang lebih kompleks.
Dengan adanya data komprehensif dari BPS ini, setiap kepala daerah memiliki basis informasi yang kuat untuk mengambil keputusan. Diharapkan pada periode laporan berikutnya, angka kemiskinan di ibu kota provinsi dapat menunjukkan tren penurunan yang signifikan.