Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) merilis laporan terbaru yang mengungkapkan bahwa Iran masih menyimpan sekitar 70 persen dari total stok rudal pra-perangnya. Temuan ini sangat bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyatakan bahwa persenjataan Teheran kini hanya tersisa sebanyak 18 persen saja.
Laporan yang dikutip oleh media The Washington Post tersebut menjelaskan bahwa Iran telah mengaktifkan kembali mayoritas fasilitas penyimpanan bawah tanah mereka. Selain melakukan perbaikan terhadap unit rudal yang sempat mengalami kerusakan, Teheran bahkan dilaporkan telah memulai proses perakitan rudal-rudal baru di tengah situasi konflik.
Kontradiksi Penilaian Intelijen dan Klaim Pemerintah
Data dari intelijen ini mengindikasikan adanya celah kegagalan dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang bertujuan melemahkan pertahanan konvensional Iran. Upaya sekutu tersebut awalnya dirancang untuk menghalangi rezim Teheran dalam membangun kembali kekuatan nuklir mereka melalui perisai rudal yang kuat.
Sebelumnya, Trump di Oval Office dengan percaya diri menyebut bahwa kekuatan rudal Iran telah hancur dan hanya tersisa sekitar 18 hingga 19 persen dari kapasitas semula. Pernyataan tersebut kini dipertanyakan karena analisis CIA menunjukkan fakta yang jauh lebih solid mengenai ketahanan infrastruktur militer Iran di lapangan.
| Kategori Kapasitas Militer | Klaim Donald Trump | Penilaian CIA |
|---|---|---|
| Stok Rudal Tersisa | 18% - 19% | 70% |
| Inventaris Peluncur Mobile | Disebut Menurun Signifikan | 75% |
Ketahanan Infrastruktur dan Peluncur Mobile
Selain stok rudal, CIA mencatat bahwa Iran berhasil mempertahankan sekitar 75 persen dari total inventaris peluncur mobile yang digunakan untuk menembakkan proyektil. Angka tersebut membantah pernyataan Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang mengklaim kemampuan peluncuran rudal Iran telah merosot drastis akibat serangan bertubi-tubi.
Pihak Amerika Serikat meyakini bahwa strategi utama Iran adalah membangun perisai konvensional yang terdiri dari ribuan drone, roket, dan rudal sebagai perlindungan. Tujuannya adalah menciptakan sistem pertahanan yang sangat kuat sehingga pihak lawan tidak akan berani melakukan serangan langsung terhadap wilayah kedaulatan mereka.