Cegah Stunting, BKKBN Targetkan 1 Juta Keluarga Masuk Program GENTING 2026 Terbaru!

Cegah Stunting, BKKBN Targetkan 1 Juta Keluarga Masuk Program GENTING 2026 Terbaru!
Foto: Cegah Stunting, BKKBN Targetkan 1 Juta Keluarga Masuk Program GENTING 2026 Terbaru!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) terus berupaya mempercepat penurunan angka stunting di tanah air. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah menargetkan sekitar satu juta keluarga untuk bergabung dalam program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau GENTING.

Program GENTING dirancang khusus untuk menyasar Keluarga Risiko Stunting (KRS) yang berada pada kelompok desil satu atau kategori keluarga miskin. Fokus utamanya diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, serta anak-anak yang berada dalam periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Data Sasaran dan Prioritas Program

Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan BKKBN, Yuni Hastuningsih, mengungkapkan data terbaru berdasarkan hasil verifikasi Pendataan Keluarga 2025. Dari total 41,4 juta keluarga dengan kriteria tertentu, ditemukan sekitar 8,1 juta keluarga yang teridentifikasi berisiko stunting.

Setelah dilakukan penyaringan lebih lanjut, terdapat sekitar 1,05 juta keluarga yang masuk dalam kategori miskin ekstrem atau desil satu. Jumlah inilah yang kini menjadi prioritas utama pemerintah agar mendapatkan pendampingan intensif melalui program GENTING.

Berikut adalah rincian data keluarga yang menjadi fokus perhatian dalam program penanganan stunting:

  • Keluarga Pasangan Usia Subur: Total mencapai 41,4 juta keluarga di seluruh Indonesia.
  • Keluarga Risiko Stunting (KRS): Teridentifikasi sebanyak 8,1 juta keluarga yang memiliki potensi risiko.
  • Sasaran Utama GENTING: Sebanyak 1,05 juta keluarga miskin (desil 1) yang membutuhkan intervensi segera.
  • Kondisi Sanitasi: Terdapat 2,9 juta keluarga yang belum memiliki fasilitas jamban layak.
  • Akses Air Bersih: Sekitar 1,7 juta keluarga masih kesulitan mendapatkan akses air minum yang aman.

Data di atas menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan infrastruktur dasar masih menjadi kendala utama dalam upaya pencegahan stunting. BKKBN berkomitmen untuk mengarahkan bantuan orang tua asuh tepat sasaran kepada satu juta keluarga tersebut.

Pendekatan Gotong Royong dan Indikator Risiko

Program GENTING mengedepankan semangat gotong royong dengan mengajak masyarakat luas untuk berperan aktif sebagai orang tua asuh. Partisipasi publik sangat diharapkan untuk menjaga nutrisi dan kesehatan keluarga sasaran, terutama pada periode krusial 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Penentuan status keluarga risiko stunting tidak hanya berdasarkan kondisi ekonomi, tetapi juga dilihat dari faktor lingkungan dan reproduksi. Yuni menjelaskan bahwa indikator risiko mencakup ketiadaan jamban sehat serta akses air minum yang tidak memenuhi standar keamanan.

Selain faktor lingkungan, kondisi "4 Terlalu" pada ibu juga menjadi parameter penting dalam penilaian risiko. Kondisi tersebut meliputi usia melahirkan yang terlalu muda, terlalu tua, jarak kelahiran yang terlalu dekat, atau jumlah anak yang terlalu banyak dalam satu keluarga.

Target Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Meskipun prevalensi stunting terus menurun, pemerintah tetap menjadikan isu ini sebagai agenda nasional yang mendesak. Berdasarkan data tahun 2025, angka stunting nasional berada di posisi 18,8 persen, namun target yang lebih ambisius telah ditetapkan untuk masa depan.

Pemerintah telah menyusun target capaian penurunan prevalensi stunting sebagai berikut:

Tahun Target Target Prevalensi Stunting Visi Pembangunan
2025 (Realisasi) 18,8 Persen Tren Penurunan Berlanjut
2030 Di bawah 10 Persen Target Jangka Menengah
2045 Kurang dari 5 Persen Menuju Indonesia Emas

Tabel ini menggambarkan komitmen pemerintah dalam menekan angka stunting secara bertahap dan konsisten. Melalui program GENTING, diharapkan terjadi akselerasi yang signifikan sehingga target-target tersebut dapat tercapai sesuai jadwal yang telah ditentukan.

BKKBN optimis bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat melalui gerakan orang tua asuh, kualitas generasi masa depan Indonesia akan semakin membaik. Upaya ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan bebas stunting.

Artikel terkait

Rekomendasi