Belakangan ini, kisah mengenai pasien yang mengetahui adanya kelainan jantung melalui notifikasi jam tangan pintar atau smartwatch sempat viral di media sosial.
Teknologi wearable ini memang memiliki kemampuan untuk mendeteksi potensi aritmia melalui sensor cahaya yang memantau aliran darah di pergelangan tangan.
Meskipun teknologi ini sangat membantu, para ahli medis menekankan bahwa masyarakat juga bisa melakukan deteksi mandiri tanpa bergantung pada gawai.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Eka Hospital MT Haryono, dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS, menjelaskan cara kerja alat tersebut.
Cara Smartwatch Memantau Irama Jantung
Smartwatch modern dilengkapi dengan sensor cahaya atau fotosensor yang bertugas mendeteksi perubahan aliran darah di pembuluh darah kecil.
Data dari sensor tersebut kemudian digunakan oleh perangkat untuk menghitung frekuensi denyut nadi pengguna setiap menitnya.
Namun, dr. Evan memberikan catatan penting bahwa perangkat ini memiliki keterbatasan karena hanya menghitung denyut nadi, bukan denyut jantung secara langsung.
Perlu dipahami bahwa denyut jantung merupakan kontraksi otot jantung saat memompa darah, sedangkan denyut nadi adalah gelombang tekanan yang terasa di pembuluh darah.
Perbedaan mendasar antara denyut jantung dan denyut nadi :
- Denyut Jantung: Merupakan aktivitas motorik atau kontraksi langsung dari otot jantung saat bekerja memompa darah ke seluruh tubuh.
- Denyut Nadi: Efek getaran atau gelombang yang merambat di dinding pembuluh darah arteri akibat adanya pompa jantung.
Pemantauan melalui smartwatch hanya efektif jika perangkat terus melekat pada tubuh dan aktif melakukan pengecekan secara rutin.
Jika jam tangan tidak sedang digunakan, maka momentum gangguan irama jantung yang terjadi secara tiba-tiba bisa terlewatkan begitu saja.
Metode Deteksi Mandiri Tanpa Alat
Masyarakat tidak perlu cemas jika tidak memiliki smartwatch, sebab deteksi dini kelainan listrik jantung bisa dilakukan dengan cara manual yang sangat sederhana.
Langkah ini bisa dimulai dengan meraba nadi secara berkala, terutama saat merasakan gejala jantung berdebar-debar tanpa alasan yang jelas.
Langkah-langkah melakukan pengecekan nadi secara manual :
- Posisikan tangan dengan telapak menghadap ke atas, lalu cari area di pergelangan tangan bagian bawah yang sejajar dengan ibu jari.
- Gunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk meraba nadi, serta hindari penggunaan ibu jari karena memiliki denyutnya sendiri yang bisa mengganggu hasil.
- Rasakan irama denyut nadi selama satu menit penuh untuk mengetahui apakah detakannya teratur atau justru melompat-lompat.
Pengecekan mandiri ini sangat disarankan bagi populasi umum guna mengenali tanda awal gangguan irama jantung sedini mungkin.
Dengan mengetahui pola denyut nadi sendiri, seseorang bisa memberikan informasi yang lebih akurat saat berkonsultasi dengan tenaga medis.
Memahami Kategori Normal dan Tidak Normal
Dalam dunia medis, frekuensi denyut nadi manusia dikategorikan ke dalam beberapa kondisi berdasarkan kecepatannya saat sedang beristirahat.
Kondisi nadi yang berdetak lebih dari 100 kali per menit disebut takikardia, sedangkan yang kurang dari 60 kali per menit disebut bradikardia.
Berikut adalah ringkasan kategori denyut nadi manusia :
| Kategori Denyut | Frekuensi (Per Menit) | Keterangan Medis |
|---|---|---|
| Normal | 60 - 100 kali | Kondisi ideal saat tubuh sedang beristirahat. |
| Takikardia | Lebih dari 100 kali | Nadi terasa cepat, bisa dipicu stres atau aktivitas. |
| Bradikardia | Kurang dari 60 kali | Nadi terasa lambat, sering terjadi pada atlet. |
Tabel di atas menunjukkan parameter kecepatan nadi, namun kecepatan bukanlah satu-satunya faktor penentu adanya gangguan kesehatan jantung.
Dokter Evan menegaskan bahwa nadi yang terlalu cepat atau lambat terkadang masih merupakan varian normal bagi sebagian orang.
Hal yang patut diwaspadai adalah jika irama nadi terasa tidak beraturan, karena itu merupakan indikasi kuat adanya penyakit atau gangguan kelistrikan jantung.
Irama yang tidak sinkron seperti atrium fibrilasi sangat berbahaya karena dapat memicu pembentukan bekuan darah yang berisiko fatal.