Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan ambang batas minimum Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 20 persen melalui PMK Nomor 8 Tahun 2024. Regulasi ini menjadi acuan baru bagi produsen bus listrik di tanah air untuk meningkatkan penggunaan material lokal.
PT Sinar Armada Globalindo (SAG) merespons positif aturan tersebut sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem otomotif nasional. Pihak perusahaan menilai kebijakan ini selaras dengan tujuan jangka panjang transisi energi bersih di Indonesia.
Kolaborasi SAG dan Piala Mas untuk Produksi Lokal
Sebagai langkah nyata, PT Sinar Armada Globalindo menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan karoseri PT Piala Mas Industri (Piala Mas). Fokus utama kerja sama ini adalah memulai proses perakitan unit bus listrik secara mandiri di dalam negeri.
Direktur Komersial & Pengembangan Bisnis SAG, Andre Jodjana, menyatakan rasa bangganya atas kemitraan baru tersebut. Menurutnya, langkah ini mempertegas komitmen perusahaan dalam mendukung penyediaan transportasi publik rendah emisi.
Kemitraan ini diharapkan dapat mempercepat proses transfer teknologi kepada tenaga kerja lokal di Indonesia. Selain itu, kualitas komponen otomotif buatan dalam negeri diprediksi akan meningkat seiring dengan standar operasional yang lebih tinggi.
Rencana strategis pengembangan industri bus listrik nasional mencakup beberapa target utama:
- Pencapaian target nilai TKDN yang lebih tinggi pada tahun 2025 mendatang.
- Peningkatan daya saing produk otomotif lokal agar mampu bersaing di pasar internasional.
- Optimalisasi penyerapan tenaga kerja melalui pembukaan lini produksi baru.
- Pemberdayaan industri skala kecil menengah sebagai pemasok komponen pendukung.
Melalui keterlibatan industri kecil, SAG meyakini pertumbuhan ekonomi nasional akan bergerak lebih berkelanjutan. Sinergi ini dianggap mampu menghidupkan kembali rantai pasok industri manufaktur yang sempat melambat.
Peta Jalan Elektrifikasi Transportasi Massal
Kementerian Perhubungan telah menyusun Dokumen Peta Jalan Implementasi E-Mobility guna mempercepat elektrifikasi transportasi massal. Program bus rapid transit (BRT) menjadi pilar utama dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca di sektor darat.
Pemerintah memasang target ambisius untuk mencapai 90 persen elektrifikasi armada transportasi publik perkotaan pada tahun 2030. Angka tersebut setara dengan pengoperasian lebih dari 45.000 unit bus listrik di puluhan kota besar.
Berikut adalah ringkasan target elektrifikasi transportasi publik di Indonesia:
| Target Tahun | Sasaran Elektrifikasi | Jumlah Armada/Cakupan |
|---|---|---|
| 2030 | 90 Persen Armada Publik | 45.000 Unit Bus di 42 Kota |
| 2040 | 100 Persen Armada Publik | Seluruh Transportasi Perkotaan |
Data di atas menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengganti armada berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik secara bertahap. Hingga tahun 2040, diharapkan seluruh operasional bus kota sudah beralih sepenuhnya ke energi bersih.
Rekam Jejak dan Pengembangan Armada SAG
SAG bukan pemain baru dalam industri kendaraan listrik tanah air, setelah memperkenalkan bus Low Deck 12M pada tahun 2019. Armada tersebut telah resmi melayani masyarakat sejak tahun 2023 sebagai bagian dari program Langit Biru.
Program Langit Biru sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk menekan polusi udara melalui penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Kesuksesan operasional unit pertama memotivasi SAG untuk terus menambah jumlah armadanya.
Perusahaan baru saja menandatangani kesepakatan untuk mengoperasikan unit tambahan tipe High Deck 12M. Unit baru ini dijadwalkan mulai mengaspal di koridor TransJakarta pada akhir Desember 2024 mendatang.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pelaku industri siap mendukung visi pemerintah dalam menciptakan transportasi publik yang efisien. Kehadiran bus listrik lokal diharapkan dapat menjadi solusi polusi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis manufaktur.