Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi tengah menyusun peta jalan strategis untuk pengembangan bioprospeksi di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam Indonesia hingga tahun 2045 mendatang.
Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan panduan komprehensif dalam bentuk buku peta jalan. Pernyataan tersebut disampaikan usai acara paparan spesies flora baru di Jakarta pada Senin, 25 Mei 2026.
Memahami Konsep Bioprospeksi
Bioprospeksi sendiri merupakan sebuah upaya sistematis untuk meneliti dan mengolah sumber daya hayati menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Proses ini melibatkan pencarian biodiversitas yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut secara industri.
Saat ini, fokus pengembangan yang dilakukan oleh BRIN mencakup dua area utama, yakni ekosistem daratan (terestrial) dan ekosistem laut. Langkah awal dilakukan melalui ekspedisi untuk mengumpulkan berbagai jenis keanekaragaman hayati yang memiliki potensi besar.
Setelah pengumpulan data dan sampel selesai, tahap selanjutnya adalah melakukan analisis bioprospeksi yang mendalam. Arif menegaskan bahwa hasil riset ini nantinya akan menjadi komponen vital, khususnya bagi kemajuan sektor farmasi dan kesehatan.
Potensi Besar Tanaman Obat di Indonesia
Sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas utama BRIN karena kekayaan hayati Indonesia yang sangat melimpah. Arif mengungkapkan fakta bahwa pemanfaatan tanaman obat di tanah air saat ini masih sangat minim dibandingkan potensinya.
Berikut adalah data mengenai pemanfaatan tanaman obat di Indonesia menurut catatan BRIN:
- Terdapat sekitar 9.600 jenis tanaman obat yang tumbuh di wilayah Indonesia.
- Hanya sekitar 20 jenis tanaman yang saat ini sudah dimanfaatkan secara resmi dalam dunia medis.
- Peluang pengembangan riset masih sangat terbuka lebar untuk ribuan spesies lainnya.
- Kolaborasi lintas lembaga diperlukan untuk mempercepat standarisasi produk herbal.
Data di atas menunjukkan adanya kesenjangan yang besar antara jumlah kekayaan alam dengan aplikasi praktisnya di rumah sakit maupun klinik kesehatan.
Kolaborasi Menuju Fitofarmaka
Untuk menutup celah tersebut, BRIN mengajak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk berkolaborasi dalam menyusun proposal riset. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan fitofarmaka atau obat tradisional yang sudah teruji secara klinis.
Arif berharap riset ini dapat memberikan kepastian medis bagi para tenaga kesehatan di masa depan. Jika standar fitofarmaka terpenuhi, dokter diharapkan dapat memberikan resep obat yang berasal dari kekayaan hayati asli Indonesia secara aman.
Ringkasan rencana pengembangan bioprospeksi oleh BRIN:
| Aspek Pengembangan | Detail Rencana |
|---|---|
| Target Waktu | Peta Jalan menuju Indonesia Emas 2045 |
| Cakupan Wilayah | Ekosistem Terestrial (Darat) dan Laut |
| Sektor Prioritas | Kesehatan, Farmasi, dan Bioproduk Ekonomi |
| Target Produk | Standardisasi Fitofarmaka (Obat Tradisional) |
Melalui langkah-langkah strategis ini, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pemilik keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi pemain utama dalam industri produk berbasis bioteknologi di tingkat global.