Bitcoin Anjlok di Bawah US$60 Ribu, Ini Penyebab Mengejutkan di Tahun 2026

Bitcoin Anjlok di Bawah US$60 Ribu, Ini Penyebab Mengejutkan di Tahun 2026
Foto: Bitcoin Anjlok di Bawah US$60 Ribu, Ini Penyebab Mengejutkan di Tahun 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pasar aset kripto global kembali dikejutkan dengan pergerakan harga Bitcoin yang merosot tajam hingga menyentuh level di bawah US$60.000. Penurunan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak periode Oktober 2024, menandai fase sulit bagi aset digital paling populer tersebut.

Kondisi ini memperpanjang tren negatif Bitcoin yang sebelumnya sempat menjadi primadona setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat. Namun, euforia pasar tampaknya telah memudar dan kini berganti dengan lanskap spekulatif yang berubah secara drastis.

Bitcoin Kehilangan Momentum di Tengah Ketidakpastian Global

Pada sesi perdagangan di New York hari Jumat, mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini terpantau anjlok hingga 7 persen. Harga Bitcoin sempat menyentuh titik terendah di level US$59.101, yang memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar.

Jika ditarik lebih jauh, Bitcoin sebenarnya telah kehilangan lebih dari separuh nilai pasarnya sejak mencapai puncak kejayaan di atas US$126.000 pada Oktober tahun lalu. Saat ini, nilai Bitcoin bahkan lebih rendah dibandingkan posisi harganya ketika Donald Trump yang dikenal pro-kripto kembali menjabat di Gedung Putih.

Beberapa faktor utama yang memicu pelemahan harga Bitcoin saat ini antara lain adalah:

  • Aksi penarikan dana massal oleh para investor dari instrumen dana yang diperdagangkan di bursa atau Exchange-Traded Funds (ETF) berbasis Bitcoin.
  • Kembali memanasnya ketegangan geopolitik di berbagai wilayah yang memicu sentimen penghindaran risiko oleh investor global.
  • Meningkatnya keraguan pasar mengenai daya tahan dan keberlanjutan permintaan terhadap aset kripto dalam jangka panjang.
  • Kekhawatiran terhadap stabilitas model bisnis perusahaan besar yang selama ini menjadi penyokong utama likuiditas pasar kripto.

Berbagai faktor di atas menciptakan tekanan jual yang masif, sehingga harga sulit untuk bertahan pada level psikologisnya. Investor kini cenderung bersikap lebih waspada sembari memperhatikan perkembangan ekonomi global yang masih fluktuatif.

Sorotan Terhadap Strategi Perusahaan Michael Saylor

Salah satu poin yang menarik perhatian pasar adalah pergerakan dari Strategy Inc., perusahaan milik Michael Saylor yang dikenal sebagai pendukung setia Bitcoin. Perusahaan ini sebelumnya dianggap sebagai motor penggerak tren pasar bullish melalui pembelian Bitcoin dalam skala besar dan berkelanjutan.

Namun, belakangan ini Strategy Inc. justru menjadi pusat kekhawatiran setelah mengumumkan langkah yang cukup mengejutkan bagi publik. Perusahaan tersebut diketahui melakukan penjualan token, sebuah langkah yang sangat jarang dilakukan oleh mereka selama ini.

Keputusan penjualan tersebut memicu spekulasi mengenai kesehatan model arus kas aset digital yang dijalankan oleh perusahaan pimpinan Saylor. Para pengamat pasar menilai hal ini sebagai sinyal adanya "kerusakan mesin" pada salah satu entitas pemborong Bitcoin terbesar di dunia.

Ringkasan pergerakan pasar dan rincian harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir dapat dilihat pada tabel berikut:

Kategori Informasi Detail Catatan Pasar
Harga Terendah Terkini US$59.101 (Setara Rp950 Juta - Rp1,14 Miliar)
Penurunan Persentase harian Mencapai 7% dalam satu hari perdagangan
Puncak Harga Oktober 2024 Di atas level US$126.000
Total Penurunan dari Puncak Lebih dari 50% dalam kurun waktu satu tahun
Sentimen Utama Investor Dominasi aksi jual dan penarikan dana dari ETF

Tabel di atas menunjukkan betapa signifikannya koreksi yang dialami oleh Bitcoin dalam waktu yang relatif singkat. Penurunan ini berdampak luas pada ekosistem kripto lainnya yang turut mengalami pelemahan harga mengikuti pergerakan sang pemimpin pasar.

Dampak Luas di Sektor Ekonomi dan Keuangan

Pelemahan Bitcoin ini terjadi bersamaan dengan berbagai dinamika ekonomi lainnya yang tengah menjadi sorotan otoritas keuangan. Di dalam negeri, pihak Direktorat Jenderal Bea Cukai sedang gencar melakukan penagihan tunggakan dan denda kepada merek mewah seperti Tiffany & Co senilai Rp97 miliar.

Selain itu, pasar komoditas energi juga sedang bergejolak seiring dengan anjloknya produksi minyak OPEC setelah adanya tekanan Amerika Serikat terhadap Iran. Kondisi makroekonomi yang kompleks ini semakin menambah beban bagi instrumen investasi berisiko tinggi seperti mata uang kripto.

Di sisi lain, investor kini mulai mempertanyakan apakah momen ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pembelian atau justru segera melepas aset mereka. Fenomena munculnya token baru seperti HYPE yang sedang populer juga mulai mengalihkan perhatian dari Bitcoin yang tengah berada dalam tren menurun.

Pasar kripto kedepannya diprediksi masih akan mengalami volatilitas yang tinggi selama ketidakpastian fiskal dan geopolitik belum mereda. Para analis menyarankan agar pemegang aset digital tetap memantau kebijakan suku bunga dan stabilitas mata uang global dalam mengambil keputusan investasi.

Artikel terkait

Rekomendasi