Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja melakukan penataan papan pencatatan, dengan mengumumkan pemindahan 44 perusahaan terdaftar ke klasifikasi baru yang akan mulai berlaku efektif pada 29 Mei 2026. Langkah ini merupakan bagian dari evaluasi berkala oleh BEI terhadap aspek fundamental, likuiditas, dan kepatuhan emiten di pasar modal.
Melalui pengumuman resmi, BEI menyampaikan bahwa sebanyak 26 emiten berhasil naik dari Papan Pengembangan ke Papan Utama. Sementara itu, 16 emiten harus turun dari Papan Utama ke Papan Pengembangan. Dua emiten dari sektor teknologi, yaitu PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI), juga dipindahkan dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan.
Kenaikan ke Papan Utama sering kali mencerminkan peningkatan fundamental perusahaan tersebut. Ini juga menunjukkan likuiditas saham yang lebih baik, serta kepatuhan terhadap tata kelola dan kapitalisasi pasar yang telah ditetapkan bursa. Berikut adalah daftar 26 emiten yang naik kelas:
- ADES
- ALDO
- AMAG
- AMAR
- BBMD
- BSSR
- CBUT
- DKFT
- DMND
- EPMT
- FISH
- GLVA
- GZCO
- HERO
- JIHD
- JSPT
- LPCK
- MASB
- MERK
- NOBU
- PALM
- PORT
- PRAY
- TLDN
- TOTO
- TPIA
Sebaliknya, BEI juga mengalihkan 16 emiten dari Papan Utama ke Papan Pengembangan. Daftar ini meliputi: BUKK, CSRA, DOID, GTSI, GWSA, MCAS, MINE, MMLP, MREI, NCKL, PANR, PSAT, RBMS, SMMA, UNIQ, dan WMUU.
Sorotan tertuju kepada perpindahan GOTO dan BELI dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan. Papan Ekonomi Baru dirancang untuk mengakomodasi perusahaan yang memanfaatkan teknologi dan ekonomi digital. Ini setara dengan Papan Utama dan berfungsi sebagai sarana branding bagi perusahaan tersebut.
Papan Ekonomi Baru juga mendukung pencatatan perusahaan dengan saham multi-voting sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 22/POJK.04/2021. Selain itu, perpindahan saham PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk. (RBMS) turut mendapatkan perhatian, yang kini menetap di Papan Pengembangan setelah keluar dari Papan Pemantauan Khusus.
Disclaimer: Berita ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan yang mungkin timbul dari keputusan investasi pembaca.
Artikel lainnya tersedia di Google News dan WA Channel Bisnis.com.