Bandara Dubai Resmi Ditutup Setelah 85 Tahun, Pindah ke Lokasi Baru 2026

Bandara Dubai Resmi Ditutup Setelah 85 Tahun, Pindah ke Lokasi Baru 2026
Foto: Bandara Dubai Resmi Ditutup Setelah 85 Tahun, Pindah ke Lokasi Baru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Bandara Internasional Dubai (DXB) yang dikenal sebagai salah satu pusat penerbangan tersibuk di dunia dikabarkan akan segera menutup operasionalnya secara permanen. Keputusan ini diambil setelah fasilitas transportasi udara tersebut melayani jutaan penumpang selama lebih dari 85 tahun.

Rencana penutupan ini dijadwalkan akan terlaksana sepenuhnya pada tahun 2035 mendatang. Seluruh aktivitas penerbangan yang selama ini berpusat di DXB nantinya akan dialihkan secara bertahap ke lokasi baru yang lebih luas.

Transformasi Menuju Bandara Terbesar di Dunia

Titik fokus operasional udara Dubai akan berpindah ke Bandara Internasional Al Maktoum (DWC). Bandara ini tengah menjalani proyek renovasi besar-besaran dengan nilai investasi mencapai 28 miliar pound sterling atau setara dengan Rp671,7 triliun.

Proyek ambisius ini bertujuan untuk membangun pusat penerbangan paling megah di planet ini. Nantinya, semua maskapai besar yang berbasis di Dubai, termasuk Emirates dan flydubai, akan memindahkan seluruh operasional mereka ke fasilitas baru tersebut.

Apabila pembangunan ini rampung, Bandara Internasional Al Maktoum diprediksi sanggup melayani hingga 260 juta penumpang setiap tahunnya. Kapasitas yang sangat masif ini akan mengukuhkan posisinya sebagai bandara terbesar di dunia.

Rencana pengembangan infrastruktur di Bandara Al Maktoum mencakup beberapa fasilitas utama:

  • Pembangunan lima landasan pacu paralel untuk efisiensi jadwal penerbangan.
  • Penyediaan hingga 400 gerbang pesawat untuk menampung armada maskapai global.
  • Penerapan sistem bandara pintar generasi terbaru untuk kemudahan navigasi penumpang.
  • Fasilitas layanan yang dirancang secara estetis untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi wisatawan.
  • Konektivitas moda transportasi terintegrasi dengan jaringan kereta api nasional.

Melalui Dubai Aviation Engineering Projects (DAEP), pemerintah setempat menegaskan bahwa DWC akan menjadi wajah baru bagi sistem bandara yang lebih cerdas dan berfokus pada pengalaman penumpang. Hal ini diharapkan dapat mempermudah perjalanan ke berbagai destinasi global dengan cara yang lebih mengagumkan.

Alasan di Balik Penutupan Bandara Dubai (DXB)

CEO Dubai Airports, Paul Griffiths, menjelaskan bahwa keputusan ini didasari oleh efisiensi manajemen hub udara. Menurutnya, tidaklah logis untuk mengoperasikan dua hub utama dalam jarak yang sangat berdekatan, sehingga konsolidasi layanan ke DWC menjadi langkah paling rasional.

Selain masalah jarak, faktor usia bangunan juga menjadi pertimbangan serius bagi manajemen. Griffiths menyebutkan bahwa pada saat penutupan nanti, aset-aset di Bandara Internasional Dubai akan mencapai akhir masa pakai operasionalnya.

Secara ekonomi, mempertahankan DXB dianggap tidak akan memberikan keuntungan kecuali jika dilakukan investasi besar untuk perbaikan total. Padahal, posisi bandara tersebut saat ini sudah sangat terbatas untuk dilakukan perluasan lebih lanjut.

Lokasi DXB terjepit di antara dua jalan raya besar serta kawasan pemukiman warga yang padat. Kondisi geografis ini membuat pengembangan infrastruktur atau penambahan landasan pacu menjadi hampir mustahil untuk dilaksanakan.

Konektivitas Kereta Cepat Etihad Rail

Meskipun proyek bandara secara utuh diperkirakan baru selesai pada tahun 2057, peralihan layanan penerbangan ditargetkan mulai terjadi sekitar tahun 2032. Nantinya, DWC akan terhubung langsung dengan Etihad Rail, jaringan kereta cepat yang akan mengubah mobilitas masyarakat.

Layanan kereta api ini diproyeksikan mulai mengangkut penumpang pada tahun 2026 setelah melalui proses perencanaan selama dua dekade. Kehadiran Etihad Rail diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pada penggunaan mobil pribadi antarwilayah.

Estimasi waktu perjalanan menggunakan Etihad Rail dibandingkan transportasi darat biasa:

Rute Perjalanan Estimasi Waktu Tempuh
Abu Dhabi menuju Dubai 57 Menit
Abu Dhabi menuju Ruwais 70 Menit
Abu Dhabi menuju Fujairah 105 Menit

Tabel di atas menunjukkan betapa efisiennya waktu perjalanan yang bisa dipangkas melalui layanan kereta cepat ini. Kehadiran moda transportasi ini akan menetapkan standar baru bagi perjalanan antar-kota di wilayah Uni Emirat Arab (UEA).

Jaringan Transportasi yang Menghubungkan 11 Kota

Jalur Etihad Rail membentang sepanjang 900 kilometer mulai dari wilayah Al Sila di Abu Dhabi hingga ke Fujairah di pesisir timur. Jaringan rel ini menghubungkan 11 kota dan wilayah strategis di tujuh emirat, termasuk Sharjah, Al Mirfa, dan Ras Al Khaimah.

Pengembangan proyek ini dilakukan secara bertahap, di mana pengangkutan logistik sudah dimulai sejak 2016. Pada tahun 2023, seluruh jaringan nasional telah tersambung sempurna, memungkinkan pergerakan barang lintas negara dengan lebih cepat.

Layanan penumpang menjadi tahap akhir dari proyek domestik ini sebelum nantinya dikembangkan lebih luas hingga mencakup wilayah GCC (Gulf Cooperation Council). Kereta ini mampu melaju dengan kecepatan mencapai 200 km per jam.

Spesifikasi dan fasilitas armada kereta penumpang yang akan digunakan:

  • Gerbong CRC buatan China: Memiliki kapasitas angkut sekitar 365 orang penumpang per rangkaian.
  • Gerbong CAF buatan Spanyol: Dirancang untuk menampung sekitar 369 penumpang dengan desain interior modern.
  • Kelas Utama: Menyediakan kursi yang lebih lebar dan dapat disesuaikan untuk kenyamanan premium.
  • Kelas Keluarga: Dilengkapi dengan meja bersama yang lebih besar untuk keperluan perjalanan kelompok.
  • Kelas Ekonomi: Menggunakan kursi berhadapan berwarna abu-abu gelap untuk perjalanan jarak menengah.

Setiap rangkaian kereta juga dilengkapi dengan ruang penyimpanan bagasi di bagian atas kepala serta area khusus untuk barang bawaan yang berukuran besar. Fasilitas meja lipat di setiap belakang kursi turut tersedia untuk menunjang aktivitas penumpang selama perjalanan.

Pemerintah setempat menargetkan volume penumpang tahunan dapat mencapai 36,5 juta orang pada tahun 2030 mendatang. Dengan jadwal keberangkatan harian yang intens, kereta api ini akan menjadi tulang punggung transportasi yang bersih dan dapat diprediksi waktunya.

Artikel terkait

Rekomendasi