Bahaya Kantong Kresek Hitam untuk Daging Kurban, Ini Penjelasan Dokter Onkologi 2026

Bahaya Kantong Kresek Hitam untuk Daging Kurban, Ini Penjelasan Dokter Onkologi 2026
Foto: Bahaya Kantong Kresek Hitam untuk Daging Kurban, Ini Penjelasan Dokter Onkologi 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Penggunaan kantong plastik hitam sebagai pembungkus daging kurban masih sering ditemukan di berbagai daerah saat perayaan Iduladha. Padahal, plastik jenis ini secara resmi tidak masuk dalam kategori food grade atau layak digunakan untuk mengemas bahan makanan.

Meskipun pemerintah telah menetapkan standarisasi ketat terkait keamanan kemasan pangan, ketergantungan pada kresek hitam masih tinggi. Di sisi lain, tren kesadaran masyarakat mulai meningkat dengan beralih ke wadah alami yang lebih aman.

Alternatif Pembungkus yang Lebih Aman

Saat ini, banyak panitia kurban yang sudah mulai meninggalkan plastik hitam dan memilih bahan tradisional. Penggunaan daun pisang hingga wadah bambu atau besek menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan dan sehat.

Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, selaku dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi, turut memberikan pandangannya. Ia menjelaskan bahwa penggunaan plastik non-food grade sebenarnya bisa ditoleransi dalam kondisi yang sangat terdesak.

Namun, ada syarat utama yang harus dipenuhi agar risiko kesehatan dapat ditekan seminimal mungkin. Daging yang terbungkus plastik tersebut harus segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman sesampainya di rumah.

Menurut dr. Andhika, interaksi kimia yang berbahaya biasanya terjadi ketika ada paparan panas yang membuat plastik memuai. Jika durasi kontak antara daging dan plastik hanya sebentar, risiko kontaminasi senyawa berbahaya relatif rendah.

Hal yang perlu diperhatikan saat menerima daging dengan plastik hitam:

  • Segera keluarkan daging dari kantong plastik begitu tiba di rumah.
  • Pindahkan daging ke wadah penyimpanan yang memang dikhususkan untuk makanan.
  • Hindari menyimpan daging di dalam plastik hitam dalam jangka waktu lama, terutama di tempat yang terpapar suhu panas.
  • Pastikan plastik tidak mengalami gesekan berlebih atau robek yang bisa mencemari permukaan daging kurban.

Penjelasan tersebut disampaikan dr. Andhika dalam acara The 6th Siloam Oncology Summit di Jakarta. Ia menekankan bahwa umumnya daging kurban langsung diolah atau disimpan dengan benar oleh penerimanya.

Daging kurban biasanya segera dibagikan dan diproses oleh masyarakat pada sore atau malam hari setelah penyembelihan. Hal ini membuat waktu kontak daging dengan plastik hitam tidak berlangsung berhari-hari sehingga risikonya mengecil.

Risiko Penyakit dari Cara Mengolah Daging

Menariknya, dr. Andhika justru lebih menyoroti potensi bahaya kesehatan yang muncul dari kesalahan teknik pengolahan daging. Ia menyebutkan bahwa cara memasak yang salah lebih berisiko memicu kanker dibandingkan kontak singkat dengan plastik.

Daging merah pada dasarnya bukan penyebab utama kanker jika dikonsumsi dalam batas wajar. Namun, faktor pengolahan dan pola konsumsi yang berlebihanlah yang patut diwaspadai oleh masyarakat.

Berikut adalah beberapa kebiasaan mengolah daging yang meningkatkan risiko kanker:

  • Membakar daging hingga gosong karena dapat menghasilkan zat karsinogenik pada bagian yang hitam.
  • Mengonsumsi daging merah secara berlebihan, misalnya lebih dari satu kilogram dalam kurun waktu satu minggu.
  • Terlalu sering mengonsumsi makanan kaleng yang mengandung bahan pengawet dalam jangka panjang.
  • Terbiasa memakan makanan olahan seperti nugget atau sosis yang melalui proses pengawetan kimiawi.

Ia menegaskan bahwa penyimpanan makanan yang terlalu lama dalam kemasan yang tidak sesuai juga memicu reaksi kimia berbahaya. Senyawa potensial penyebab kanker akan terbentuk seiring lamanya durasi penyimpanan tersebut.

Bahaya Daur Ulang Plastik Hitam

Sorotan terhadap kresek hitam sebagai wadah daging kurban juga datang dari pakar teknologi pangan. Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi dari IPB menegaskan adanya risiko perpindahan komponen plastik ke dalam bahan makanan.

Plastik hitam yang beredar di pasar umumnya bukan produk yang dirancang untuk makanan. Komponen pembuat plastik tersebut bisa terlepas dan masuk ke dalam jaringan daging yang menyentuhnya secara langsung.

Karakteristik plastik yang berbahaya untuk pembungkus makanan:

Kategori Keterangan dan Risiko
Asal Bahan Umumnya hasil daur ulang dari berbagai limbah plastik yang tidak diketahui sumber asalnya.
Kontaminan Potensi mengandung residu pestisida, logam berat, hingga limbah bahan kimia berbahaya lainnya.
Bahan Kimia Seringkali mengandung Polivinil Klorida (PVC) yang dilarang bersentuhan langsung dengan makanan.
Standar Keamanan Tidak memiliki sertifikasi food grade sehingga tidak mampu melindungi tekstur dan kesehatan.

Informasi dalam tabel di atas merangkum alasan mengapa otoritas kesehatan melarang penggunaan kresek hitam. Bahan daur ulang yang digunakan bisa saja berasal dari wadah bekas zat beracun yang membahayakan tubuh.

Suatu wadah dianggap layak atau food grade jika tidak mentransfer zat berbahaya ke makanan. Sebaliknya, kresek hitam memiliki potensi besar dalam merusak kualitas pangan sekaligus memicu gangguan kesehatan jangka panjang.

Secara internasional, polivinil klorida yang sering ditemukan pada plastik berwarna gelap telah diklasifikasikan sebagai zat berbahaya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan kantong tersebut sebagai pembungkus langsung untuk jenis makanan apa pun.

Kesadaran kolektif dalam menggunakan pembungkus yang aman sangat diperlukan demi menjaga kualitas gizi daging kurban. Edukasi berkelanjutan diharapkan dapat meminimalkan penggunaan plastik hitam pada momen Iduladha mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi