Arkeolog Prancis Ragukan Seni Cadas Tertua di Dunia dari RI, Ada Fakta Mengejutkan Terbaru 2026

Arkeolog Prancis Ragukan Seni Cadas Tertua di Dunia dari RI, Ada Fakta Mengejutkan Terbaru 2026
Foto: Arkeolog Prancis Ragukan Seni Cadas Tertua di Dunia dari RI, Ada Fakta Mengejutkan Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Temuan seni cadas di Sulawesi telah menarik perhatian global selama sepuluh tahun terakhir karena mengubah sejarah seni manusia purba. Namun, klaim mengenai predikat lukisan gua tertua di dunia tersebut kini mendapatkan sorotan tajam dari seorang arkeolog asal Prancis.

Georges Sauvet mempertanyakan metode penanggalan yang dipakai dalam sejumlah riset terbaru di Indonesia. Kritik ini ia sampaikan melalui artikel ilmiah berjudul Uranium-thorium dating: the race towards the earliest rock art yang dipublikasikan pada Maret 2026.

Persoalan Metode Penanggalan

Sauvet menilai metode uranium-thorium (U-Th) yang umum digunakan untuk mengukur usia seni cadas perlu diuji dengan standar yang lebih ketat. Ia berpendapat bahwa metode ini memiliki potensi risiko menghasilkan estimasi usia yang jauh lebih tua daripada kenyataannya.

Meskipun melontarkan kritik, Sauvet tidak serta-merta menolak keaslian atau nilai sejarah dari lukisan gua di Indonesia. Fokus utamanya adalah pada aspek metodologi yang ia anggap perlu diverifikasi ulang menggunakan pendekatan sains lainnya.

Kritik ini muncul setelah rentetan penelitian memposisikan Indonesia sebagai titik krusial dalam perkembangan peradaban manusia. Sejak tahun 2014, kolaborasi peneliti Indonesia dan Australia telah mengungkap temuan menakjubkan di kawasan karst Maros, Sulawesi Selatan.

Berikut adalah ringkasan data temuan awal seni cadas di Sulawesi yang sempat menghebohkan dunia :

  • Cap Tangan Purba: Ditemukan di gua Sulawesi dengan usia minimal diperkirakan mencapai 39.900 tahun.
  • Lukisan Babirusa: Karya seni figuratif hewan purba ini memiliki estimasi usia setidaknya 35.400 tahun.
  • Pergeseran Teori: Temuan ini mematahkan anggapan lama bahwa seni figuratif awal hanya berkembang di wilayah Eropa.

Data tersebut menunjukkan bahwa manusia modern di Indonesia sudah mampu menghasilkan karya seni yang setara dengan manusia purba di Eropa pada 40.000 tahun silam. Sejak itu, berbagai eksplorasi lanjutan terus dilakukan untuk mencari bukti sejarah yang lebih tua.

Klaim Rekor Dunia 67.800 Tahun

Pada awal tahun 2026, sebuah studi di jurnal Nature oleh tim pimpinan Adhi Agus Oktaviana membawa kabar yang lebih fenomenal. Mereka melaporkan temuan cap tangan negatif di Sulawesi yang diperkirakan berumur minimal 67.800 tahun.

Jika angka tersebut terbukti akurat, maka karya tersebut resmi menjadi salah satu seni cadas tertua yang pernah ditemukan manusia. Tim peneliti menggunakan metode uranium-thorium pada lapisan mineral yang menempel di atas lukisan dinding gua tersebut.

Proses ini bekerja dengan mengukur tingkat peluruhan radioaktif uranium menjadi thorium pada endapan kalsit. Namun, Sauvet memandang proses kimiawi ini memiliki celah yang bisa memengaruhi hasil akhir penghitungan usia.

Beberapa poin keberatan Sauvet terkait akurasi metode penanggalan tersebut adalah :

  • Stabilitas Sampel: Metode U-Th hanya bekerja akurat jika lapisan kalsit berada dalam kondisi sistem tertutup yang stabil.
  • Rembesan Air: Aliran air pada batuan gua dapat melarutkan uranium keluar dari sampel sehingga mengubah rasio kimiawi secara alami.
  • Manipulasi Usia: Hilangnya uranium akibat faktor alamiah dapat membuat hasil penghitungan usia tampak jauh lebih tua dari aslinya.
  • Risiko Kompetisi: Peneliti diingatkan agar tidak terjebak dalam perlombaan mencari "yang tertua" tanpa validasi metode yang kuat.

Sauvet menyarankan agar komunitas arkeologi tidak langsung menerima hasil penanggalan yang terlampau tua tanpa verifikasi mendalam. Ia menekankan pentingnya studi fisikokimia yang komprehensif sebelum sebuah klaim besar dipublikasikan secara luas.

Perbandingan Metode Penanggalan

Dalam argumennya, Sauvet menyebutkan adanya perbedaan hasil yang signifikan antara metode uranium-thorium dengan metode radiokarbon. Ia mendorong adanya integrasi antara berbagai metode untuk mendapatkan kepastian data yang lebih valid.

Tabel berikut merangkum perbedaan pandangan mengenai prosedur penanggalan seni cadas :

Aspek Penilaian Metode Uranium-Thorium (U-Th) Saran Verifikasi Tambahan
Objek Pengukuran Peluruhan uranium pada lapisan kalsit Metode Karbon-14 (radiokarbon)
Kelebihan Bisa menjangkau usia yang sangat tua Memberikan perbandingan data yang lebih stabil
Kelemahan Rentan terhadap kontaminasi rembesan air Membutuhkan analisis fisikokimia yang rumit
Status Klaim Menjadi dasar utama usia 67.800 tahun Diperlukan untuk memperkuat validitas temuan

Penjelasan di atas menggambarkan betapa ketatnya proses pembuktian dalam dunia sains modern, khususnya pada bidang arkeologi. Perdebatan antarilmuwan seperti ini dianggap wajar untuk memastikan bahwa sejarah manusia ditulis berdasarkan bukti yang tidak terbantahkan.

Hingga saat ini, diskusi mengenai usia pasti seni cadas di Sulawesi masih terus bergulir di forum-forum ilmiah internasional. Kritik Sauvet menjadi pengingat bahwa setiap penemuan besar harus melalui proses pengujian yang transparan demi akurasi sejarah dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi