Akhir Tragis Pencarian 4 Turis Italia di Gua Maladewa, Ditemukan Meninggal Dunia 2026

Akhir Tragis Pencarian 4 Turis Italia di Gua Maladewa, Ditemukan Meninggal Dunia 2026
Foto: Akhir Tragis Pencarian 4 Turis Italia di Gua Maladewa, Ditemukan Meninggal Dunia 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Upaya pencarian empat jasad wisatawan asal Italia yang terjebak di dalam gua bawah laut Maladewa akhirnya mencapai titik akhir. Tim penyelam ahli asal Finlandia berhasil menuntaskan misi sulit ini pada Rabu, 20 Mei 2026.

Kedua jenazah terakhir yang ditemukan berada di kedalaman sekitar 61 meter atau 200 kaki. Penemuan ini sekaligus menutup rangkaian operasi penyelamatan yang telah berlangsung selama hampir sepekan di Atol Vaavu.

Identitas Jasad dan Proses Penemuan

Dua korban terakhir yang berhasil dievakuasi tersebut telah diidentifikasi sebagai Giorgia Sommacal yang berusia 22 tahun. Selain Giorgia, tim juga menemukan jenazah peneliti bernama Muriel Oddenino yang berumur 31 tahun.

Keduanya dilaporkan hilang sejak Kamis, 14 Mei 2026, saat sedang melakukan ekspedisi di Gua Atol Vaavu. Informasi mengenai identitas mereka telah dikonfirmasi oleh sumber di Kementerian Luar Negeri Italia kepada Kantor Berita ANSA.

Operasi pengangkatan jasad ini dilakukan secara terencana dan dimulai tepat sebelum pukul 11 pagi waktu setempat. Tim bekerja dengan sangat hati-hati mengingat medan bawah laut yang memiliki risiko tinggi.

Melansir laporan La Repubblica, jenazah pertama berhasil diangkat ke permukaan dalam kurun waktu satu jam setelah operasi dimulai. Proses ini melibatkan koordinasi yang sangat ketat antar tim di berbagai kedalaman.

Beberapa saat kemudian, jasad kedua juga berhasil dinaikkan ke kapal pendukung tim penyelamat. Meski belum dipastikan siapa yang ditemukan lebih dulu, evakuasi ini menandai berakhirnya tragedi yang juga menewaskan satu anggota tim penyelamat lokal Maladewa.

Metode Evakuasi Estafet

Proses pengangkatan jenazah dari dasar gua dilakukan dengan metode estafet yang melibatkan beberapa lapisan tim penyelamat. Tim pertama bertugas menyelam hingga kedalaman 154 kaki untuk menjangkau pintu masuk gua.

Tahapan evakuasi jenazah dari kedalaman laut :

  • Penyelam melemparkan tali pengikat pelampung ke dalam air sebagai tanda lokasi utama.
  • Tim ahli masuk ke dalam gua untuk mengambil jenazah dan membawanya keluar ke mulut gua.
  • Tim Angkatan Laut Maladewa menunggu di kedalaman 98 kaki untuk menerima jenazah dari tim pertama.
  • Jenazah kemudian diserahkan kepada kelompok berikutnya yang bersiaga di kedalaman 10 kaki.
  • Tim terakhir memastikan kondisi jenazah sudah aman di dalam kantong sebelum diangkat ke atas kapal.

Metode ini digunakan untuk menjaga keamanan para penyelam agar tidak mengalami dekompresi mendadak. Setelah berhasil dievakuasi, jenazah rencananya akan segera dibawa ke kamar jenazah di Male, ibu kota Maladewa, untuk keperluan lebih lanjut.

Temuan Jenazah di Hari Sebelumnya

Sebelum penemuan terakhir pada hari Rabu, tim penyelam sebenarnya sudah menemukan dua jasad lainnya pada Selasa, 19 Mei 2026. Mereka adalah Monica Montefalcone dan Federico Gualtieri yang ditemukan di area yang sama.

Monica Montefalcone merupakan seorang dosen ekologi di Universitas Genoa, sementara Federico Gualtieri adalah seorang peneliti. Evakuasi mereka dilakukan dengan pengawalan ketat oleh petugas kepolisian setempat.

Saat dipindahkan dari kapal polisi ke ambulans di Pelabuhan Male, petugas berusaha menutup pandangan publik. Hal ini dilakukan demi menghormati keluarga korban dan menjaga privasi selama proses evakuasi berlangsung.

Tim penyelamat dilaporkan harus bergerak sangat cepat karena adanya ancaman dari predator laut seperti hiu. Selain faktor alam, kedalaman gua yang ekstrem juga menjadi tantangan besar bagi para penyelamat ahli tersebut.

Peralatan canggih yang digunakan dalam misi penyelamatan :

  • Alat pernapasan tertutup atau closed-circuit rebreather untuk durasi penyelaman yang lebih lama.
  • Sistem penyaring kimia untuk menghilangkan karbon dioksida dari gas pernapasan penyelam.
  • Tali pengaman khusus dan pelampung penanda lokasi di kedalaman laut.

Juru bicara Jaringan Peringatan Penyelam Eropa menjelaskan bahwa teknologi rebreather sangat krusial dalam misi ini. Sistem tersebut mendaur ulang udara sehingga penyelam dapat bertahan di bawah air jauh lebih lama dibanding alat selam biasa.

Investigasi Penyebab Kecelakaan

Keempat korban tersebut sebenarnya sudah terdeteksi posisinya di bagian ketiga gua pada Senin, 18 Mei 2026. Namun, pengambilan jasad membutuhkan persiapan matang karena kondisi lingkungan yang berbahaya.

Ada temuan menarik mengenai perlengkapan yang digunakan oleh Monica Montefalcone, ibu dari Giorgia Sommacal. Ia dilaporkan mengenakan pakaian selam pendek yang biasanya hanya digunakan untuk kegiatan rekreasi di permukaan.

Sumber dari Maladewa menduga Monica memilih pakaian tersebut karena suhu air di wilayah itu cenderung hangat. Padahal, untuk ekspedisi laut dalam, diperlukan perlengkapan khusus yang mampu melindungi tubuh dengan lebih baik.

Sementara itu, korban kelima yakni instruktur selam Gianluca Benedetti, sudah ditemukan lebih awal pada hari Kamis. Jasadnya ditemukan di dekat pintu masuk gua sesaat setelah laporan orang hilang diterima.

Data korban tewas dalam insiden penyelaman Maladewa :

Nama Korban Usia/Profesi Waktu Ditemukan
Gianluca Benedetti 44 Tahun (Instruktur) Kamis, 14 Mei 2026
Monica Montefalcone 52 Tahun (Dosen) Selasa, 19 Mei 2026
Federico Gualtieri 31 Tahun (Peneliti) Selasa, 19 Mei 2026
Giorgia Sommacal 22 Tahun Rabu, 20 Mei 2026
Muriel Oddenino 31 Tahun (Peneliti) Rabu, 20 Mei 2026

Tabel di atas merangkum seluruh korban warga negara Italia yang terlibat dalam tragedi penyelaman di Atol Vaavu. Total terdapat lima orang wisatawan yang dinyatakan meninggal dunia dalam insiden tragis ini.

Dugaan Keracunan Oksigen dan Pelanggaran Batas

Kelompok turis ini merupakan bagian dari 25 warga Italia yang menaiki kapal pesiar Duke of York. Mereka memulai penyelaman di dekat Pulau Alimathaa sekitar pukul 11 pagi, namun tidak pernah kembali setelah satu jam.

Ahli paru-paru, Claudio Micheletto, memberikan pandangannya mengenai kemungkinan penyebab kematian para korban. Ia menduga adanya faktor hiperoksia atau keracunan oksigen yang terjadi akibat menghirup konsentrasi gas terlalu tinggi.

Menurut Micheletto kepada Adnkronos, kematian akibat keracunan oksigen adalah salah satu kejadian paling traumatis bagi penyelam. Kondisi ini seringkali berujung fatal secara mendadak saat berada di kedalaman laut.

Pendapat serupa disampaikan oleh Alfonso Bolognini, Presiden Masyarakat Kedokteran Bawah Air Italia. Ia berspekulasi bahwa kepanikan di kedalaman 50 meter bisa memicu kesalahan fatal bagi para penyelam.

Terungkap juga bahwa para korban menyelam jauh melampaui batas aman untuk penyelaman rekreasi, yakni 30 meter. Pihak operator tur mengaku sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka akan menyelam hingga kedalaman ekstrem tersebut.

Orietta Stella dari Albatros Top Boat menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah mengizinkan aksi berbahaya itu jika mengetahuinya. Ia menyatakan bahwa semua turis sudah diberikan arahan mengenai aturan keselamatan penyelaman rekreasi yang berlaku.

Artikel terkait

Rekomendasi