AirAsia Dikritik: Penumpang Anak dengan Cerebral Palsy Turun Paksa dari Pesawat

AirAsia Dikritik: Penumpang Anak dengan Cerebral Palsy Turun Paksa dari Pesawat
Foto: AirAsia Dikritik: Penumpang Anak dengan Cerebral Palsy Turun Paksa dari Pesawat. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Maskapai Malaysia, AirAsia, saat ini tengah memeriksa kembali kebijakannya setelah insiden di mana sebuah keluarga dengan anak penyandang cerebral palsy diminta turun dari pesawat. Kejadian ini menyusul kebijakan tentang perangkat pengaman anak yang dibawa keluarga tersebut dalam penerbangan Singapura-Kuching. AirAsia menjelaskan keputusan ini diambil dengan penekanan pada keamanan yang berlaku, terutama terkait kecocokan perangkat.

Seorang petinggi AirAsia X, Kapten Saravanan Subramaniam, menyatakan bahwa maskapai ini sedang mengevaluasi kebijakan dan prosedur mengenai penggunaan perangkat pengaman anak khusus. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kejelasan dan konsistensi yang lebih baik.

Insiden di Media Sosial:

Kasus ini mendapatkan perhatian publik setelah Syarifah Ella Wan Wahab, seorang wanita, berbagi keluhan di Facebook. Dalam unggahannya, dia menyatakan keluarganya diminta turun karena kursi khusus putrinya yang menderita quadriplegic cerebral palsy tidak diizinkan digunakan. Kursi ini, menurutnya, telah mendapat sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA).

Syarifah mengatakan petugas darat dan awak kabin datang kepada mereka ketika mereka telah berada di pesawat. Meskipun sudah melaporkan kursi ini saat check-in, mereka akhirnya diminta turun.

Kebijakan yang Dipertanyakan:

Syarifah mempersoalkan kebijakan AirAsia karena dia sudah beberapa kali menggunakan kursi yang sama tanpa masalah di penerbangan sebelumnya. Dia merasa kursi itu seharusnya diakui sebagai kebutuhan medis yang penting untuk putrinya.

Dia menyatakan bahwa kebijakan AirAsia tampak tidak konsisten dan mempertanyakan apakah ini adalah kebijakan baru atau hanya tidak diterapkan sebelumnya. Dalam penjelasannya, Syarifah menggunakan kursi khusus karena kondisi kesehatan anaknya, bukan hanya karena usia.

Ketidakpastian untuk Penumpang:

Keluarga tersebut ditawari kesempatan untuk pindah ke penerbangan berikut, namun tidak dijamin bisa terbang dengan kursi yang sama. Ini menimbulkan ketidakpastian bagi mereka, karena keputusan akhir tetap pada kapten penerbangan.

Akibat situasi yang tidak pasti tersebut, keluarga itu akhirnya menolak tawaran penerbangan alternatif karena risiko yang sama tetap ada. Kapten Saravanan Subramaniam menyatakan penyesalan atas ketidaknyamanan yang dialami dan menyebutkan bahwa AirAsia telah menghubungi keluarga untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi