7 Destinasi Wisata Jepang Terpopuler 2026, Kyoto Jadi Pilihan yang Banyak Dicari

7 Destinasi Wisata Jepang Terpopuler 2026, Kyoto Jadi Pilihan yang Banyak Dicari
Foto: 7 Destinasi Wisata Jepang Terpopuler 2026, Kyoto Jadi Pilihan yang Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Negara Jepang terus menjadi daya tarik utama bagi pelancong dunia, namun sebuah survei terbaru menunjukkan distribusi kunjungan yang belum merata. Berdasarkan data yang dirilis pada Mei 2026, hanya ada tujuh dari total 47 prefektur di Negeri Sakura yang menjadi magnet utama bagi wisatawan mancanegara.

Dari data tersebut, Kyoto berhasil menempati posisi teratas sebagai wilayah yang paling banyak diminati. Penelitian ini dilakukan oleh Unnery Inc bersama Kyodo News dengan memanfaatkan data lokasi dari aplikasi ponsel pintar untuk memantau pergerakan turis asing di 25.000 distrik di Jepang.

Dominasi Prefektur Populer di Jepang

Hasil survei tahun 2025 tersebut memetakan 100 lokasi yang paling sering dikunjungi oleh turis dari luar negeri. Meskipun Jepang memiliki banyak wilayah indah, ke-100 destinasi favorit tersebut ternyata hanya terkonsentrasi di 22 prefektur saja.

Kyoto memimpin daftar dengan menyumbang 17 lokasi wisata populer, termasuk kawasan ikonik Kuil Kiyomizu yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO. Mengikuti di posisi berikutnya, Prefektur Hokkaido menawarkan 16 lokasi unggulan, sementara Kanagawa memiliki 11 titik destinasi favorit.

Beberapa wilayah lain yang memiliki konsentrasi pengunjung asing cukup tinggi antara lain:

  • Prefektur Yamanashi yang terkenal dengan keindahan alam di sekitar Gunung Fuji.
  • Osaka yang populer dengan wisata kuliner dan hiburan perkotaan yang modern.
  • Okinawa yang menjadi destinasi utama bagi para pencinta wisata pantai dan resor.
  • Tokyo sebagai ibu kota negara yang menawarkan perpaduan budaya tradisional dan teknologi.

Daftar ini menunjukkan bahwa minat wisatawan masih sangat terfokus pada kota-kota besar yang sudah memiliki reputasi global. Akibatnya, banyak prefektur lain yang memiliki potensi wisata luar biasa justru belum mendapatkan perhatian yang sebanding.

Destinasi Spesifik dan Pengaruh Media Sosial

Menariknya, kawasan resor ski Niseko di Hokkaido menduduki peringkat pertama sebagai lokasi individu yang paling banyak dikunjungi. Sementara itu, Kuil Kiyomizu di Kyoto yang sangat tersohor harus puas berada di posisi ke-12 dalam daftar lokasi paling padat.

Selain itu, area pemandian air panas atau onsen juga menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi turis mancanegara. Kawasan Hakone di Kanagawa serta Lima Danau Fuji di kaki Gunung Fuji tercatat memiliki tingkat kunjungan yang sangat signifikan.

Faktor popularitas di media sosial juga memegang peranan penting dalam menarik wisatawan asing:

  • Ginzan Onsen di Prefektur Yamagata menjadi satu-satunya wakil dari wilayah Tohoku yang masuk 100 besar.
  • Resor ini menduduki peringkat keempat berkat viralnya foto-foto lokasi yang disebut mirip dengan latar anime Demon Slayer.
  • Naoshima, sebuah pulau seni di Laut Pedalaman Seto, berhasil menempati peringkat ke-13 dalam daftar tersebut.
  • Pulau Naoshima menjadi satu-satunya destinasi dari wilayah Shikoku yang mampu menembus dominasi prefektur populer lainnya.

Kehadiran destinasi-destinasi unik ini membuktikan bahwa konten digital memiliki pengaruh besar dalam mengarahkan arus wisatawan. Namun, tantangan besar masih membayangi pemerintah Jepang terkait pemerataan jumlah kunjungan turis ke wilayah lainnya.

Tantangan Distribusi Wisatawan di Berbagai Wilayah

Meskipun pariwisata Jepang sedang naik daun, terdapat kesenjangan yang mencolok antara wilayah populer dan daerah lainnya. Sebanyak 25 prefektur, termasuk beberapa daerah di sepanjang pantai Laut Jepang, bahkan tidak memiliki satu pun lokasi yang masuk dalam daftar 100 besar.

Seorang pejabat dari Asosiasi Agen Perjalanan Jepang menekankan bahwa diversifikasi destinasi ke tingkat regional merupakan tugas yang sangat mendesak. Hal ini diperlukan agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Jepang.

Berikut adalah data perbandingan kunjungan dan pengeluaran wisatawan asing berdasarkan wilayah:

Kategori Data Wilayah Dominan (Tokyo, Osaka, Kyoto, dsb) Wilayah Lainnya (31 Prefektur)
Persentase Kunjungan Menyumbang 69,7 persen dari total tamu asing Masing-masing menyumbang kurang dari 1 persen
Jumlah Menginap Tokyo mencapai 59,59 juta kunjungan Data signifikan tidak tercatat secara massal
Total Pengeluaran Tokyo memimpin dengan 3,29 triliun yen Shimane di posisi terakhir dengan 2,25 miliar yen

Data dari Badan Pariwisata Jepang tahun 2025 memperlihatkan ketimpangan yang sangat jauh antara Tokyo dan prefektur seperti Shimane. Kesenjangan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mempromosikan destinasi tersembunyi yang belum terjamah oleh turis asing.

Target Pariwisata Jepang Tahun 2030

Jumlah pelancong asing ke Jepang telah menunjukkan pemulihan yang sangat cepat setelah masa pandemi COVID-19 berakhir. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) mencatat rekor kunjungan mencapai 42,68 juta orang sepanjang tahun 2025.

Pemerintah Jepang memiliki ambisi besar untuk meningkatkan angka tersebut menjadi 60 juta wisatawan pada tahun 2030 mendatang. Selain jumlah orang, target pengeluaran tahunan turis juga dipatok mencapai angka 15 triliun yen untuk mendukung perekonomian nasional.

Langkah strategis yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target tersebut meliputi:

  • Mempromosikan destinasi wisata di luar jalur utama atau off-the-beaten-path.
  • Memperbaiki infrastruktur transportasi menuju wilayah regional yang jarang dikunjungi.
  • Mendorong pengembangan wisata budaya dan alam yang autentik di pedesaan.
  • Memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan akses informasi bagi para pelancong.

Dengan rencana yang matang, Jepang berharap dapat mengurai kepadatan turis di kota-kota besar sekaligus menghidupkan ekonomi daerah. Upaya ini diharapkan dapat memberikan pengalaman wisata yang lebih beragam dan mendalam bagi para pengunjung.

Kemudahan Transaksi Digital bagi Wisatawan

Di sisi lain, kolaborasi internasional dalam hal sistem pembayaran juga mulai memperkuat sektor pariwisata. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengumumkan bahwa wisatawan asal Jepang akan segera bisa menggunakan QRIS saat berkunjung ke Indonesia.

Langkah ini merupakan bagian dari skema QRIS cross border atau pembayaran lintas negara yang sedang dikembangkan secara masif. Implementasi ini telah mendapatkan restu dari otoritas keuangan Jepang, yakni Financial Services Agency (FSA).

Beberapa poin penting terkait kerja sama sistem pembayaran digital ini adalah:

  • Wisatawan Jepang dapat bertransaksi di Indonesia tanpa perlu menukarkan uang tunai ke rupiah.
  • Kerja sama ini melibatkan Ministry of Economy Trade and Industry serta Payment Japan Association.
  • Perusahaan teknologi pembayaran seperti Netstars turut mendukung infrastruktur teknis sistem ini.
  • Selain Jepang, Bank Indonesia juga telah memperluas kerja sama serupa dengan Korea Selatan per April 2026.

Kerja sama yang sudah dirintis sejak Agustus 2025 ini diharapkan dapat mempermudah turis Jepang dalam berbelanja di tanah air. Dengan sistem pembayaran yang praktis, diharapkan volume transaksi wisatawan mancanegara di Indonesia juga akan meningkat secara signifikan.

Implementasi teknologi pembayaran digital ini tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga mempererat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Jepang. Melalui inovasi ini, kedua negara berupaya saling mendukung pemulihan industri pariwisata masing-masing di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi