Sebuah tragedi memilukan melanda sektor pariwisata Maladewa pada Kamis, 14 Mei 2026. Lima orang wisatawan asal Italia dilaporkan meninggal dunia saat sedang melakukan aktivitas penyelaman di area gua bawah laut yang cukup dalam.
Kabar mengenai insiden maut ini segera memicu penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian setempat. Di tengah duka tersebut, diketahui ada satu orang anggota kelompok yang berhasil selamat dari maut karena membatalkan niatnya untuk menyelam di saat-saat terakhir.
Kesaksian Kunci dari Korban Selamat
Satu-satunya penyintas dalam rombongan turis Italia tersebut adalah seorang mahasiswi dari Universitas Genoa. Ia tetap berada di atas kapal pesiar saat rekan-rekannya memutuskan untuk turun ke kedalaman laut.
Keputusan mahasiswi yang identitasnya tidak disebutkan ini menjadikannya sebagai saksi krusial dalam mengungkap kronologi kejadian. Ia berada di kapal pesiar Duke of York ketika kelompoknya menjelajahi kawasan Vaavu Atoll.
Hingga saat ini, alasan pasti mengapa mahasiswi tersebut tidak jadi ikut menyelam ke gua bawah laut dekat Pulau Alimatha masih belum terungkap sepenuhnya. Padahal, ia diketahui sudah mengenakan perlengkapan lengkap dan siap untuk terjun ke air.
Namun, mahasiswi itu tiba-tiba berubah pikiran dan memilih menetap di dek kapal. Langkah spontan ini secara tidak sengaja menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan yang merenggut nyawa lima rekan perjalanannya.
Pihak kepolisian memandang mahasiswi ini sebagai figur penting yang dapat merekonstruksi detik-detik terakhir sebelum para korban menghilang. Keterangannya sangat dibutuhkan untuk melengkapi informasi dari dua lusin saksi lain yang merupakan nonawak kapal.
Identitas Para Korban dan Lokasi Kejadian
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan New York Post pada Jumat, 15 Mei 2026, identitas para korban mulai terungkap ke publik. Dua di antaranya adalah Monica Montefalcone, yang merupakan profesor biologi laut, dan putrinya yang berusia 20 tahun, Giorgia Sommacal.
Ibu dan anak tersebut diketahui melakukan penyelaman hingga kedalaman sekitar 160 kaki di bawah permukaan laut Vaavu Atoll. Selain mereka berdua, terdapat tiga korban lainnya yang ikut dalam rombongan penyelaman maut tersebut.
Berikut adalah daftar wisatawan Italia yang menjadi korban dalam tragedi penyelaman di Maladewa:- Monica Montefalcone, seorang akademisi biologi laut dari Universitas Genoa.
- Giorgia Sommacal, putri dari Monica Montefalcone yang masih berusia 20 tahun.
- Muriel Oddenino, turis asal kota Turin, Italia.
- Gianluca Benedetti, wisatawan yang berasal dari wilayah Padua.
- Federico Gualtieri, warga asal Borgomanero yang ikut dalam rombongan tersebut.
Kelima turis tersebut gagal kembali ke permukaan setelah masuk ke dalam air. Kekhawatiran muncul ketika jadwal penyelaman telah usai, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka di sekitar kapal pengangkut.
Upaya Evakuasi dan Penemuan Jasad
Menanggapi laporan hilangnya para penyelam, tim penyelamat segera dikerahkan ke lokasi populer di dekat Pulau Alimatha. Tim evakuasi mulai bergerak melakukan penyisiran pada pukul 13.45 waktu setempat untuk mencari keberadaan korban.
Operasi pencarian dilakukan secara masif di perairan biru Samudra Hindia yang dikenal memiliki pemandangan bawah laut indah namun menantang. Setelah beberapa saat melakukan penyisiran, petugas akhirnya menemukan jasad para korban dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Media lokal Maladewa, The Edition, menyebutkan bahwa rombongan ini berangkat menggunakan yacht mewah Duke of York pada Kamis pagi. Mereka berencana menikmati salah satu situs menyelam paling ikonik dan banyak dikunjungi di negara kepulauan tersebut.
Hingga saat ini, pihak medis belum merilis secara resmi penyebab pasti kematian kelima warga negara Italia tersebut. Proses otopsi dan pemeriksaan lebih lanjut masih terus dilakukan untuk mendapatkan jawaban medis yang akurat.
Dugaan Pengaruh Cuaca Buruk
Salah satu faktor yang diduga kuat berkaitan dengan kecelakaan ini adalah kondisi cuaca yang sedang tidak bersahabat. Pada hari kejadian, laporan cuaca di wilayah tersebut menunjukkan adanya angin kencang dengan kecepatan mencapai 30 mph.
Kondisi alam yang ekstrem ini diperkirakan memengaruhi arus bawah laut dan tingkat kesulitan saat menyelam di dalam gua. Namun, otoritas berwenang belum bisa memastikan apakah cuaca buruk adalah faktor tunggal penyebab tragedi ini.
Penyelidikan resmi yang digelar kepolisian akan meninjau segala aspek, mulai dari prosedur penyelaman hingga kelayakan peralatan yang digunakan. Transparansi dalam investigasi ini menjadi sangat penting mengingat reputasi Maladewa sebagai destinasi selam internasional.
Seorang pejabat lokal dalam keterangannya menyebutkan bahwa peristiwa ini kemungkinan besar merupakan kecelakaan penyelaman paling fatal yang pernah tercatat dalam sejarah Maladewa. Kedalaman gua bawah laut yang mencapai 160 kaki memang dikenal membutuhkan keahlian tinggi bagi para penyelam.
Pemerintah Maladewa bekerja sama dengan kedutaan Italia untuk menangani pemulangan jenazah para korban ke tanah air mereka. Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi para wisatawan mengenai risiko besar yang mengintai di balik keindahan eksplorasi laut dalam.