Selama tiga tahun berturut-turut, warga Palestina yang berdomisili di Jalur Gaza kembali kehilangan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Hal ini terjadi akibat kebijakan Israel yang terus menutup akses perbatasan serta membatasi pergerakan warga dari wilayah tersebut.
Kabar menyedihkan ini dilaporkan oleh kantor berita Anadolu di tengah persiapan umat Muslim dunia menyambut puncak haji di Arab Saudi. Sayangnya, warga Gaza justru masih terjebak dalam pusaran konflik, pengepungan wilayah, dan krisis kemanusiaan yang belum berakhir.
Penutupan pintu perbatasan menjadi penghalang utama yang membuat ribuan calon jemaah tidak bisa berangkat menuju Mekah. Padahal, bagi banyak warga di sana, menunaikan rukun Islam kelima adalah impian yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun.
Dampak Perang Terhadap Impian Ibadah Haji
Salah satu kisah pilu datang dari seorang wanita Palestina bernama Suad Hajjaj yang telah menabung lama demi bisa beribadah haji. Persiapan yang ia susun matang bersama suami dan keluarganya kini harus berakhir dengan duka yang mendalam.
Suami Suad dilaporkan tewas dalam sebuah serangan, sementara saudara laki-lakinya dinyatakan hilang di tengah kecamuk perang. Tidak hanya kehilangan orang tercinta, rumah tempat tinggal mereka pun kini sudah rata dengan tanah akibat pengeboman.
Saat ini, Suad terpaksa mengungsi di Stadion Yarmouk yang terletak di bagian timur Kota Gaza bersama anak-anaknya. Semua tabungan haji yang ia kumpulkan susah payah turut tertimbun di bawah reruntuhan rumah yang hancur.
Meskipun kondisi fisiknya berada di pengungsian, pikiran Suad terus membayangkan indahnya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Ia sangat merindukan momen berdiri di Gunung Arafat, sebuah ritual inti yang diimpikan oleh setiap jemaah haji.
Faktor utama yang menghambat keberangkatan jemaah haji dari Gaza antara lain:
- Penutupan akses pintu perbatasan internasional secara total oleh otoritas Israel.
- Hancurnya infrastruktur pendukung dan transportasi akibat agresi militer yang terus berlangsung.
- Hilangnya dokumen perjalanan dan tabungan warga yang tertimbun reruntuhan bangunan.
- Kondisi keamanan yang tidak memungkinkan adanya mobilisasi massa menuju luar wilayah.
Krisis ini menambah daftar panjang penderitaan warga Gaza yang harus kehilangan hak dasar mereka untuk beribadah. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pembukaan akses yang memungkinkan jemaah bisa berangkat dalam waktu dekat.
Terakhir kali warga dari wilayah kantong ini diizinkan berangkat haji secara resmi adalah pada Juni 2023 lalu. Sejak saat itu, eskalasi konflik yang meningkat membuat mimpi ribuan calon jemaah untuk mengunjungi Baitullah harus terkubur kembali.