Kondisi kesehatan anak-anak di Provinsi Aceh tengah menjadi sorotan serius di tingkat nasional. Tercatat sebanyak 281 ribu anak di wilayah tersebut belum pernah menerima imunisasi dasar sama sekali atau dikategorikan sebagai kelompok zero dose pada periode 2021-2025.
Masalah ini bukan sekadar isu lokal, mengingat World Health Organization (WHO) menempatkan Indonesia di posisi keenam dunia dengan angka zero dose tertinggi. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 2,3 juta anak di Indonesia yang melewatkan vaksinasi dasar rutin sejak mereka lahir.
Ferdiyus selaku Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh memaparkan bahwa capaian imunisasi di Aceh masuk dalam jajaran tiga terendah secara nasional. Untuk kategori bayi usia 0-11 bulan, angka cakupan imunisasi lengkap pada tahun 2025 hanya menyentuh 34,3 persen.
Padahal, Aceh pernah memiliki catatan gemilang di sektor kesehatan anak pada tahun 1994 silam. Saat itu, provinsi ini berhasil meraih angka cakupan imunisasi yang sangat tinggi mencapai 99,9 persen.
Namun, tren positif tersebut terus mengalami penurunan yang signifikan setiap tahunnya. Fenomena yang memprihatinkan juga terjadi di kalangan tenaga kesehatan, di mana sebagian anak dari petugas medis sendiri dilaporkan tidak mendapatkan imunisasi.
Penyebab Tingginya Angka Anak Tanpa Imunisasi
Berdasarkan tinjauan di lapangan, terdapat beberapa faktor utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi di wilayah ini. Kurangnya pemahaman informasi yang utuh mengenai manfaat vaksin masih menjadi kendala besar di tengah masyarakat.
Faktor penghambat utama pemberian imunisasi berdasarkan hasil survei kesehatan :
- Dominasi peran ayah dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga.
- Kekhawatiran orang tua terhadap efek samping setelah pemberian vaksin.
- Pengaruh anggota keluarga lain, seperti nenek, dalam menentukan kesehatan cucu.
- Adanya rasa enggan terhadap metode multi injeksi atau suntikan ganda pada anak.
- Kelelahan mental yang dialami petugas kesehatan akibat penolakan masyarakat yang masif.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa tantangan imunisasi di Aceh sangat berkaitan erat dengan struktur sosial dan pola pikir keluarga. Keputusan akhir sering kali berada di tangan sang ayah yang menjadi penentu utama apakah seorang anak boleh mendapatkan vaksin atau tidak.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Nuraihan, mengungkapkan temuan mengejutkan dari riset kolaborasi FKUI dan USK pada akhir 2025. Banyak ayah menolak imunisasi karena khawatir terhadap reaksi demam yang membuat anak rewel di malam hari.
Ringkasan perbandingan cakupan imunisasi dan kendala di Aceh :
| Kategori Data | Keterangan dan Fakta |
|---|---|
| Jumlah Anak Zero Dose | Sekitar 281.000 anak (2021-2025) |
| Capaian Tahun 2025 | Hanya 34,3 persen untuk usia 0-11 bulan |
| Posisi Nasional | Masuk dalam jajaran 3 provinsi terendah |
| Alasan Penolakan Utama | Izin ayah, ketakutan efek samping, dan faktor keluarga |
Data ini memperlihatkan adanya penurunan drastis jika dibandingkan dengan performa kesehatan Aceh pada dekade sebelumnya. Di sisi lain, petugas kesehatan di lapangan juga mulai merasa jenuh akibat upaya edukasi yang sering berujung pada penolakan keras dari warga.
Upaya untuk mengejar ketertinggalan imunisasi ini memerlukan pendekatan yang lebih personal kepada tokoh keluarga. Tanpa dukungan dari para ayah dan tokoh masyarakat, angka zero dose di Aceh dikhawatirkan akan terus berada pada level yang mengkhawatirkan.