Ekosistem padang lamun saat ini tidak hanya menghadapi ancaman langsung dari kenaikan suhu air laut akibat pemanasan global. Berdasarkan studi terbaru dari University of Sydney dan University of New South Wales (UNSW), gelombang panas laut dapat mengubah interaksi antara lamun dengan bakteri di sekitarnya menjadi sebuah hubungan yang beracun.
Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal New Phytologist ini mengungkapkan bahwa lonjakan suhu air memicu ledakan pertumbuhan bakteri yang memproduksi gas hidrogen sulfida yang sangat berbahaya. Kehadiran zat beracun ini membuat tanaman lamun mengalami hambatan dalam pertumbuhan serta menjadikannya lebih rentan terhadap tekanan panas di tengah situasi perubahan iklim saat ini.
Koloni Bakteri pada Akar Lamun
Lamun merupakan tumbuhan berbunga di perairan dangkal yang memegang peran krusial sebagai tempat pembiakan ikan kecil, pemurni air, hingga penyimpan karbon alami. Eksperimen di bawah laut menunjukkan bahwa di area perakaran lamun terdapat komunitas bakteri kompleks yang dalam kondisi normal justru membantu menjaga kesehatan tanah dan tumbuhan tersebut.
Namun, keseimbangan alami tersebut akan mengalami pergeseran drastis ketika suhu air laut mulai meningkat di atas ambang batas normal. Associate Professor dari University of Sydney, Ziggy Marzinelli, menjelaskan bahwa suhu tinggi tidak sekadar menghangatkan air, tetapi secara fundamental mengubah ekosistem mikroba yang bermukim di sekitar akar lamun.
Dampak Penurunan Biomassa Akibat Panas
Data penelitian menunjukkan bahwa lamun yang tumbuh pada sedimen dengan suhu hangat mengalami penurunan biomassa yang cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi standar. Berikut adalah rincian perbandingan kondisi pertumbuhan lamun berdasarkan variabel suhu dan komunitas mikroba dalam penelitian tersebut:
| Kondisi Lingkungan | Dampak pada Pertumbuhan | Status Komunitas Mikroba |
|---|---|---|
| Sedimen Suhu Normal | Pertumbuhan Optimal (100%) | Seimbang dan Mendukung Kesehatan |
| Sedimen Suhu Hangat | Biomassa Berkurang 34% | Didominasi Bakteri Penghasil Racun |
Eksperimen di Laboratorium Alami Danau Macquarie
Studi ini mengambil lokasi di Danau Macquarie, Australia, yang secara tidak sengaja berfungsi sebagai laboratorium alam karena menerima aliran air hangat dari pembangkit listrik sejak tahun 1984. Suhu di perairan ini tercatat sekitar tiga derajat Celsius lebih panas daripada area sekitarnya, yang memberikan gambaran nyata mengenai prediksi suhu lautan di masa depan.
Tim peneliti kemudian memindahkan spesies lamun Zostera muelleri ke lokasi tersebut guna menganalisis perubahan struktur DNA bakteri yang terdapat pada sedimen akar. Dr. Renske Jongen dari University of Sydney menegaskan bahwa meskipun lamun terlihat sehat di permukaan, kondisi mikroba di bawah tanah justru menunjukkan realitas yang sangat berbeda.
Strategi Penyelamatan dan Restorasi Lamun
Para ilmuwan menekankan bahwa peran mikroba sering kali terabaikan dalam berbagai upaya penyelamatan ekosistem lamun di seluruh dunia. Padahal, kesehatan komunitas bakteri di sekitar akar merupakan faktor penentu utama bagi keberlangsungan hidup atau kematian populasi lamun saat menghadapi gelombang panas.
Profesor Paul Gribben dari UNSW menyarankan agar program restorasi lamun tidak hanya terpaku pada pemilihan spesies yang tahan terhadap suhu panas saja. Langkah pemulihan yang efektif harus mencakup penanganan kondisi komunitas mikroba pada sedimen sebelum proses penanaman kembali dilakukan agar ekosistem pesisir tetap terjaga.
Signifikansi Temuan untuk Masa Depan Pesisir
Temuan ini menjadi sangat penting mengingat populasi padang lamun di berbagai belahan dunia terus merosot akibat frekuensi gelombang panas laut yang semakin sering terjadi. Jika padang lamun mengalami kerusakan permanen, maka keseimbangan ekosistem pesisir serta habitat bagi berbagai jenis hewan laut akan berada dalam posisi yang sangat terancam.
Hasil penelitian mendalam ini secara resmi diterbitkan dengan tajuk "Ocean warming indirectly affects seagrass performance through effects on sediment microbial communities" pada tanggal 5 Mei 2026. Laporan ini menjadi rujukan baru bagi para ahli lingkungan untuk memahami mekanisme kompleks di balik dampak tidak langsung dari pemanasan global terhadap vegetasi laut.