Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau (Kepri), setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) kini menemui titik terang. Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan mendalam, makanan tersebut positif mengandung zat kimia boraks serta terkontaminasi oleh bakteri berbahaya.
Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad, menjelaskan bahwa kepastian mengenai kandungan berbahaya ini didapatkan melalui dua tahap pemeriksaan yang berbeda. Prosedur diawali dengan uji cepat oleh Dinas Kesehatan setempat pada saat kejadian, yang kemudian diperkuat dengan pengujian laboratorium resmi oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan.
Dari pemeriksaan tersebut, terdeteksi adanya kandungan boraks pada beberapa komponen menu seperti telur kecap, tempe goreng, hingga tumis sayuran yang disajikan kepada para siswa. Data hasil uji menunjukkan kadar kontaminasi yang cukup bervariasi namun berada pada tingkat yang mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia.
| Komponen Menu MBG | Kadar Kandungan Boraks (mg/L) |
|---|---|
| Telur Kecap, Tempe Goreng, Tumis Sayuran | 100 hingga 5.000 mg/L |
Bahaya Penggunaan Boraks dalam Makanan
Secara teknis, boraks atau sodium tetraborate merupakan zat kimia berbentuk serbuk putih yang peruntukan utamanya adalah untuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Zat ini lazim digunakan sebagai bahan pembuatan deterjen, pembersih, pengawet kayu, pestisida, hingga dalam proses manufaktur gelas, bukan sebagai bahan tambahan pangan.
Meskipun bukan untuk dikonsumsi, praktik penggunaan boraks pada makanan masih sering ditemukan di masyarakat demi mendapatkan tekstur yang kenyal dan daya simpan lebih lama. Wakil Sekretaris Jenderal PP PDGKI, dr Iflan Nauval, menekankan bahwa paparan zat kimia ini membawa risiko kesehatan serius baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Efek langsung atau jangka pendek yang muncul akibat konsumsi boraks biasanya berupa gangguan pencernaan seperti rasa mual yang berujung pada muntah-muntah. Sementara itu, dampak jangka panjangnya jauh lebih berbahaya karena akumulasi zat tersebut dalam tubuh dapat memicu reaksi alergi kronis hingga risiko penyakit mematikan seperti kanker.
Menyikapi insiden ini, dr Iflan mendorong adanya kolaborasi yang lebih ketat dari seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional. Langkah preventif dan pengawasan yang menyeluruh sangat diperlukan guna memastikan tidak ada lagi zat berbahaya atau bakteri yang mencemari asupan gizi bagi para pelajar.