Penyakit herpes zoster atau yang lebih dikenal sebagai cacar api sering kali dianggap remeh oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, penyakit ini berpotensi menyerang satu dari tiga orang dewasa di seluruh dunia sepanjang hidup mereka.
Kekhawatiran akan dampak penyakit ini terekam dalam survei global terbaru yang dirilis oleh GSK. Data menunjukkan bahwa 78% orang dewasa dengan riwayat penyakit kronis merasa cemas cacar api akan mengganggu aktivitas mereka sehari-hari.
Selain itu, sekitar 72% dari mereka merasa takut jika penyakit ini memaksa mereka untuk menjalani rawat inap dalam jangka waktu yang lama. Namun, fakta yang cukup ironis adalah lebih dari separuh responden atau sekitar 54% belum pernah berkonsultasi dengan dokter mengenai risiko ini.
Risiko Tinggi pada Kelompok Rentan
Risiko terkena cacar api akan melonjak drastis pada individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Kelompok yang paling rentan adalah mereka yang memiliki penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang sedang menurun.
Penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan jantung, penyakit ginjal, serta masalah pernapasan layaknya asma dan PPOK terbukti meningkatkan kerentanan. Pada penderita penyakit autoimun, kanker, atau HIV/AIDS, risiko tersebut bahkan bisa meningkat hingga lebih dari dua kali lipat.
Beberapa faktor utama yang meningkatkan peluang seseorang terkena cacar api meliputi:
- Kondisi sistem imun yang lemah atau imunokompromi.
- Berusia lanjut atau masuk kategori lansia.
- Memiliki riwayat keluarga yang pernah mengidap herpes zoster.
- Individu dengan jenis kelamin perempuan.
- Adanya penyakit penyerta seperti HIV/AIDS atau keganasan medis lainnya.
Anggota PERDOSKI, dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E., Subsp.Ven, menjelaskan bahwa kerentanan ini bukan tanpa alasan. Berbagai penelitian medis telah mengonfirmasi bahwa melemahnya pertahanan tubuh menjadi pemicu utama reaktivasi virus penyebab cacar api.
Dampak Ekonomi dan Beban Kesehatan di Indonesia
Situasi cacar api di Indonesia menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data periode 2015 hingga 2022, tercatat ada sekitar 390.000 kasus yang tersebar di berbagai provinsi besar.
Penyakit ini tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga memberikan beban finansial yang cukup berat bagi pasien maupun negara. Biaya perawatan medis untuk satu kasus rawat inap cacar api diperkirakan bisa menyentuh angka Rp10 juta.
Berikut adalah ringkasan dampak dan beban kasus cacar api di Indonesia:
| Kategori Data | Keterangan Statistik |
|---|---|
| Total Kasus (2015–2022) | 390.000 kasus di provinsi besar |
| Biaya Rawat Inap per Kasus | Mencapai Rp10.000.000 |
| Total Klaim BPJS Kesehatan (2021) | Rp27,1 Miliar |
| Gangguan Produktivitas | Dialami oleh 33% penderita |
Besarnya angka pembiayaan dari BPJS Kesehatan yang mencapai puluhan miliar rupiah pada 2021 membuktikan bahwa cacar api adalah masalah kesehatan serius. Dampak jangka panjangnya pun sangat mempengaruhi kualitas hidup serta produktivitas penderitanya.
Komplikasi Nyeri dan Rendahnya Kesadaran Masyarakat
Salah satu komplikasi yang paling ditakuti dari cacar api adalah munculnya rasa nyeri hebat yang menetap. Kondisi medis ini dikenal sebagai neuralgia pasca-herpetik, yang dialami oleh sekitar 42% penderita bahkan setelah ruam kulit mereka sembuh.
Rasa nyeri yang berkepanjangan ini sering kali menghambat pasien untuk beraktivitas secara normal. Meski risikonya nyata, tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan dini terpantau masih sangat minim.
Satu dari empat orang masih percaya bahwa penyakit kronis yang mereka idap tidak berkaitan dengan kekuatan sistem imun. Pemahaman yang keliru ini sering kali membuat mereka terlambat dalam menyadari risiko reaktivasi virus herpes zoster.
Reswita Dery Gisriani dari GSK Indonesia menekankan pentingnya edukasi bagi masyarakat mengenai keterkaitan penyakit kronis dengan sistem imun. Melemahnya daya tahan tubuh, baik karena usia maupun penyakit bawaan, menjadi faktor kunci yang harus diwaspadai agar dampak buruk cacar api bisa dihindari.