Warung Moerni 78: Kuliner Legendaris Yogya yang Paling Dicari di 2026

Warung Moerni 78: Kuliner Legendaris Yogya yang Paling Dicari di 2026
Foto: Warung Moerni 78: Kuliner Legendaris Yogya yang Paling Dicari di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Yogyakarta selalu memiliki sisi menarik yang tidak pernah habis untuk diceritakan kepada para pelancong. Dalam kunjungan kali ini, saya sengaja meluangkan waktu khusus demi mencicipi hidangan legendaris di Warung Moerni 78 yang terkenal dengan resep warisan masa lalunya.

Perjalanan saya dimulai dengan menumpang kereta api kelas ekonomi agar bisa langsung berhenti di Stasiun Lempuyangan. Setibanya di kota budaya ini sekitar pukul 23.00 WIB, saya memilih berjalan kaki menuju kawasan Jalan Tukangan, Danurejan, untuk mencari penginapan.

Di sepanjang ruas Jalan Tukangan, para wisatawan dapat menemukan banyak sekali pilihan homestay dengan konsep yang beragam. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau namun tetap memberikan kenyamanan layaknya sedang berada di rumah sendiri.

Kawasan ini memang menjadi surga bagi para pelancong dengan anggaran terbatas atau mereka yang senang bepergian ala backpacker. Namun perlu diingat, sebagian besar penginapan di sini tidak menyediakan area parkir mobil karena letaknya berada di pemukiman padat penduduk.

Alasan utama saya menginap di Jalan Tukangan adalah agar lebih dekat dengan lokasi Warung Moerni 78. Jarak antara penginapan dan destinasi kuliner ini sangatlah dekat, bahkan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki singkat.

Sambil menunggu warung tersebut buka pada pukul 09.00 WIB, saya menyempatkan diri untuk berkeliling pasar tradisional di sekitar Jalan Tukangan. Di pasar ini, pengunjung bisa menemukan banyak jajanan pasar tradisional yang menggugah selera.

Beberapa jenis kudapan tradisional yang tersedia di pasar sekitar Tukangan antara lain:

  • Kue cucur dengan tekstur pinggiran yang renyah.
  • Jenang manis yang lembut dan legit.
  • Serabi tradisional yang dimasak di atas tungku tanah liat.

Meskipun banyak jajanan, saya kesulitan menemukan kedai kopi yang sudah beroperasi sejak pagi hari. Hal ini dikarenakan masyarakat Yogyakarta lebih memiliki kebiasaan ngeteh di pagi hari daripada meminum kopi.

Warung angkringan yang menyediakan kopi biasanya baru mulai beroperasi pada sore hari menjelang waktu Magrib hingga dini hari. Mendekati pukul sembilan pagi, saya segera melangkahkan kaki menuju target utama perjalanan kuliner kali ini.

Meski jam di tangan menunjukkan kurang lima menit menuju waktu buka, gerbang warung tersebut masih tertutup rapat. Saya melihat beberapa karyawan di dalam sudah mulai sibuk mempersiapkan peralatan meski belum melayani pelanggan.

Kedisiplinan pemilik warung dalam mematuhi jam operasional patut diacungi jempol karena mereka baru membuka gerbang tepat di jam 9 pagi. Ternyata bukan hanya saya yang menunggu, ada beberapa wisatawan lain yang juga tampak antusias menanti di depan gerbang.

Begitu gerbang dibuka, para staf menyambut dengan hangat dan langsung mengarahkan kami menuju meja yang berisi daftar menu. Konsep yang diusung warung ini adalah hidangan segar yang baru dimasak setelah pesanan masuk ke dapur.

Tanpa ragu, mata saya langsung tertuju pada dua menu paling populer di sini, yaitu bistik sapi jawa dan es teler durian. Sembari menunggu pesanan diolah, saya menikmati suasana warung yang terasa sejuk meski matahari Yogyakarta mulai terasa menyengat.

Desain interior warung ini cukup lapang dengan penggunaan kursi bergaya vintage yang tersebar di tiga ruangan berbeda. Tidak banyak dekorasi yang mencolok, namun pilihan cat tembok yang natural memberikan kesan tenang bagi pengunjung.

Suasana di sini jauh berbeda dengan rumah makan modern yang biasanya bising oleh suara musik atau percakapan pengunjung yang keras. Di Warung Moerni 78, para tamu seolah memahami aturan tak tertulis untuk menjaga ketenangan demi menikmati keaslian rasa makanan.

Pesanan saya pun tiba tanpa perlu menunggu terlalu lama, terdiri dari semangkuk es teler dan sepiring bistik sapi jawa. Tampilan kedua hidangan ini terlihat sangat sederhana dan murni tanpa banyak hiasan tambahan yang tidak perlu.

Es teler durian di sini memiliki isian yang sangat melimpah dan beragam di dalam mangkuknya. Campuran bahannya terdiri dari potongan nangka, kelapa muda, puding, alpukat, serta tape ketan hijau yang berpadu sempurna.

Rincian bahan penyusun es teler durian yang legendaris ini meliputi:

  • Potongan nangka manis dan daging kelapa muda segar.
  • Puding lembut dan irisan buah alpukat.
  • Tape ketan hijau dan beberapa potong roti tawar.
  • Kuah santan asli dengan es serut halus khas tahun 90-an.

Daging buah durian dengan aroma yang sangat kuat ditempatkan di bagian paling atas sebagai pelengkap utama. Cita rasanya benar-benar autentik karena menggunakan gula asli dan santan murni tanpa tambahan krimer atau pemanis buatan yang lazim digunakan saat ini.

Menikmati es teler ini sebagai menu pembuka sarapan memberikan kesegaran yang luar biasa di tengah cuaca panas. Setelah itu, saya beralih ke menu bistik sapi jawa yang sudah tersaji manis di depan meja.

Penampilan bistik ini juga tergolong sederhana, menyerupai hidangan selat solo namun dengan karakteristik yang sedikit berbeda. Di dalam piringnya terdapat telur goreng mata sapi, kentang goreng, buncis, wortel, selada, dan mentimun.

Komponen utama berupa bulatan daging panggang disajikan dengan kuah berwarna merah lembut yang terasa ringan di lidah. Irisan bawang bombai yang melimpah memberikan aroma dan rasa yang kuat namun tetap sederhana sesuai namanya.

David, yang merupakan generasi ketiga pengelola warung ini, menjelaskan filosofi di balik nama murni yang mereka gunakan. Menurutnya, nama tersebut menjadi komitmen keluarga untuk selalu menggunakan bahan-bahan alami dalam setiap masakan.

"Kami tetap konsisten sejak tahun 1978 untuk tidak menggunakan bahan penguat rasa kimia dan hanya memakai bahan alami," ujar David saat ditemui pada Selasa (19/5/2026).

David menambahkan bahwa rahasia kelezatan kuah bistik sapi mereka terletak pada penggunaan kaldu ayam murni, tomat, dan bawang bombai. Untuk bagian dagingnya, mereka mencampurkannya dengan tepung roti agar teksturnya menjadi lebih padat saat digoreng.

Informasi Mengenai Warung Moerni 78 Yogyakarta:

Kategori Keterangan
Tahun Berdiri 1978
Menu Andalan Bistik Sapi Jawa dan Es Teler Durian
Jam Operasional 09.00 WIB - Selesai
Lokasi Kawasan Jalan Tukangan, Yogyakarta
Keunggulan Bahan alami tanpa penyedap rasa buatan

Tabel di atas merangkum informasi penting bagi Anda yang berencana mengunjungi warung legendaris ini saat berada di Yogyakarta. Dengan porsi yang pas dan harga bersahabat, tempat ini sangat direkomendasikan untuk destinasi sarapan.

Warung Moerni 78 telah berhasil bertahan melewati berbagai generasi dengan tetap mempertahankan kualitas rasa yang dirindukan. Setiap suapan makanannya seolah membawa kita kembali pada memori masa lalu yang penuh dengan ketulusan rasa.

Bagi generasi milenial, tempat ini adalah ruang nostalgia, sementara bagi generasi Z, ini adalah sebuah pengalaman mencicipi rasa yang jujur di tengah gempuran makanan instan. Jejak rasa yang ditinggalkan akan selalu tersimpan rapat dalam ingatan setiap pengunjungnya.

Artikel terkait

Rekomendasi