Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Arif Havas Oegroseno, menyampaikan pesan mendalam kepada generasi muda mengenai urgensi menjaga ekosistem laut. Pesan ini disampaikan di tengah pelaksanaan program Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026 yang berlangsung baru-baru ini.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berkolaborasi dengan Sampoerna University dan Blue Ocean Academy untuk menyelenggarakan kompetisi inovasi maritim tersebut. Dalam kesempatan itu, Havas menekankan bahwa masa depan kawasan Asia Tenggara sangat bergantung pada kesehatan wilayah perairan.
Havas mengingatkan anak muda Indonesia dan regional bahwa laut bukan sekadar hamparan air yang luas. Bagi masyarakat di Asia Tenggara, laut berfungsi sebagai urat nadi kehidupan yang menopang berbagai sektor vital.
Data menunjukkan bahwa sekitar 70 persen wilayah bumi tertutup oleh air, dan angka yang serupa juga berlaku untuk wilayah Asia Tenggara. Hal ini menjadikan laut sebagai elemen yang tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan hidup penduduk di kawasan ini.
Havas merinci bahwa hampir seluruh negara di Asia Tenggara, mulai dari Indonesia, Thailand, Malaysia, hingga Filipina, memiliki wilayah laut yang luas. Satu-satunya negara di kawasan ini yang tidak berbatasan langsung dengan laut hanyalah Laos.
Kondisi geografis tersebut membuat negara-negara di kawasan ini memiliki tingkat ketergantungan yang sangat ekstrem terhadap sumber daya kelautan. Oleh karena itu, kesadaran kolektif untuk menjaga wilayah perairan menjadi sangat krusial bagi masa depan bersama.
Fakta penting mengenai ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap wilayah pesisir:
- Sekitar 60 persen penduduk Indonesia saat ini mendiami wilayah pesisir yang membentang di sepanjang garis pantai nusantara.
- Kehidupan ekonomi dan sosial mayoritas masyarakat tersebut sangat bergantung pada kelestarian ekosistem laut yang sehat.
Meskipun memiliki potensi yang besar, kekayaan maritim di Asia Tenggara saat ini sedang berada di bawah bayang-bayang ancaman serius. Havas menyoroti berbagai isu lingkungan yang jika dibiarkan akan merusak ekosistem dalam jangka panjang.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi meliputi penumpukan sampah plastik di lautan, kerusakan terumbu karang yang masif, hingga penggundulan hutan mangrove. Persoalan ini membutuhkan solusi inovatif yang segera diimplementasikan oleh generasi penerus.
Guna menjawab tantangan tersebut, Kemlu memberikan dukungan penuh pada ajang Youth ESG in Maritime Innovation Challenge. Program ini mendorong peserta internasional untuk menciptakan solusi konkret berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Menurut Havas, pola pikir generasi muda harus mampu menerjemahkan ketiga pilar ESG tersebut ke dalam aksi nyata di sektor maritim. Integrasi ketiga aspek ini dianggap sebagai kunci utama dalam membangun ekosistem laut yang berkelanjutan.
Penjelasan mengenai tiga pilar utama dalam kerangka kerja maritim masa depan:
| Pilar ESG | Fokus Utama dan Makna Strategis |
|---|---|
| Environmental | Melindungi lingkungan maritim dari segala bentuk kerusakan dan pencemaran ekosistem. |
| Social | Menjamin kesejahteraan masyarakat yang kehidupannya bergantung langsung pada kesehatan laut. |
| Governance | Membangun kepercayaan melalui sistem tata kelola pemerintahan yang transparan dan kuat. |
Ketiga elemen di atas diharapkan dapat bersinergi untuk menciptakan lingkungan maritim yang tetap terjaga kelestariannya. Dengan tata kelola yang baik, kepercayaan antara masyarakat, pemerintah, dan industri dapat terbangun dengan lebih kuat.
Sejalan dengan wejangan Wamenlu, Sora Lokita selaku perwakilan dari Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan juga memberikan pandangannya. Ia menyatakan bahwa tantangan maritim di Asia Tenggara saat ini sudah sangat kompleks.
Pemerintah dan sektor industri diakui tidak akan mampu bergerak sendirian dalam mengatasi berbagai ancaman di wilayah perairan. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan energi dan pemikiran segar dari anak-anak muda.
Sora menegaskan bahwa partisipasi penuh generasi muda merupakan syarat mutlak untuk menyelamatkan masa depan laut regional. Tanpa keterlibatan mereka, upaya pelestarian lingkungan maritim akan sulit mencapai hasil yang optimal.
Melalui inovasi dan cara-cara baru, diharapkan tekanan terhadap lingkungan laut dapat ditekan secara signifikan. Inisiatif seperti Youth ESG ini menjadi langkah awal yang strategis dalam melahirkan pemimpin masa depan yang peduli pada isu maritim.
Kesadaran yang dibangun sejak dini akan menjadi modal berharga bagi Indonesia dan negara tetangga dalam menjaga kedaulatan serta kekayaan alamnya. Masa depan laut dunia kini berada di tangan generasi yang memiliki visi hijau dan keberlanjutan.