Viral Ubi Cream Cheese: Dokter Gizi Ingatkan Risiko Kesehatan di Balik Tren Dessert Kekinian

Viral Ubi Cream Cheese: Dokter Gizi Ingatkan Risiko Kesehatan di Balik Tren Dessert Kekinian
Foto: Ilustrasi Viral Ubi Cream Cheese: Dokter Gizi Ingatkan Risiko Kesehatan di Balik Tren Dessert Kekinian.
Ukuran teks

Tren ubi cream cheese belakangan ini tengah menjamur dan menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial maupun pusat perbelanjaan. Banyak masyarakat rela mengantre demi mencicipi kudapan ini karena dianggap sebagai pilihan camilan yang lebih sehat dibandingkan hidangan penutup lainnya.

Kepopuleran menu ini didorong oleh persepsi bahwa ubi merupakan bahan pangan alami atau real food yang jauh lebih baik daripada roti. Namun, para ahli gizi mengingatkan bahwa ubi yang sehat bisa berubah menjadi sumber kalori tinggi jika dikombinasikan dengan bahan tambahan tertentu.

Waspada Lonjakan Kalori di Balik Topping Kekinian

Dokter spesialis gizi klinik, dr. Raissa E. Djuanda, SpGK, menjelaskan bahwa penggunaan ubi sebagai bahan utama sering kali memberikan kesan bahwa makanan ini otomatis menyehatkan. Padahal, tambahan topping yang kaya akan lemak dan gula secara signifikan akan meningkatkan total kalori dalam satu porsi.

Beliau menekankan agar masyarakat tidak terkecoh dan mengonsumsinya secara berlebihan hanya karena label "sehat" tersebut. Menurutnya, jika ditambahkan cream cheese dan pemanis secara royal, nilai gizi dan kalorinya bisa setara dengan hidangan penutup manis pada umumnya.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mengonsumsi ubi cream cheese secara sehat:

  • Kandungan Lemak Jenuh: Bahan cream cheese memiliki kadar lemak jenuh yang cukup tinggi sehingga perlu dibatasi.
  • Tambahan Pemanis: Penggunaan susu kental manis sebagai pelengkap dapat memicu lonjakan kadar gula dalam makanan.
  • Kontrol Porsi: Jangan mengonsumsi dalam jumlah besar hanya karena menganggapnya sebagai camilan berbasis sayuran.
  • Dominasi Nutrisi: Bahan tambahan yang berlebihan sering kali menutupi manfaat asli dari ubi itu sendiri.

Penting bagi konsumen untuk tetap bijak dalam memilih porsi agar manfaat kesehatan dari ubi tidak hilang akibat tambahan bahan pelengkap yang kurang sehat.

Manfaat Ubi vs Risiko Penambahan Bahan Lain

Senada dengan hal tersebut, dr. Tjandraningrum, SpGK, memaparkan bahwa ubi sebenarnya merupakan sumber karbohidrat kompleks yang sangat baik bagi tubuh. Sifat ubi yang lambat diserap oleh saluran pencernaan menjadikannya pilihan pangan yang mengenyangkan dan stabil bagi energi.

Namun, manfaat alami tersebut bisa berkurang drastis saat dipadukan dengan lemak jenuh dari keju krim. Kombinasi lemak yang tinggi ini berisiko memicu gangguan kesehatan tertentu pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap lemak jenuh atau masalah kolesterol.

Berikut adalah ringkasan perbandingan antara ubi murni dengan ubi olahan kekinian:

Aspek Penilaian Ubi Murni (Dikukus/Bakar) Ubi Cream Cheese Viral
Jenis Karbohidrat Karbohidrat Kompleks Karbohidrat & Gula Sederhana
Kandungan Serat Sangat Tinggi Tinggi, namun bercampur lemak
Kadar Lemak Sangat Rendah Tinggi (dari Keju & Susu)
Kecepatan Serap Lambat (Indeks Glikemik Rendah) Cepat (karena tambahan gula)

Tabel di atas menunjukkan bahwa pengolahan dan penambahan bahan pelengkap sangat menentukan apakah sebuah makanan tetap sehat atau justru menjadi bumerang bagi tubuh.

Dokter Tjandraningrum juga menyoroti penggunaan susu kental manis yang sering ditemukan dalam olahan ubi kekinian ini. Kandungan gula yang dominan membuat nutrisi asli ubi menjadi kalah bersaing dengan asupan kalori kosong dari pemanis tambahan tersebut.

Sebagai kesimpulan, ubi memang bahan pangan yang luar biasa baik untuk kesehatan selama diolah dengan cara yang tepat. Menikmati tren kuliner tentu diperbolehkan, asalkan tetap memperhatikan keseimbangan nutrisi dan tidak mengabaikan risiko dari asupan gula serta lemak berlebih.

Artikel terkait

Rekomendasi