Viral, Pasien Hantavirus di RSHS Meninggal Dunia: Fakta Mengejutkan!

Viral, Pasien Hantavirus di RSHS Meninggal Dunia: Fakta Mengejutkan!
Foto: Viral, Pasien Hantavirus di RSHS Meninggal Dunia: Fakta Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Media sosial tengah dihebohkan dengan kabar meninggalnya seorang pasien akibat Hantavirus di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Isu ini memicu kekhawatiran publik karena berdekatan dengan laporan pemantauan kontak erat Hantavirus dari kapal MV Hondius di RSPI Sulianti Saroso.

Banyak warga net yang berspekulasi bahwa kasus di Bandung berkaitan dengan jenis Andes Virus yang ditemukan pada MV Hondius. Jika benar, dikhawatirkan penyebaran virus tersebut sudah meluas di tengah masyarakat Indonesia.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, memberikan klarifikasi tegas mengenai kabar tersebut. Beliau memastikan bahwa kedua temuan kasus tersebut sama sekali tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

Andi menjelaskan bahwa kematian pasien di Bandung merupakan kasus lama yang terjadi pada tahun 2025. Selain itu, tipe klinis yang dialami pasien tersebut adalah HFRS, bukan tipe HPS seperti yang diwaspadai pada kru kapal MV Hondius.

Perbedaan Tipe Hantavirus

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa Hantavirus memiliki beberapa klasifikasi klinis yang berbeda. Perbedaan ini mencakup wilayah penyebaran, tingkat fatalitas, hingga cara penularannya kepada manusia.

Berikut adalah poin-poin utama perbedaan antara tipe HPS dan HFRS yang perlu diketahui:

  • Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Dipicu oleh Andes Virus yang dominan di Benua Amerika dengan menyerang fungsi paru-paru dan jantung.
  • Tingkat Kematian HPS: Sangat berbahaya dengan angka fatalitas mencapai 60 persen dan merupakan satu-satunya jenis yang bisa menular antarmanusia.
  • Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Dominan ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia, dengan gejala demam berdarah yang disertai gangguan ginjal.
  • Tingkat Kematian HFRS: Relatif lebih rendah dibandingkan HPS, yakni berada di kisaran angka 5 hingga 15 persen saja.

Data menunjukkan bahwa kasus HFRS bukanlah hal baru di Indonesia karena telah terdeteksi sejak tahun 1991. Sejauh ini, jenis hantavirus selain Andes Virus hanya bisa menular melalui kontak langsung dengan hewan pengerat, bukan antarmanusia.

Kronologi Kasus di Bandung

Munculnya narasi kematian pasien di Bandung bermula dari sesi kilas balik dalam sebuah agenda sosialisasi kesehatan. Dokter spesialis penyakit dalam RSHS Bandung, Elisabeth Hutajulu, memaparkan riwayat klinis salah satu pasien di Indonesia.

Pasien yang merupakan seorang buruh bangunan tersebut dilaporkan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan selama tiga hari. Sebelum kondisinya memburuk, ia sempat mengalami sejumlah gejala fisik yang cukup serius selama sekitar satu pekan.

Berikut adalah rangkaian gejala yang dialami pasien sebelum dinyatakan meninggal dunia:

  • Demam tinggi yang disertai rasa nyeri hebat pada perut bagian kanan.
  • Perubahan warna urine menjadi pekat serta kondisi mata dan tubuh yang menguning.
  • Rasa sakit pada bagian otot yang diikuti dengan sesak napas akut.

Kondisi pasien terus mengalami penurunan hingga tim medis memutuskan untuk melakukan tindakan intubasi atau pemasangan alat bantu napas. Namun, pihak keluarga pasien menolak prosedur medis tersebut hingga akhirnya pasien dinyatakan meninggal dunia.

Sebagai perbandingan tambahan untuk membantu memahami risiko klinis dari kedua tipe virus ini, silakan simak tabel berikut.

Tabel Perbandingan Karakteristik Klinis Hantavirus:

Karakteristik Tipe HPS (Andes Virus) Tipe HFRS (Umum di RI)
Organ yang Diserang Paru-paru & Jantung Ginjal
Wilayah Utama Amerika Asia & Eropa
Tingkat Kematian Hingga 60% 5% - 15%
Penularan Antarmanusia Bisa Tidak Bisa

Ringkasan perbandingan di atas mempertegas bahwa kasus yang terjadi di Bandung tahun lalu memiliki risiko penularan yang jauh lebih rendah. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak termakan informasi yang menghubungkan kedua kejadian tersebut secara keliru.

Artikel terkait

Rekomendasi