Pemerintah China secara resmi merevisi jumlah korban meninggal dunia akibat ledakan dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi. Data terbaru menunjukkan angka kematian mencapai 82 orang, turun dari laporan awal yang menyebutkan sedikitnya 90 jiwa melayang.
Koreksi data ini disampaikan langsung oleh otoritas setempat dalam konferensi pers yang digelar Sabtu malam waktu setempat. Perubahan angka terjadi karena adanya kesalahan penghitungan di tengah situasi genting sesaat setelah insiden terjadi.
Penyebab Ketidakakuratan Data Korban
Guo Xiaofang, Kepala Wilayah Qinyuan, menjelaskan bahwa kekacauan di lokasi kejadian menjadi pemicu utama simpang siurnya informasi jumlah korban. Selain itu, sistem administrasi pekerja dari pihak perusahaan yang kurang jelas membuat pendataan awal menjadi tidak akurat.
Hingga saat ini, tercatat masih ada dua orang pekerja yang dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian. Sebanyak 128 orang lainnya mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Berikut adalah ringkasan data pekerja saat insiden ledakan terjadi:
- Total pekerja yang berada di bawah tanah saat kejadian mencapai 247 orang.
- Jumlah korban meninggal dunia yang telah terkonfirmasi sebanyak 82 orang.
- Korban luka-luka yang mendapatkan perawatan medis berjumlah 128 orang.
- Pekerja yang berhasil selamat tanpa luka berjumlah 35 orang.
Data ini mencakup seluruh personel yang bertugas di bawah tanah ketika ledakan hebat tersebut mengguncang area tambang pada Jumat malam.
Sanksi Tegas Bagi Pengelola Tambang
Tambang Liushenyu merupakan bagian dari operasional Shanxi Tongzhou Coal Coking Group yang kini tengah dalam pengawasan ketat pemerintah. Sebagai konsekuensi dari tragedi ini, otoritas telah menutup seluruh operasional di empat tambang milik grup perusahaan tersebut.
Tak hanya penghentian operasional, sejumlah eksekutif perusahaan juga telah ditahan untuk menjalani proses hukum. Pemerintah berkomitmen mengusut tuntas penyebab kecelakaan dan menuntut pertanggungjawaban dari pihak pengelola.
Bencana Tambang Terburuk dalam Belasan Tahun
Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan pertambangan paling mematikan di China dalam kurun waktu 17 tahun terakhir. Skala kerusakannya hampir mendekati tragedi ledakan tambang di Provinsi Heilongjiang pada 2009 yang menewaskan 108 orang.
Operasi penyelamatan skala besar telah dikerahkan sejak Sabtu pagi untuk mengevakuasi para pekerja yang terjebak. Sebanyak 345 personel tim penyelamat dan petugas darurat diterjunkan langsung ke lokasi bencana di Changzhi.
Rincian peristiwa ledakan tambang batu bara Liushenyu:
| Kategori Informasi | Detail Kejadian |
|---|---|
| Waktu Kejadian | Jumat malam, 22 Mei 2026 |
| Lokasi Utama | Tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi |
| Jumlah Tim Penyelamat | 345 Personel |
| Status Operasional | Ditutup total untuk investigasi |
Tabel di atas merangkum aspek penting mengenai waktu dan penanganan darurat yang dilakukan oleh pemerintah China di lokasi kejadian.
Instruksi Langsung dari Presiden Xi Jinping
Presiden China, Xi Jinping, memberikan atensi khusus terhadap tragedi ini dengan menginstruksikan pengerahan segala upaya dalam menangani korban. Beliau menekankan pentingnya perawatan maksimal bagi korban luka serta percepatan pencarian mereka yang masih hilang.
Xi Jinping juga memperingatkan seluruh wilayah dan departemen terkait untuk mengambil pelajaran berharga dari kecelakaan mematikan ini. Ia mendesak adanya peningkatan kewaspadaan terhadap keselamatan kerja guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.
Otoritas kini sedang mendalami laporan mengenai bau belerang menyengat yang sempat terdeteksi sebelum ledakan terjadi. Investigasi menyeluruh diharapkan dapat mengungkap penyebab teknis di balik musibah besar di sektor pertambangan ini.