Trump Siapkan Surat Instruksi Khusus untuk Wakilnya Jika Terjadi Hal Buruk di China

Trump Siapkan Surat Instruksi Khusus untuk Wakilnya Jika Terjadi Hal Buruk di China
Foto: Ilustrasi Trump Siapkan Surat Instruksi Khusus untuk Wakilnya Jika Terjadi Hal Buruk di China.
Ukuran teks

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah menyiapkan sebuah surat khusus yang ditujukan kepada Wakil Presiden JD Vance. Surat ini kabarnya disimpan sebagai langkah antisipasi apabila Trump meninggal dunia atau menjadi korban pembunuhan.

Kabar mengenai keberadaan dokumen rahasia tersebut diungkapkan oleh Sebastian Gorka, seorang pejabat senior kontraterorisme di Gedung Putih. Gorka menyampaikan informasi ini dalam sebuah sesi wawancara podcast pada Rabu (13/5/2026).

Menurut keterangan Gorka, surat tersebut diletakkan di dalam laci Meja Resolute, meja kerja ikonik di Ruang Oval. Meski demikian, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai apa saja poin-poin yang tertulis di dalam surat tersebut.

Pernyataan ini mencuat ke publik tepat saat Trump sedang menjalani kunjungan kenegaraan ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Meskipun isu keamanan menjadi sorotan, Gorka menegaskan bahwa dirinya tidak merasa khawatir dengan keselamatan sang presiden selama di luar negeri.

Ia meyakini bahwa prosedur pengamanan terhadap Presiden AS saat ini sudah sangat maksimal. Menurut penilaian pribadinya, posisi presiden dalam kondisi yang sangat aman meski berada di wilayah asing.

Fokus pada Keberlanjutan Pemerintahan

Keberadaan surat tersebut secara langsung mengarah pada skenario suksesi kepemimpinan jika terjadi situasi darurat pada Trump. Sebagai Wakil Presiden, JD Vance merupakan sosok pertama yang akan mengambil alih tanggung jawab kepresidenan.

Berdasarkan Amandemen ke-25 Konstitusi Amerika Serikat, wakil presiden akan segera dilantik menjadi presiden sementara jika pemimpin negara meninggal dunia. Hal ini menjamin tidak adanya kekosongan kekuasaan dalam pemerintahan AS.

Diskusi mengenai suksesi ini menjadi semakin relevan mengingat usia Donald Trump yang kini hampir menyentuh angka 80 tahun. Selain faktor usia, risiko keamanan yang tinggi selama perjalanan internasional juga menjadi pertimbangan serius bagi Gedung Putih.

Kekhawatiran publik bukannya tanpa alasan, sebab Trump telah menghadapi berbagai ancaman nyata belakangan ini. Laporan resmi menunjukkan adanya beberapa rencana pembunuhan yang berhasil diungkap oleh pihak keamanan hanya dalam hitungan minggu terakhir.

Tercatat ada tiga upaya pembunuhan yang diketahui publik dalam kurun waktu kurang dari dua tahun terakhir. Insiden tersebut terjadi di berbagai lokasi berbeda, termasuk peristiwa penembakan di Butler, Pennsylvania, serta kejadian di West Palm Beach, Florida.

Bahkan, sebuah percobaan pembunuhan dilaporkan terjadi baru-baru ini pada 25 April 2026. Peristiwa tersebut berlangsung sangat dekat dengan pusat kekuasaan, yakni saat acara makan malam resmi di Gedung Putih, Washington DC.

Hasil Pertemuan Diplomatik di Beijing

Terlepas dari isu keamanan yang membayangi, Trump telah menyelesaikan agenda diplomatiknya dengan Presiden Xi Jinping di Beijing. Pertemuan tingkat tinggi tersebut berlangsung selama dua hari pada tanggal 14 hingga 15 Mei 2026.

Sekembalinya dari China, Trump mengklaim telah berhasil mencapai kesepakatan perdagangan yang sangat menguntungkan. Ia menyebut hasil negosiasi dengan Xi Jinping sebagai kesepakatan yang luar biasa bagi ekonomi Amerika Serikat.

Beberapa sektor utama yang menjadi fokus kesepakatan antara Amerika Serikat dan China meliputi:
  • Sektor pertanian untuk meningkatkan volume ekspor produk pangan antar kedua negara.
  • Industri penerbangan guna memperkuat kerja sama teknis dan pengadaan armada udara.
  • Pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menjadi fokus kompetisi global saat ini.
  • Upaya meredakan ketegangan di wilayah geostrategis, khususnya terkait konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Kesepakatan ini diharapkan dapat memperbaiki hubungan bilateral yang sempat menegang di beberapa area strategis. Trump dan Xi Jinping tampak berusaha mencari titik temu guna menjaga stabilitas ekonomi global.

Donald Trump telah bertolak meninggalkan Beijing pada Jumat sore menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One. Ia terbang langsung dari Bandara Internasional Ibu Kota Beijing menuju Washington DC setelah menyelesaikan seluruh rangkaian agenda resminya.

Artikel terkait

Rekomendasi