Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan mengambil langkah tegas dengan memperketat poin-poin dalam draf kesepakatan damai untuk menghentikan konflik dengan Iran. Washington bahkan telah mengirimkan revisi klausul tersebut kepada pihak Teheran untuk dipelajari lebih lanjut.
Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam Trump mengenai potensi konsesi finansial yang dianggap terlalu menguntungkan Iran. Dua pejabat tinggi AS menyebutkan bahwa Trump sangat menyoroti poin-poin yang berkaitan dengan pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Hingga saat ini, detail spesifik mengenai perubahan dalam kerangka perjanjian tersebut belum diungkapkan secara terbuka kepada publik. Namun, sikap keras ini menunjukkan ambisi Trump untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi kepentingan Amerika Serikat.
Menghindari Kesalahan Kebijakan Masa Lalu
Keputusan Trump untuk menahan pencairan dana Iran berakar dari kritiknya yang tajam terhadap kebijakan pemerintahan sebelumnya. Ia sering mengecam langkah Barack Obama yang mencairkan aset Iran saat menandatangani perjanjian nuklir lebih dari sepuluh tahun silam.
Selain masalah finansial, Trump juga dilaporkan merasa tidak puas dengan lambatnya respons Iran terhadap usulan perdamaian yang dikirim Washington. Proses komunikasi ini berlangsung cukup rumit karena harus melibatkan pihak ketiga, termasuk Pakistan, sebagai perantara diplomatik.
Perubahan syarat ini diduga merupakan strategi untuk menekan Iran agar segera menyetujui kerangka kerja yang telah dikirimkan. Dokumen tersebut kini berada di tangan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, untuk mendapatkan persetujuan akhir.
Poin-poin utama dalam usulan kesepakatan damai tersebut meliputi:
- Penghentian Operasi Militer: Kampanye militer gabungan AS dan Israel terhadap wilayah Iran akan diakhiri secara efektif.
- Pembukaan Jalur Maritim: Iran diwajibkan mencabut blokade di Selat Hormuz guna menjamin kelancaran arus perdagangan global.
- Penundaan Isu Nuklir: Masalah sensitif mengenai masa depan program nuklir Iran akan dibahas pada putaran negosiasi berikutnya.
- Tekanan Diplomasi: Penggunaan nota kesepahaman baru sebagai alat untuk mempercepat keputusan dari pihak Teheran.
Meskipun poin-poin di atas menjadi landasan utama, proses birokrasi di internal Iran seringkali memicu penundaan tambahan dalam pengambilan keputusan. Setiap perubahan kecil pada dokumen kesepakatan dapat memakan waktu lama untuk disetujui oleh otoritas tertinggi di sana.
Komitmen Trump untuk Hasil yang Maksimal
Pada Jumat (29/5/2026), Trump menggelar pertemuan tertutup selama dua jam di Ruang Situasi bersama para penasihat utamanya. Meski agenda utama adalah membahas akhir perang, pertemuan tersebut berakhir tanpa ada pengumuman resmi terkait hasil kesepakatan.
Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak ingin terburu-buru dalam menjalin kesepakatan dengan Iran. Ia lebih memilih menunggu demi memastikan hasil akhir yang didapat benar-benar signifikan dan memberikan keuntungan besar bagi Amerika Serikat.
Berikut adalah ringkasan mengenai status terkini negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran:
| Aspek Negosiasi | Status dan Tindakan Terkini |
|---|---|
| Posisi Aset Finansial | Trump memperketat syarat dan menolak pencairan dana secara cuma-cuma. |
| Peran Pihak Ketiga | Pakistan terlibat aktif sebagai perantara komunikasi antar kedua negara. |
| Stabilitas Regional | Fokus utama pada pembukaan kembali Selat Hormuz untuk jalur kapal. |
| Target Waktu | AS bersikap fleksibel dan tidak tergesa-gesa demi mencapai hasil maksimal. |
Ringkasan di atas memperlihatkan bahwa fokus utama Trump saat ini adalah menjaga keseimbangan antara perdamaian dan keamanan ekonomi. AS tetap pada pendiriannya untuk tidak mengulangi pola kerja sama yang dianggap merugikan di masa lalu.