Trend Micro Resmi Rebranding Jadi Trend AI, Inovasi Terbaru Keamanan Siber 2026 yang Banyak Dicari

Trend Micro Resmi Rebranding Jadi Trend AI, Inovasi Terbaru Keamanan Siber 2026 yang Banyak Dicari
Foto: Trend Micro Resmi Rebranding Jadi Trend AI, Inovasi Terbaru Keamanan Siber 2026 yang Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Perusahaan keamanan siber ternama, Trend Micro Indonesia, secara resmi memperkenalkan identitas baru mereka yang kini bernama TrendAI khusus untuk segmen bisnis enterprise.

Langkah ini bukan sekadar pergantian nama atau rebranding estetika semata, melainkan respons terhadap perubahan besar dalam peta keamanan siber dunia.

Saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah digunakan secara masif di berbagai aktivitas digital, namun sayangnya juga dimanfaatkan untuk tujuan negatif.

Teknologi AI tidak lagi hanya berfungsi untuk merangkum dokumen atau membuat konten kreatif, tetapi mulai dipakai untuk mengotomatisasi serangan siber yang kompleks.

Kecepatan Serangan Ransomware di Era AI

Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana, menyoroti bagaimana AI mampu mempercepat durasi serangan ransomware yang sebelumnya memerlukan proses panjang.

Dahulu, serangan ransomware membutuhkan waktu paling cepat sekitar delapan bulan untuk benar-benar melumpuhkan targetnya melalui proses manual.

Fetra Syahbana menjelaskan perbandingan durasi serangan tersebut sebagai berikut:

  • Sebelum Era AI: Proses serangan ransomware membutuhkan waktu minimal 8 bulan pengerjaan manual.
  • Setelah Era AI: Serangan serupa kini bisa terjadi sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan 15 menit saja.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Fetra dalam sebuah wawancara eksklusif bersama KompasTekno di kantor pusat TrendAI Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut pandangannya, percepatan ini telah mengubah lanskap keamanan siber secara drastis karena proses eksploitasi kini berjalan otomatis dalam skala besar.

Transformasi Pola Serangan Siber yang Semakin Agresif

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, teknologi AI sebenarnya sudah mulai diintegrasikan ke dalam berbagai industri keamanan siber global.

Namun, pada masa lalu penggunaan teknologi ini umumnya terbatas hanya untuk membantu fase pengintaian atau sekadar pembuatan alat otomatis sederhana.

Kini kemampuan AI telah berkembang menjadi jauh lebih agresif dengan mengambil alih hampir seluruh siklus serangan siber secara mandiri.

Mulai dari pencarian target potensial hingga proses eksploitasi akhir, semuanya bisa dilakukan oleh sistem kecerdasan buatan tanpa campur tangan manusia.

Hal ini membuat ancaman siber menjadi kian sulit untuk diprediksi karena AI mampu melakukan simulasi serangan dan mencari celah baru dalam waktu singkat.

AI bahkan memiliki kemampuan untuk mengombinasikan berbagai kerentanan (vulnerability) yang berbeda guna menciptakan pola serangan yang belum pernah ada sebelumnya.

Menemukan Celah Keamanan yang Tersembunyi

Selain kecepatan, AI juga dinilai sangat piawai dalam menemukan celah keamanan lama yang selama ini luput dari pengawasan atau deteksi manusia.

Salah satu contoh nyata adalah adanya kerentanan pada sistem Linux yang dikenal sebagai "Copy Fail" yang baru ditemukan baru-baru ini.

Menariknya, celah keamanan tersebut ternyata sudah ada selama lebih dari sepuluh tahun namun tidak pernah terdeteksi sebelumnya oleh para ahli.

Fetra berpendapat bahwa dalam pola serangan siber, AI sebenarnya tidak menciptakan ancaman yang benar-benar baru secara fundamental.

Fungsi utama AI dalam konteks ini adalah mengungkap kelemahan yang selama ini sudah ada tetapi dianggap tidak berbahaya atau tidak terlihat.

Ia menegaskan bahwa AI mampu menyatukan berbagai celah keamanan kecil yang tampak aman menjadi satu serangan siber yang sangat mematikan.

Artikel terkait

Rekomendasi