Selama satu tahun terakhir, Kota Semarang mengalami transformasi yang cukup signifikan di bawah kepemimpinan Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti dan Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin. Perubahan ini tidak hanya terlihat dari pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga menyentuh ritme keseharian warga melalui perbaikan ekosistem kota yang lebih menyeluruh.
Fokus utama kepemimpinan mereka terletak pada pembenahan sektor lingkungan, kesehatan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi kerakyatan. Pendekatan ini bertujuan menciptakan wajah baru Semarang yang lebih ramah lingkungan dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat.
Transformasi Layanan Kesehatan dan Kepesertaan UHC
Pemerintah Kota Semarang telah berhasil memperluas jangkauan layanan kesehatan secara inklusif dan merata bagi seluruh warga. Salah satu pencapaian yang menonjol adalah lonjakan signifikan pada kepesertaan Universal Health Coverage (UHC) dalam kurun waktu satu tahun.
Pada tahun 2024, jumlah peserta tercatat sebanyak 98.261 jiwa, namun angka ini meningkat tajam menjadi 228.859 jiwa pada tahun 2025. Penambahan lebih dari 130 ribu peserta ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memberikan jaminan kesehatan dasar yang luas.
Peningkatan infrastruktur kesehatan dilakukan melalui pembangunan dan rehabilitasi sejumlah fasilitas medis berikut:
- Rehabilitasi empat puskesmas utama, yaitu Puskesmas Tlogosari Kulon, Krobokan, Pegandan, dan Genuk.
- Pembangunan tiga puskesmas pembantu baru yang berlokasi di wilayah Ratu Ratih, Beringin, dan Jabungan.
- Penyediaan fasilitas kesehatan yang lebih dekat dengan pemukiman untuk memperpendek jarak akses layanan bagi warga.
- Penguatan fungsi puskesmas sebagai pusat layanan promotif dan preventif guna mencegah penyakit sejak dini.
Upaya masif ini dilakukan untuk memastikan setiap warga Semarang mendapatkan akses medis yang cepat tanpa terkendala jarak. Selain pembangunan fisik, pemerintah juga fokus pada kualitas pelayanan agar masyarakat merasa terlayani dengan baik dan profesional.
Keberhasilan Menekan Angka Stunting dan Penyakit Menular
Penanganan masalah kesehatan masyarakat seperti stunting dan Tuberkulosis (TB) juga menunjukkan progres yang menggembirakan. Melalui intervensi yang terarah, Pemerintah Kota Semarang berhasil menekan angka kasus stunting secara efektif di berbagai wilayah.
Berikut adalah data perkembangan penanganan kesehatan masyarakat di Kota Semarang:
| Indikator Kesehatan | Tahun 2024 | Tahun 2025 |
|---|---|---|
| Jumlah Kasus Stunting | 5.480 Balita | 3.560 Balita |
| Temuan Kasus Tuberkulosis (TB) | 7.304 Kasus | 6.144 Kasus |
| Angka Harapan Hidup | - | 78,72 Tahun |
| Indeks Pembangunan Manusia (IPM) | - | 85,80 |
Data di atas menggambarkan bahwa sebanyak 2.406 balita telah berhasil keluar dari risiko kekurangan gizi berkat program pendampingan keluarga. Program inovatif seperti daycare Rumah Pelita menjadi ujung tombak dalam memberikan asupan nutrisi dan edukasi bagi keluarga terdampak.
Mewujudkan Kota Berkelanjutan dan Kualitas Hidup Tinggi
Keberhasilan di sektor kesehatan ini berdampak langsung pada posisi Semarang di kancah nasional sebagai kota yang ramah lingkungan. Semarang kini dinobatkan sebagai Kota Paling Berkelanjutan Ketiga di Indonesia menurut penilaian UI Green Metric 2025.
Pemerintah kota mengintegrasikan kesehatan masyarakat dengan pelestarian lingkungan, termasuk rehabilitasi 10.000 batang mangrove dan perluasan ruang terbuka hijau. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas udara dan lingkungan hidup bagi warga kota.
Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa penguatan layanan dasar merupakan prioritas utama dalam masa jabatannya. Beliau menyebutkan bahwa ketika layanan kesehatan semakin dekat dan terjangkau, maka kualitas hidup warga akan meningkat secara nyata.
Capaian ini didukung oleh lima pilar pembangunan utama, yaitu Semarang yang Bersih, Sehat, Cerdas, Makmur, dan Tangguh. Hasilnya, tingkat kepuasan masyarakat mencapai 83,6 persen berdasarkan survei Litbang Kompas, yang menunjukkan dukungan kuat warga terhadap arah pembangunan saat ini.