Terjepit Harga Gas dan Rupiah, Begini Strategi Concord Tetap Optimis di 2026

Terjepit Harga Gas dan Rupiah, Begini Strategi Concord Tetap Optimis di 2026
Foto: Terjepit Harga Gas dan Rupiah, Begini Strategi Concord Tetap Optimis di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Industri keramik di dalam negeri kini sedang berada dalam posisi sulit akibat himpitan biaya produksi yang kian membengkak. Kenaikan harga gas bumi serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi faktor utama yang menekan sektor manufaktur ini.

Meskipun situasi ekonomi sedang menantang, PT Concord Industry menyatakan tetap optimistis dalam menjaga kelangsungan bisnisnya. Perusahaan terus berupaya melakukan inovasi produk dan memperluas jangkauan pasar demi mempertahankan pertumbuhan usaha.

Dampak Lonjakan Harga Energi dan Kurs Dollar

Herman Hamzah selaku Vice Director Ceramics Tile PT Concord Industry menjelaskan bahwa gas merupakan komponen vital dalam pembuatan keramik. Sayangnya, harga bahan bakar tersebut mengalami kenaikan yang sangat tajam dalam periode belakangan ini.

Rincian kenaikan biaya produksi yang dihadapi pelaku industri saat ini:

  • Harga gas yang semula berada di angka 6 dollar AS per MMBTU melonjak drastis hingga menyentuh kisaran 21 dollar AS per MMBTU.
  • Adanya potensi kenaikan harga gas lebih lanjut di masa mendatang yang semakin menambah beban operasional.
  • Nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga mendekati level Rp 18.000 per dollar AS turut memperberat biaya impor bahan baku atau mesin.

Data tersebut menunjukkan adanya lonjakan biaya energi lebih dari tiga kali lipat yang harus ditanggung oleh produsen. Kondisi ini memaksa para pelaku industri untuk melakukan berbagai penyesuaian agar operasional perusahaan tetap bisa bertahan.

Kekhawatiran Terhadap Daya Beli Masyarakat

Herman menekankan bahwa dukungan pemerintah sangat dibutuhkan, terutama dalam memberikan kebijakan harga energi yang lebih bersahabat. Tanpa intervensi, daya saing keramik buatan lokal dikhawatirkan akan terus merosot di pasar sendiri.

Ia juga mengingatkan bahwa produk keramik dan granit bukanlah kebutuhan pokok atau primer bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, jika harga jual terpaksa dinaikkan, hal ini akan berdampak langsung pada penurunan permintaan pasar.

Selain memengaruhi penjualan ritel, kenaikan harga material ini juga berisiko menghambat kelancaran berbagai proyek pembangunan. Jika permintaan lesu, keberlangsungan industri yang selama ini menyerap banyak tenaga kerja akan terancam.

Strategi Inovasi dan Pengembangan Produk

Guna menyiasati tantangan tersebut, Concord Industry memilih fokus pada pemanfaatan teknologi modern dan pembaruan desain. Strategi ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang membuat konsumen tetap memilih produk mereka.

Herman menceritakan bahwa perusahaan ini didirikan oleh Lin Kuang Ming pada tahun 2011 silam. Pabrik produksinya yang berlokasi di Karawang Timur, Jawa Barat, baru mulai beroperasi secara penuh sejak tahun 2015.

Berikut adalah ringkasan profil dan perkembangan PT Concord Industry:

Aspek Perkembangan Keterangan Detail
Tahun Pendirian Didirikan pada tahun 2011 oleh Lin Kuang Ming.
Lokasi Pabrik Karawang Timur, Jawa Barat (Mulai beroperasi 2015).
Evolusi Produk Beralih dari produksi keramik biasa ke granit ukuran besar (60x120 cm).
Fokus Bisnis Memenuhi kebutuhan konsumen melalui berbagai merek unggulan di tiap segmen.

Tabel di atas memperlihatkan transformasi perusahaan yang awalnya hanya memproduksi keramik hingga kini mampu menghasilkan granit berkualitas tinggi. Diversifikasi produk ini menjadi kunci penting bagi perusahaan untuk tetap relevan di tengah persaingan ketat.

Herman menutup penjelasannya dengan menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mendukung industri nasional. Pihaknya berharap ada solusi konkret dari pemangku kebijakan agar sektor keramik Indonesia tetap memiliki daya saing yang kuat.

Artikel terkait

Rekomendasi