Fabio Capello Bongkar Alasan Tendang Ronaldo dari Madrid: Mengejutkan, Bau Alkohol di Ruang Ganti

Fabio Capello Bongkar Alasan Tendang Ronaldo dari Madrid: Mengejutkan, Bau Alkohol di Ruang Ganti
Foto: Fabio Capello Bongkar Alasan Tendang Ronaldo dari Madrid: Mengejutkan, Bau Alkohol di Ruang Ganti. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Mantan pelatih legendaris Real Madrid, Fabio Capello, kembali mengenang masa kepemimpinannya di Santiago Bernabeu dengan mengungkap alasan utama di balik keputusannya mendepak Ronaldo Nazario. Meski mengagumi bakat luar biasa sang pemain, Capello merasa perilaku striker asal Brasil tersebut sudah melampaui batas toleransi profesional.

Berbicara dalam acara Milano Football Week, Capello mengakui bahwa Ronaldo merupakan pemain paling berbakat yang pernah ia tangani sepanjang karier kepelatihannya. Baginya, kemampuan teknis yang dimiliki peraih dua gelar Ballon d'Or tersebut berada di level yang jauh berbeda dibandingkan pemain lainnya.

Fabio Capello memuji kualitas teknis Ronaldo namun mengkritik etos kerjanya:

  • Ronaldo dianggap sebagai pemain terbaik yang pernah ditangani Capello meski tidak menyukai sesi latihan keras.
  • Memiliki kualitas unik yang tidak ditemukan pada pesepak bola lain di masanya.
  • Tetap menjadi figur ikonik di Real Madrid dengan torehan prestasi besar sebelum kepindahannya.
  • Memiliki sejarah panjang sebagai pemain termuda yang pernah memenangkan penghargaan Ballon d'Or.

Menurut Capello, kualitas permainan Ronaldo adalah sesuatu yang benar-benar istimewa dan tidak ada duanya di dunia sepak bola. Namun, ia juga menegaskan bahwa sang legenda memiliki kelemahan besar, yakni keengganan untuk berkorban demi kebugaran fisik dan rutinitas latihan.

Masalah Kedisiplinan dan Aroma Alkohol

Perselisihan antara pelatih dan pemain ini memuncak ketika gaya hidup malam Ronaldo mulai mengganggu stabilitas tim di ruang ganti. Capello mengungkapkan bahwa kebiasaan pesta "Il Fenomeno" telah memberikan dampak negatif terhadap keharmonisan skuad Real Madrid saat itu.

Kondisi ini diperparah dengan situasi di mana Ronaldo sering kali datang ke tempat latihan dalam kondisi yang tidak ideal untuk seorang atlet profesional. Capello tidak segan-segan membeberkan detail yang cukup mengejutkan mengenai kondisi sang pemain saat berada di lingkungan klub.

Beberapa poin krusial yang menyebabkan keretakan hubungan antara Capello dan Ronaldo:

  • Aroma alkohol yang tercium sangat jelas dari tubuh Ronaldo saat berada di ruang ganti pemain.
  • Kebiasaan berpesta di malam hari yang dilakukan secara rutin oleh sang striker legendaris.
  • Pengaruh buruk Ronaldo yang sering mengajak rekan-rekan setimnya untuk ikut serta dalam kehidupan malam.
  • Keputusan tegas Capello untuk menyingkirkan sang pemain demi menjaga kedisiplinan kolektif tim.

Pernyataan ini merupakan salah satu pengakuan paling blak-blakan yang pernah disampaikan Capello mengenai dinamika internal tim Los Blancos. Ia merasa terpaksa mengambil langkah drastis karena merasa otoritasnya sebagai pelatih mulai terancam oleh perilaku di luar lapangan tersebut.

Proses Kepindahan yang Tak Terduga ke Milan

Keputusan Capello untuk melepas Ronaldo ternyata menarik perhatian banyak pihak, termasuk dari luar Spanyol. Salah satu momen menarik terjadi ketika ia berkomunikasi dengan Silvio Berlusconi, yang saat itu menjabat sebagai pemilik AC Milan.

Capello menceritakan bagaimana percakapannya dengan Berlusconi secara tidak langsung memicu proses transfer sang pemain ke Liga Italia. Ia memberikan gambaran jujur mengenai karakter Ronaldo kepada pria yang juga pernah menjadi Perdana Menteri Italia tersebut.

Detail Percakapan Keterangan
Rencana Awal Real Madrid berniat menjual Ronaldo ke klub asal Arab Saudi.
Pertanyaan Berlusconi Menanyakan perilaku dan kebiasaan sehari-hari Ronaldo di Madrid.
Jawaban Capello Menjelaskan secara jujur bahwa Ronaldo sangat gemar berpesta dan bersenang-senang.
Hasil Akhir Keesokan harinya AC Milan justru resmi merekrut sang pemain.

Tabel di atas merangkum bagaimana proses komunikasi antara Capello dan manajemen Milan berlangsung hingga berakhir pada pengumuman transfer. Meskipun sudah diperingatkan mengenai sifat indisiplin sang pemain, Berlusconi tampaknya tetap tergiur dengan nama besar Ronaldo.

Kiprah Singkat di San Siro dan Masa Pensiun

Kepindahan Ronaldo ke AC Milan pada Januari 2007 menandai babak baru dalam kariernya setelah sempat berjaya bersama Inter Milan. Meskipun masanya di San Siro tidak berlangsung lama, ia tetap mampu memberikan kontribusi nyata bagi Rossoneri melalui gol-golnya.

Selama membela Milan, ia mencatatkan performa yang cukup solid dengan mencetak sembilan gol dan memberikan lima assist dalam 20 laga resmi. Statistik ini menunjukkan bahwa meski kebugarannya menurun, insting mencetak golnya tetap tajam di depan gawang lawan.

Setelah petualangannya di Italia berakhir, Ronaldo memilih untuk kembali ke tanah kelahirannya dan bergabung dengan klub Corinthians di Brasil. Di klub tersebut, ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya sebagai pemain profesional sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu.

Ronaldo secara resmi mengumumkan masa pensiunnya pada Februari 2011, mengakhiri perjalanan panjang salah satu penyerang terbaik dalam sejarah sepak bola. Kenangan akan kehebatannya di lapangan tetap abadi, meski cerita tentang perilakunya di luar lapangan kini terus terungkap ke publik.

Artikel terkait

Rekomendasi