Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Komunikasi (Bakom) melaporkan perkembangan terbaru program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga saat ini, tercatat sebanyak 62,4 juta orang telah menerima manfaat dari program skala nasional tersebut.
Cakupan penerima manfaat ini cukup luas, mulai dari pelajar dan balita hingga ibu hamil dan menyusui. Kelompok peserta didik menjadi kategori penerima terbesar dalam pelaksanaan program ini.
Berikut adalah rincian data penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis per Mei 2026:
| Kategori Penerima | Jumlah Penerima | Persentase dari Total Sasaran |
|---|---|---|
| Peserta Didik | 48.350.393 orang | 76,1% |
| Balita | 6.303.775 orang | 37,7% |
| Ibu Menyusui | 2.066.533 orang | 75,2% |
| Ibu Hamil | 868.259 orang | 35,3% |
| Santri | 644.664 orang | 44,2% |
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun jangkauan sudah luas, distribusi masih terus dioptimalkan agar menyentuh seluruh target nasional. Badan Gizi Nasional (BGN) terus memantau pemenuhan nutrisi bagi kelompok rentan ini secara berkala.
Infrastruktur dan Capaian Operasional
Demi menunjang kelancaran distribusi, pemerintah telah mengoperasikan 29.225 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Fasilitas ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
Sejak pertama kali diluncurkan pada 6 Januari 2025, total sajian yang telah dibagikan mencapai angka fantastis, yakni 8,3 miliar porsi. Sebanyak 374.175 sekolah di seluruh pelosok negeri juga telah terintegrasi dalam program ini.
Program MBG juga memberikan dampak positif bagi sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Tercatat ada sekitar 1.285.250 tenaga kerja yang terlibat aktif, mulai dari proses pengolahan bahan pangan hingga tahap distribusi ke penerima.
Kebijakan Efisiensi Anggaran
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan adanya langkah penghematan pada anggaran MBG. Kebijakan ini diambil sesuai dengan arahan Presiden untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana negara.
Saat ini, realisasi anggaran program MBG baru menyentuh angka Rp 75 triliun. Jumlah tersebut baru mencakup sekitar 22,4 persen dari total keseluruhan anggaran yang dibutuhkan untuk menjalankan program secara penuh.
Pemerintah melakukan penyesuaian anggaran dengan rincian sebagai berikut:
- Anggaran awal yang ditetapkan untuk tahun ini adalah sebesar Rp 335 triliun.
- Setelah dilakukan efisiensi, target anggaran saat ini dipangkas menjadi Rp 268 triliun.
- Langkah ini dimaksudkan agar dana pada Badan Gizi Nasional (BGN) dapat dikelola dengan lebih tepat sasaran.
Purbaya menekankan bahwa efisiensi ini tidak akan menghentikan keberlangsungan program utama. Pemerintah justru berencana melakukan penghematan lebih lanjut dengan tetap mengedepankan kualitas layanan bagi masyarakat.
Optimalisasi anggaran ini diharapkan mampu menjaga stabilitas fiskal tanpa mengurangi dampak positif program bagi perbaikan gizi nasional. Fokus utama tetap pada kelompok prioritas seperti ibu hamil, balita, dan anak sekolah guna mencetak generasi unggul.