Survei: 79 Persen Dokter Internship Keluhkan Beban Kerja Berat dan Sulit Cuti Sakit

Survei: 79 Persen Dokter Internship Keluhkan Beban Kerja Berat dan Sulit Cuti Sakit
Foto: Ilustrasi Survei: 79 Persen Dokter Internship Keluhkan Beban Kerja Berat dan Sulit Cuti Sakit.
Ukuran teks

Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Asosiasi Program Internsip Dokter (PIDI) dan Dokter Gigi Indonesia (PIDGI) mengungkap fakta memprihatinkan. Mayoritas peserta internship mengeluhkan beban kerja yang sangat berat dan fasilitas pendukung yang tidak memadai.

Survei singkat ini berlangsung pada 8 hingga 9 April 2026 dengan melibatkan 2.620 responden. Para peserta yang terlibat merupakan dokter yang aktif menjalani masa internship periode Mei 2025 hingga Februari 2026.

Beban Kerja Melebihi Batas Normal

Data survei menunjukkan bahwa tekanan kerja bagi para dokter muda ini sudah berada di level yang mengkhawatirkan. Sebagian besar responden merasa tanggung jawab yang mereka pikul tidak sebanding dengan status mereka sebagai peserta magang.

Berikut adalah poin utama terkait beban kerja yang dialami peserta:

  • Sebanyak 79,3 persen responden merasa beban kerja mereka setara atau bahkan lebih berat daripada dokter definitif.
  • Sekitar 12,5 persen peserta dilaporkan bekerja melampaui ambang batas jam kerja yang telah ditetapkan secara resmi.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi tugas di fasilitas kesehatan tempat mereka bertugas. Jam kerja yang panjang dan tanggung jawab besar menjadi keluhan utama yang terus berulang.

Masalah Kesehatan Kerja dan Jaminan Sosial

Selain beban fisik, aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga menjadi sorotan tajam dalam laporan tersebut. Banyak peserta yang merasa hak-hak dasar mereka sebagai tenaga medis tidak terpenuhi dengan baik.

Persentase temuan terkait keselamatan dan kesehatan kerja peserta:

  • Ada 16,9 persen peserta yang mengaku kesulitan mendapatkan jatah cuti meskipun dalam kondisi sakit.
  • Sebanyak 18,1 persen responden tidak memiliki jaminan kesehatan maupun ketenagakerjaan yang memadai selama bertugas.

Kesulitan mendapatkan waktu istirahat saat sakit dianggap sebagai masalah serius yang mengancam kesehatan mental dan fisik para dokter. Ketiadaan asuransi juga menambah risiko finansial bagi mereka saat menghadapi kecelakaan kerja.

Insentif di Bawah Upah Minimum

Masalah kesejahteraan ekonomi menjadi polemik yang tidak kalah krusial dalam laporan PIDI dan PIDGI. Bantuan Biaya Hidup (BBH) yang diterima para peserta dinilai masih jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam keterangan tertulisnya, survei menyebutkan bahwa 83,4 persen responden merasa insentif yang mereka terima belum mencukupi. Bahkan, tidak sedikit peserta yang melaporkan adanya keterlambatan pembayaran biaya hidup tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan temuan bahwa di beberapa daerah, nominal BBH berada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) setempat. Ketimpangan ini menunjukkan sistem kompensasi bagi dokter internship masih memerlukan evaluasi menyeluruh.

Pelanggaran Kompetensi dan Kurangnya Pengawasan

Isu keselamatan pasien turut mencuat karena adanya penugasan yang tidak sesuai dengan kewenangan medis peserta. Sebanyak 26,4 persen dokter mengaku diminta melakukan tindakan di luar kompetensi mereka.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya laporan mengenai praktik medis tanpa pendampingan dari dokter senior. Kurangnya supervisi ini secara langsung meningkatkan risiko kesalahan medis yang berbahaya bagi pasien.

Data mengenai kualitas pendampingan dan evaluasi di lapangan:

Aspek Pengawasan Hasil Survei
Tidak Mendapat Supervisi Rutin 23,3 Persen
Tidak Ada Evaluasi Berkala Wahana 62,8 Persen

Data di atas memperlihatkan bahwa sistem pembinaan dan pengawasan di lapangan belum berjalan sesuai regulasi. Tanpa evaluasi berkala, kualitas wahana internship sulit untuk ditingkatkan demi keamanan dokter maupun pasien.

Artikel terkait

Rekomendasi