Generasi Z selama ini sering dipandang sebagai kelompok yang mandiri dan kreatif dalam meniti karier. Namun, survei terbaru justru menunjukkan fenomena unik di mana banyak dari mereka mulai mengandalkan orang tua untuk mendampingi proses mencari kerja.
Laporan dari platform penyedia resume, Zety, mengungkap istilah career co-piloting untuk menggambarkan keterlibatan aktif orang tua dalam perjalanan karier anak-anaknya. Fenomena ini mencakup berbagai bentuk bantuan, mulai dari menyusun dokumen lamaran hingga hadir langsung di sesi wawancara.
Data Keterlibatan Orang Tua dalam Pencarian Kerja
Berdasarkan riset yang dilakukan pada Februari lalu, bantuan orang tua ternyata sangat mendominasi proses persiapan kerja Gen Z. Setidaknya 44 persen orang tua tercatat membantu anak-anak mereka dalam menyusun resume atau CV agar terlihat lebih profesional.
Keterlibatan ini bahkan meluas hingga ke tahap interaksi langsung dengan pihak perusahaan pemberi kerja. Berikut adalah rincian data mengenai bagaimana orang tua mendampingi Gen Z selama proses rekrutmen berlangsung:
Bentuk dukungan orang tua selama proses wawancara kerja:
- Sebanyak 15 persen responden Gen Z membawa orang tua mereka saat menghadiri wawancara kerja secara tatap muka.
- Sekitar 5 persen orang tua ikut serta mendampingi anaknya dalam sesi wawancara kerja yang dilakukan secara virtual.
- Secara keseluruhan, 1 dari 5 pencari kerja dari kalangan Gen Z mengajak orang tua mereka saat proses interview berlangsung.
- Beberapa orang tua bahkan terlibat aktif dalam melakukan negosiasi besaran gaji bagi anak mereka.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan besar di dunia kerja saat ini mendorong Gen Z untuk mencari sistem dukungan yang kuat. Keluarga dianggap sebagai pilar utama dalam menghadapi ketidakpastian saat mencoba menembus pasar tenaga kerja.
Dampak Fenomena Career Co-Piloting
Pakar karier dari Zety, Jasmine Escalera, menjelaskan bahwa bantuan ini bertujuan untuk memberikan rasa percaya diri dan kendali kepada Gen Z. Sekitar 67 persen pekerja muda mengaku secara rutin menerima saran karier dari orang tua mereka guna menentukan arah profesional.
Meskipun memberikan rasa aman, tren ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi departemen HRD di berbagai perusahaan. Para praktisi sumber daya manusia kini harus beradaptasi dalam menciptakan lingkungan kerja lintas generasi yang tetap inklusif namun profesional.
Para peneliti juga mempertanyakan kapan para profesional muda ini akan mulai mengasah kemandirian mereka tanpa campur tangan keluarga. Hal ini menjadi perhatian penting karena perkembangan karier jangka panjang biasanya membutuhkan keterampilan advokasi diri yang kuat.
Akar Masalah: Krisis Kepercayaan Diri
Fenomena pendampingan orang tua ini dinilai berkaitan erat dengan rendahnya tingkat kepercayaan diri di kalangan generasi muda. Sebuah laporan dari Big Brothers Big Sisters of America mencatat hanya 41 persen anak muda yang merasa yakin untuk memasuki dunia kerja.
Angka kepercayaan diri tersebut akan semakin menurun bagi mereka yang tidak memiliki mentor atau bimbingan karier yang jelas. Kondisi ini menegaskan bahwa bimbingan karier kini telah bergeser dari sekadar pilihan menjadi sebuah kebutuhan mendesak.
| Aspek Kendala | Dampak pada Gen Z |
|---|---|
| Kepercayaan Diri | Hanya 41% yang merasa siap menghadapi lingkungan kerja profesional secara mandiri. |
| Kemampuan Negosiasi | Kesulitan dalam membahas kompensasi, tunjangan, dan hak-hak sebagai karyawan. |
| Sistem Dukungan | Ketergantungan tinggi pada orang tua dalam menyusun strategi lamaran kerja. |
Tabel di atas merangkum tantangan utama yang dihadapi oleh generasi muda saat mulai memasuki persaingan di dunia profesional saat ini. Tanpa pemahaman mendalam tentang hak dan kewajiban, mereka cenderung merasa tidak berdaya jika harus berjuang sendirian.
Para ahli menyarankan pentingnya pendidikan lebih awal mengenai manajemen kompensasi dan cara melakukan negosiasi secara mandiri. Hal ini diperlukan agar Gen Z dapat bertumbuh menjadi pekerja yang tangguh dan memiliki kemandirian penuh dalam berkarier.