Sejumlah kapal dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman berkat kombinasi strategi khusus dan dukungan militer Amerika Serikat. Jalur perairan ini belakangan menjadi sangat berisiko bagi lalu lintas pelayaran internasional.
Laporan dari Wall Street Journal pada Jumat (29/5/2026) mengungkapkan bahwa kapal tanker pembawa minyak dan gas alam cair kini mulai berani melewati titik rawan tersebut. Keberhasilan ini tidak lepas dari taktik navigasi yang disebut dengan istilah pelayaran gelap atau "dark sailing".
Strategi Pelayaran Gelap di Jalur Berbahaya
Dalam praktik "dark sailing", kapal akan mematikan seluruh lampu serta memutus sinyal Sistem Identifikasi Otomatis atau AIS. Langkah ekstrem ini sengaja diambil agar keberadaan kapal tidak terdeteksi oleh sistem radar elektronik.
Dengan menonaktifkan fitur komunikasi navigasi tersebut, kapal-kapal ini menjadi jauh lebih sulit dipantau. Tujuannya adalah untuk meminimalisir risiko gangguan atau serangan dari pihak Iran saat berada di perairan sensitif.
Selain mematikan sistem pelacakan, sebagian kapal memanfaatkan jalur yang sebelumnya telah dibersihkan oleh militer Amerika Serikat. Area tersebut merupakan bagian dari operasi militer AS yang dikenal dengan nama "Proyek Kebebasan".
Meskipun operasi yang melibatkan pengawalan udara dan laut itu bersifat sementara, jalur yang ditinggalkan relatif lebih aman. Jalur ini menjadi rute utama bagi kapal-kapal yang ingin menembus Teluk Persia tanpa hambatan berarti.
Peran Komando Militer AS dalam Pemanduan Kapal
Selama proses transit, beberapa kapal tetap menjalin komunikasi intensif dengan pihak militer Amerika Serikat. Pihak militer menggunakan teknologi radar canggih serta drone untuk memantau lalu lintas laut di sekitar Selat Hormuz.
Militer AS bertugas memberikan arahan krusial mengenai waktu yang tepat untuk mematikan komunikasi. Mereka juga memberikan panduan taktis bagi para nakhoda dalam menghadapi potensi ancaman yang muncul secara tiba-tiba.
Daftar bentuk koordinasi antara militer AS dan awak kapal laut:
- Pemantauan area secara real-time menggunakan teknologi drone dan radar jarak jauh.
- Pemberian saran teknis mengenai kapan harus mengaktifkan atau menonaktifkan navigasi AIS.
- Instruksi khusus untuk merespons gangguan atau ancaman dari pihak keamanan Iran.
- Koordinasi navigasi di sepanjang pantai Oman untuk menghindari titik cegat utama.
Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, menegaskan bahwa komunikasi dengan kapal-kapal sipil dilakukan secara kontinu. Hal ini bertujuan untuk memastikan setiap kapal yang melintas bisa sampai ke tujuan tanpa kendala keamanan.
Data Kapal yang Berhasil Melintas
Salah satu bukti keberhasilan strategi ini terlihat pada kapal tanker raksasa asal Yunani yang mengangkut dua juta barel minyak. Kapal tersebut sempat terjebak sejak Maret sebelum akhirnya berhasil keluar menuju India awal pekan ini.
Berikut adalah ringkasan data mengenai beberapa kapal yang sukses melewati Selat Hormuz menggunakan taktik khusus tersebut:
| Nama Kapal / Asal | Jenis Muatan / Status | Strategi yang Digunakan |
|---|---|---|
| Tanker Super Yunani | 2 Juta Barel Minyak Mentah | Komunikasi Aktif dengan Militer AS |
| Vicstar (China) | Kargo Umum | Pelayaran Gelap & Mematikan AIS |
| Kapal LNG Lainnya | Gas Alam Cair | Memanfaatkan Jalur "Proyek Kebebasan" |
Tabel di atas menunjukkan bahwa berbagai jenis kapal mulai mengadopsi prosedur keamanan ketat demi kelancaran distribusi energi global. Kerja sama dengan otoritas militer menjadi faktor penentu dalam menembus blokade atau ancaman di wilayah Teluk.
Risiko Tinggi di Balik Pelayaran Tanpa Navigasi
Meskipun efektif menghindari deteksi pihak lawan, pelayaran tanpa AIS membawa risiko kecelakaan yang sangat besar. Tanpa sistem tersebut, kapal-kapal tidak bisa saling mendeteksi posisi satu sama lain di peta elektronik.
Kondisi gelap total saat malam hari juga meningkatkan potensi tabrakan antar-kapal di jalur yang padat. Namun, bagi banyak pemilik kapal, risiko kecelakaan navigasi dianggap lebih kecil dibandingkan risiko penyitaan oleh otoritas Iran.