Strategi Baru E-Commerce 2026: Tak Lagi Kejar Growth, Kini Fokus Cuan Cepat Konsisten

Strategi Baru E-Commerce 2026: Tak Lagi Kejar Growth, Kini Fokus Cuan Cepat Konsisten
Foto: Strategi Baru E-Commerce 2026: Tak Lagi Kejar Growth, Kini Fokus Cuan Cepat Konsisten. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Industri perdagangan berbasis teknologi atau e-commerce kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat modern, terutama di wilayah perkotaan. Prospek bisnis digital ini di masa depan pun diprediksi akan tetap cerah dengan pertumbuhan yang menjanjikan.

Kehadiran platform belanja daring telah mengubah peta industri ritel secara signifikan, termasuk pada sektor kebutuhan pokok atau groceries. Berdasarkan data dari US Department of Agriculture, penjualan groceries di supermarket fisik turun rata-rata 6,02% per tahun pada periode 2020-2022.

Koreksi yang lebih tajam justru terjadi di segmen hipermarket yang mengalami penurunan hingga 17,29% setiap tahunnya. Fenomena ini berbanding terbalik dengan penjualan makanan melalui e-commerce yang justru meroket dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 67,31% per tahun.

Pertumbuhan Pesat E-Commerce di Kawasan Asia Tenggara

Pesatnya perkembangan sektor ini juga didokumentasikan dalam riset terbaru bertajuk Profitable Pathways: Rethinking Growth Strategies in eCommerce. Laporan hasil kolaborasi antara Citi dan Cube Asia tersebut mencatat lonjakan nilai transaksi yang luar biasa di Asia Tenggara.

Pada tahun 2024, nilai penjualan daring di kawasan ini diperkirakan dapat menembus angka US$ 190 miliar. Angka tersebut menunjukkan peningkatan lebih dari 20 kali lipat jika dibandingkan dengan posisi satu dekade yang lalu.

Sepanjang periode 2012 hingga 2021, pasar e-commerce regional ini tumbuh dengan rata-rata 45% setiap tahunnya. Namun, setelah melewati masa pandemi Covid-19, laju pertumbuhan diprediksi mulai memasuki fase matang atau mature.

Pertumbuhan diperkirakan akan melambat dan stabil di angka 12% hingga 16% per tahun hingga 2027 mendatang. Hal ini dianggap wajar mengingat basis angka penjualan yang saat ini sudah berada di level yang sangat tinggi.

Meskipun terjadi perlambatan laju pertumbuhan, para pelaku usaha di industri ini tetap memandang masa depan dengan optimisme tinggi. Survei menunjukkan bahwa sekitar 21% responden masih sangat yakin penjualan mereka akan terus mengalami peningkatan.

Faktor Pendorong Keyakinan Pelaku Usaha

Terdapat beberapa alasan kuat yang melandasi rasa optimis para pengusaha e-commerce dalam menghadapi persaingan pasar. Pertama, meski pertumbuhan pasar secara umum melambat, beberapa segmen produk tertentu diprediksi akan tetap tumbuh jauh lebih cepat.

Kedua, strategi banyak perusahaan yang beralih ke fokus penjualan online selama pandemi terbukti memberikan hasil yang sangat mengesankan. Kesuksesan ini membuat mereka berkomitmen untuk terus memperkuat kanal digital sebagai pilar utama bisnis mereka.

Ketiga, ada rasa percaya diri yang tinggi dari setiap perusahaan bahwa mereka mampu mengungguli para pesaingnya. Bahkan jika pasar secara kolektif hanya tumbuh 15%, banyak perusahaan yang menetapkan target pertumbuhan internal yang jauh lebih tinggi.

Rangkuman performa industri e-commerce berdasarkan data pasar :

  • Penjualan Online 2024: Diproyeksikan mencapai angka US$ 190 miliar di wilayah Asia Tenggara.
  • Pertumbuhan Historis: Mencapai rata-rata 45% per tahun selama kurun waktu 2012 hingga 2021.
  • Proyeksi Pertumbuhan 2027: Diperkirakan akan stabil pada kisaran 12% hingga 16% per tahun.
  • Penjualan Groceries: Sektor makanan di e-commerce melesat tinggi dengan pertumbuhan 67,31% per tahun.

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun pasar sudah mulai jenuh, volume transaksi tetap sangat besar bagi para pemain industri. Hal ini menuntut adanya efisiensi karena pertumbuhan besar tidak selalu menjamin keuntungan finansial yang sehat.

Tantangan Menuju Profitabilitas

Memang benar bisnis belanja online tumbuh sangat masif, namun hal tersebut tidak secara otomatis mendatangkan keuntungan atau cuan. Data riset mengungkap bahwa hanya dua pertiga dari perusahaan e-commerce yang mengaku telah berhasil meraih laba pada 2023.

Mayoritas dari mereka pun hanya mencatatkan keuntungan yang sangat tipis, dengan margin EBITDA berada di kisaran 0% hingga 5%. Sisanya, lebih dari separuh perusahaan, mengaku masih belum mendapatkan keuntungan di salah satu kanal penjualan mereka.

Kondisi ini membuat para pelaku usaha mulai mengubah strategi mereka setelah mencapai skala bisnis tertentu. Mereka kini lebih memilih untuk mengerem ambisi pertumbuhan yang agresif demi menjaga kesehatan finansial perusahaan.

Sebanyak 59% responden survei menilai bahwa saat ini adalah waktunya untuk menyeimbangkan antara skala bisnis dan profitabilitas. Langkah ini diambil meskipun mereka menyadari bahwa fokus pada laba mungkin akan menghambat mereka mencapai potensi pasar tertinggi.

Kondisi finansial pelaku usaha e-commerce saat ini :

Status Keuntungan Persentase Perusahaan Keterangan
Sudah Mendapat Laba Sekitar 66% Mayoritas profit masih sangat tipis (EBITDA 0-5%).
Belum Mendapat Laba Lebih dari 50% Setidaknya merugi pada salah satu kanal penjualan.
Fokus Masa Depan 59% Responden Mengutamakan profitabilitas di atas pertumbuhan skala besar.

Tabel tersebut menggambarkan pergeseran paradigma bisnis dari yang sebelumnya "bakar uang" demi pertumbuhan, kini menjadi lebih konservatif. Era mengejar pertumbuhan semata tanpa memperhatikan keuntungan tampaknya telah berakhir di Asia Tenggara.

Strategi Menghadapi Kompleksitas Pasar

Tantangan yang dihadapi saat ini kian berat, mulai dari biaya pemasaran yang melambung hingga anggaran operasional yang semakin terbatas. Kenaikan biaya platform menjadi hambatan utama bagi banyak penjual untuk meraih margin keuntungan yang diharapkan.

Terdapat empat strategi utama yang diterapkan pelaku usaha untuk merespons tantangan tersebut :

  1. Transformasi Pemasaran Digital: Penjual mulai mencari alternatif saluran baru selain marketplace utama, seperti menggunakan fitur iklan di TikTok. Mereka juga lebih mengandalkan program afiliasi dan penargetan iklan yang lebih spesifik demi efisiensi biaya.
  2. Mengejar Pertumbuhan Berkualitas: Fokus beralih pada produk yang memiliki volume pesanan besar dan memiliki daya tahan lama. Strategi ini bertujuan menghindari perang harga dan meminimalisir pemberian diskon besar-besaran yang menggerus laba.
  3. Kombinasi Saluran Penjualan: Meskipun Shopee dan Lazada masih mendominasi dengan lebih dari 80% keterlibatan penjual, diversifikasi mulai dilakukan. Kanal Direct to Consumer (DTC) dan TikTok Shop kini menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada satu platform.
  4. Efisiensi Operasional secara Menyeluruh: Persaingan yang ketat memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi di segala lini. Namun, tantangan muncul pada biaya jangka panjang untuk merekrut tenaga ahli yang mampu mengelola teknologi dan data secara optimal.

Strategi-strategi di atas menunjukkan upaya keras pelaku usaha untuk tetap relevan di tengah pergeseran dinamika pasar digital. Fokus pada efisiensi kini menjadi kunci utama agar bisnis tetap bertahan dalam jangka panjang.

Babak Baru Ekosistem Digital

Masa depan e-commerce di Asia Tenggara akan menjadi babak baru yang penuh dengan tantangan sekaligus peluang besar. Potensi pasar diprediksi akan mencapai nilai US$ 95 miliar pada tahun 2027, namun jalan menuju ke sana memerlukan upaya ekstra keras.

Kebutuhan akan sumber daya manusia di bidang ini akan tetap tinggi, namun dengan kualifikasi dan pola pikir yang berbeda. Saat ini, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu menyeimbangkan ambisi ekspansi dengan keberlangsungan finansial usaha.

Pertumbuhan yang diharapkan ke depannya bukan lagi sekadar angka besar, melainkan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan. Dengan strategi yang tepat, industri e-commerce diharapkan dapat terus berkembang menjadi tulang punggung ekonomi digital yang sehat.

Artikel terkait

Rekomendasi