Identitas sosok yang diduga kuat menjadi "pasien nol" atau kasus pertama dalam wabah hantavirus mematikan di kapal pesiar MV Hondius akhirnya terungkap ke publik. Sosok tersebut adalah Leo Schilperoord, seorang pria berusia 70 tahun asal Haulerwijk, Belanda, yang berprofesi sebagai ahli ornitologi atau pakar ilmu burung.
Leo dilaporkan mulai jatuh sakit ketika kapal tengah melakukan pelayaran di kawasan Atlantik Selatan pada bulan April 2026 yang lalu. Kasus yang menimpa dirinya kini menjadi pusat perhatian otoritas kesehatan global dalam upaya melacak penyebaran jenis hantavirus langka yang dikenal sebagai virus Andes.
Penyelidikan mendalam terus dilakukan untuk memahami bagaimana virus ini bisa menyebar di antara para penumpang kapal pesiar hingga melintasi perbatasan berbagai negara. Para ahli berusaha memetakan jalur penularan yang menyebabkan krisis kesehatan di atas kapal mewah tersebut.
Profil dan Perjalanan Pasien Nol
Leo Schilperoord dan istrinya yang berusia 69 tahun, Mirjam Schilperoord, dikenal sebagai pasangan pengamat burung yang memiliki pengalaman sangat luas. Sebelum memutuskan untuk naik ke kapal pesiar MV Hondius pada 1 April, pasangan ini telah menghabiskan waktu berbulan-bulan menjelajahi Amerika Selatan.
Perjalanan mereka mencakup kunjungan ke berbagai wilayah di Argentina, Chile, hingga Uruguay untuk menyalurkan hobi serta profesi mereka di bidang ornitologi. Berdasarkan laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pasangan suami istri ini diidentifikasi sebagai kasus pertama dalam klaster wabah tersebut.
Dalam klasifikasi medis, Leo Schilperoord ditempatkan sebagai kasus probable atau pasien suspek karena ia meninggal sebelum sampel medis sempat diambil secara memadai. Sementara itu, sang istri, Mirjam, telah dikonfirmasi positif terinfeksi hantavirus berdasarkan hasil pengujian melalui tes PCR.
Daftar negara dan wilayah yang sempat dikunjungi oleh pasangan tersebut meliputi:
- Wilayah Argentina yang belakangan melaporkan kenaikan kasus hantavirus.
- Berbagai lokasi pengamatan burung di Chile.
- Kawasan konservasi alam di Uruguay.
- Titik pengamatan spesies langka di kawasan Patagonia.
Rangkaian perjalanan panjang di Amerika Selatan ini diduga kuat menjadi momen di mana pasangan tersebut terpapar virus dari lingkungan sekitar mereka.
Dugaan Lokasi dan Penyebab Penularan
WHO kini tengah menjalin koordinasi intensif dengan otoritas kesehatan di Argentina dan Chile guna menyelidiki titik awal munculnya wabah ini. Argentina menjadi salah satu fokus utama penyelidikan karena wilayah tersebut menunjukkan tren peningkatan kasus hantavirus dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan hasil analisis awal, pihak berwenang menduga bahwa pasangan Schilperoord terpapar oleh hewan pengerat saat melakukan aktivitas pengamatan burung di alam liar. Hal ini diperkuat oleh kebiasaan para pengamat burung yang sering mengunjungi lokasi-lokasi terpencil demi mendokumentasikan spesies langka.
Pihak penyelidik secara spesifik menyoroti sebuah lokasi pembuangan sampah yang berada di luar wilayah Ushuaia, Patagonia, sebagai lokasi potensial penularan. Lokasi ini memang dikenal sebagai titik favorit bagi para pengamat burung yang ingin melihat spesies langka seperti Caracara Darwin secara langsung.
Namun, di balik keunikan faunanya, area tersebut juga diduga menjadi habitat bagi hewan pengerat yang membawa jenis hantavirus Andes yang sangat berbahaya. Infeksi pada manusia umumnya terjadi melalui partikel dari urine atau kotoran tikus yang kering dan kemudian terhirup secara tidak sengaja.
Kronologi Gejala dan Kematian Pasien
Laporan dari WHO merinci bahwa Leo Schilperoord mulai merasakan gejala awal penyakitnya pada tanggal 6 April, tak lama setelah pelayaran dimulai. Hanya dalam waktu lima hari setelah gejala pertama muncul, Leo mengembuskan napas terakhirnya di atas kapal pada 11 April.
Gejala yang dialami Leo meliputi demam tinggi, sakit kepala yang hebat, serta gangguan pada sistem pencernaan sebelum kondisinya memburuk dengan sangat cepat. Pada saat kematiannya, otoritas medis di kapal belum langsung mencurigai adanya hantavirus karena gejalanya yang menyerupai penyakit pernapasan umum lainnya.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan penjelasan mengenai situasi sulit yang terjadi pada saat tahap awal wabah tersebut. Ia menyatakan bahwa pada awalnya penyebab kematian Leo tidak dapat dijelaskan secara pasti dan tidak ada pengambilan sampel medis yang dilakukan saat itu.
Istri Leo, Mirjam, awalnya tetap berada di dalam kapal meskipun suaminya telah tiada hingga akhirnya ia turun di wilayah Saint Helena pada 24 April. Saat turun dari kapal, Mirjam mulai mengeluhkan gangguan pencernaan, namun kondisinya memburuk secara drastis saat berada dalam penerbangan menuju Afrika Selatan.
Berikut adalah ringkasan kronologi kejadian yang menimpa pasangan Schilperoord:
| Tanggal Kejadian | Peristiwa Penting | Lokasi Kejadian |
|---|---|---|
| 1 April 2026 | Pasangan naik ke kapal pesiar MV Hondius | Pelabuhan Keberangkatan |
| 6 April 2026 | Leo Schilperoord mulai mengalami demam dan pusing | Di atas kapal MV Hondius |
| 11 April 2026 | Leo Schilperoord meninggal dunia | Di atas kapal MV Hondius |
| 24 April 2026 | Mirjam Schilperoord turun dan mengeluh sakit | Saint Helena |
| 26 April 2026 | Mirjam meninggal dunia di sebuah klinik | Johannesburg, Afrika Selatan |
Tabel di atas menunjukkan betapa cepatnya perkembangan penyakit ini menyerang kedua pasien yang merupakan pengamat burung profesional tersebut.
Keunikan dan Bahaya Virus Andes
Wabah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius ini menjadi sangat serius karena melibatkan jenis virus Andes hantavirus yang tergolong cukup langka. Berbeda dengan jenis hantavirus lainnya, virus Andes memiliki karakteristik unik yang membuatnya jauh lebih berbahaya bagi masyarakat umum.
Sebagian besar jenis hantavirus biasanya hanya dapat menular dari hewan pengerat langsung kepada manusia dan tidak menyebar lebih lanjut antarindividu. Namun, virus Andes diketahui memiliki kemampuan untuk menular antarmanusia melalui kontak yang dekat dan terjadi dalam waktu yang lama.
Kemampuan penularan antarmanusia inilah yang memicu kekhawatiran besar sehingga otoritas kesehatan di berbagai negara kini melakukan pelacakan kontak internasional secara masif. Penumpang asal Amerika Serikat dan Eropa yang sudah kembali ke negara asal mereka kini berada dalam pengawasan ketat petugas kesehatan.
Upaya pemantauan ini dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya gejala infeksi baru di kalangan penumpang lain yang sempat berinteraksi dengan pasangan tersebut. Penyelidik medis kini secara resmi memperlakukan Leo Schilperoord sebagai subjek "pasien nol" untuk mengurai benang merah penyebaran wabah di kapal pesiar tersebut.