Grup band legendaris Slank baru saja merilis karya terbaru bertajuk Republik Fufufafa pada Juni 2026. Kehadiran lagu ini memicu opini publik yang menyebut Slank akhirnya kembali berani bersuara kritis terhadap kondisi negara.
Banyak pihak menilai Slank sempat kehilangan taringnya selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hubungan dekat antara Slank dan mantan presiden tersebut dianggap menjadi alasan mengapa mereka jarang melontarkan kritik pedas seperti dulu.
Tanggapan Bimbim Soal Perubahan Sikap Slank
Bimbim selaku pentolan Slank menegaskan bahwa identitas band mereka tidak pernah bergeser sedikit pun sejak awal terbentuk. Ia menepis anggapan bahwa Slank baru mulai peduli lagi terhadap isu sosial belakangan ini.
"Sebenarnya Slank tidak pernah ke mana-mana, orang-orang saja yang cara pandangnya berubah," ungkap Bimbim saat ditemui di markas Slank, Gang Potlot, Jakarta Selatan.
Pernyataan ini menekankan bahwa Slank tetap berada di jalur yang sama dalam melihat realitas yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, publiklah yang mungkin melewatkan pesan-pesan yang disampaikan Slank dalam beberapa tahun terakhir.
Ridho Keberatan dengan Istilah Kembali ke Setelan Pabrik
Senada dengan Bimbim, Ridho sang gitaris juga merasa kurang nyaman dengan sebutan "kembali ke setelan pabrik" yang disematkan kepada mereka. Baginya, istilah tersebut menunjukkan ketidakpahaman publik terhadap perjalanan musik Slank.
Ridho menjelaskan bahwa Slank tetap konsisten merilis karya-karya yang mengandung kritik tajam meski berada di era pemerintahan Jokowi. Ia mengingatkan kembali beberapa karya penting yang mungkin luput dari perhatian khalayak luas.
Berikut adalah bukti konsistensi kritik Slank yang disampaikan oleh Ridho:
- Album Pala Lu Peyang (2017): Dirilis pada periode pertama kepemimpinan Jokowi dengan muatan lirik yang tetap kritis terhadap situasi nasional.
- Album Vaksin (2021): Karya yang lahir di tengah masa pandemi dan tetap menyuarakan keresahan serta kritik sosial kepada pemerintah.
- Lagu Republik Fufufafa (2025): Karya terbaru yang dianggap masyarakat sebagai momen kembalinya keberanian Slank dalam bermusik.
Ridho menilai bahwa masyarakat yang baru menyadari sikap kritis Slank saat ini adalah mereka yang tidak mengikuti perkembangan band tersebut sejak 2014. Ia meminta agar narasi mengenai kembalinya Slank ke setelan awal tidak lagi digunakan.
Ringkasan karya kritis Slank dalam satu dekade terakhir:
| Tahun Rilis | Nama Karya | Fokus Konten |
|---|---|---|
| 2017 | Pala Lu Peyang | Kritik sosial dan pemerintahan periode pertama. |
| 2021 | Album Vaksin | Suara kritis di tengah situasi pandemi global. |
| 2025 | Republik Fufufafa | Respon terhadap carut-marut kondisi politik Indonesia. |
Data di atas memperlihatkan bahwa Slank tidak benar-benar absen dalam menyuarakan kritik melalui musik mereka. Melalui penjelasan ini, Slank berharap para penggemar dan media lebih jeli dalam menyimak pesan di setiap album yang mereka luncurkan.
Ridho menegaskan bahwa tulisan mengenai perubahan sikap mereka hanya akan terasa janggal jika fakta-fakta tersebut diabaikan. Slank tetap berkomitmen menjadi saksi sejarah yang menyuarakan keresahan rakyat melalui jalur seni musik.