Dunia akademik Indonesia sedang diguncang isu tidak sedap terkait dugaan skandal riset palsu di level internasional. Masalah ini mencuat dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang digelar di Kopenhagen, Denmark, pada pertengahan Mei 2026.
Kecurigaan ini pertama kali diungkap oleh Wa Ode Dwi Diningrat, seorang epidemiolog asal Indonesia yang terafiliasi dengan Oxford University. Dwi menemukan serangkaian kejanggalan saat memperhatikan presentasi dari peserta yang juga berasal dari Indonesia.
Kronologi Terungkapnya Kecurigaan Riset
Awalnya, Dwi diajak oleh koleganya untuk menghadiri sesi presentasi dua peneliti bernama Dimas dan Riana. Setelah mencermati abstrak dan data yang dipaparkan, ia merasakan adanya ketidakwajaran pada hasil penelitian tersebut.
Dwi kemudian berdiskusi dengan rekan peneliti lainnya serta supervisornya untuk membedah grafik dan data yang ditampilkan. Hasil diskusi tersebut semakin memperkuat dugaan adanya manipulasi dalam riset yang dipresentasikan.
Beberapa poin kejanggalan utama yang ditemukan dalam presentasi tersebut antara lain:
- Klaim pengambilan data primer yang dilakukan secara mandiri di dataran tinggi Andes, Peru.
- Absensi kolaborator lokal dalam riset internasional yang dilakukan di wilayah negara lain.
- Ketidakmungkinan secara teknis untuk melakukan pengumpulan data di luar negeri tanpa melibatkan pihak setempat.
- Penggunaan data dan grafik yang dinilai tidak sinkron dengan metodologi riset yang dipaparkan.
Dwi menegaskan bahwa dalam standar penelitian global, melakukan riset di negara orang tanpa mitra lokal adalah hal yang hampir mustahil. Hal inilah yang menjadi salah satu indikasi paling mencolok dalam dugaan pemalsuan tersebut.
Aksi Penyamaran dan Perganti Identitas
Selain masalah substansi data, perilaku pemateri di panggung konferensi juga memicu tanda tanya besar bagi para peserta. Seorang perempuan mulanya tampil mempresentasikan penelitian mengenai pemetaan risiko pneumonia akibat perubahan iklim dengan identitas Riana Dwi Kurniawati.
Namun, hanya dalam jeda waktu 10 menit, perempuan yang sama kembali naik ke atas panggung untuk sesi yang berbeda. Kali ini ia tampil dengan identitas Dimas Fajar Prasetyo dan terlihat telah berganti model jilbab demi menyamarkan penampilannya.
Identitas asli dan afiliasi para terduga pelaku yang teridentifikasi dalam konferensi tersebut:
| Nama Peneliti | Institusi yang Dicantumkan | Asal Jurusan/Kampus (Alumni) |
|---|---|---|
| Prihantini | AI-Biomedicine Research Group / IMCDS | Matematika UNY (2015) |
| Rifaldy Fajar | AI-Biomedicine Research Group / IMCDS | Matematika UNY (2014) |
| Rini Winarti | Departemen Biologi UNY | Biologi UNY (2014) |
| Riana Dwi Kurniawati | Bervariasi | Pend. Bahasa & Sastra Indonesia UNY (2015) |
Perempuan yang melakukan presentasi ganda tersebut belakangan diketahui bernama asli Prihantini. Meski ia membawakan dua materi riset, namanya justru tidak terdaftar sebagai penulis resmi dalam dokumen penelitian yang dipaparkan.
Rekam Jejak Prestasi yang Pernah Diraih
Ironisnya, para oknum yang terlibat dalam dugaan skandal ini sebenarnya memiliki rekam jejak yang cukup gemilang saat masih berstatus mahasiswa. Mereka tercatat pernah mengharumkan nama almamater di berbagai kompetisi inovasi tingkat dunia.
Rifaldy dan Rini, misalnya, pernah membawa pulang medali emas dari ajang penemuan internasional di Kairo, Mesir pada tahun 2016. Prestasi serupa juga diraih oleh tim yang terdiri dari Rifaldy, Prihantini, dan Riana dalam ajang World Invention and Innovation Forum di China setahun setelahnya.
Tanggapan Pihak Kampus dan Terduga
Pihak Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Prof Nur Hidayanto selaku Wakil Rektor Bidang Akademik menyatakan telah mengetahui isu ini. Saat ini, pihak kampus sedang melakukan penelusuran lebih lanjut terkait keterlibatan para alumni tersebut.
Di sisi lain, Rifaldy Fajar sempat memberikan respons singkat melalui media sosial pribadinya sebelum akhirnya menutup akun tersebut. Ia menyatakan bahwa timnya sedang menyiapkan klarifikasi resmi untuk menjawab tudingan yang berkembang.
Hingga saat ini, komunitas akademik masih menunggu penjelasan lengkap mengenai validitas data yang digunakan dalam konferensi ISPPD tersebut. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya integritas dan etika dalam setiap tahapan penelitian ilmiah di kancah internasional.