Sebuah serangan pesawat tak berawak atau drone dilaporkan menghantam fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina selatan. Informasi ini disampaikan langsung oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berdasarkan laporan dari pihak pengelola setempat yang saat ini berada di bawah kendali Rusia.
PLTN Zaporizhzhia merupakan pembangkit listrik nuklir terbesar di benua Eropa. Fasilitas vital ini telah dikuasai oleh pasukan Moskwa sejak periode awal invasi mereka ke wilayah Ukraina pada tahun 2022 silam.
Dampak Serangan Drone di Gedung Turbin
Melalui pernyataan resmi di media sosial, IAEA mengungkapkan bahwa serangan tersebut menyasar bagian gedung turbin pada Sabtu (30/5/2026). Laporan dari operator menunjukkan adanya kerusakan fisik yang cukup nyata akibat insiden tersebut.
Hantaman drone tersebut dikabarkan telah menciptakan lubang pada dinding bangunan. Meski demikian, detail mengenai tingkat kerusakan sistem internal belum dijelaskan lebih lanjut secara mendalam.
Menanggapi situasi yang kian memanas, Kepala IAEA Rafael Grossi melontarkan kecaman keras terhadap tindakan militer di area sensitif tersebut. Ia memberikan peringatan serius kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata ini.
Grossi menegaskan bahwa menyerang situs nuklir adalah tindakan berbahaya yang bisa berakibat fatal. Menurutnya, serangan terhadap fasilitas semacam ini sama saja dengan bermain dengan api yang bisa membakar siapa saja.
Saling Tuduh Antara Rusia dan Ukraina
Hingga saat ini, baik Rusia maupun Ukraina terus saling melemparkan tuduhan terkait serangan di wilayah garis depan tersebut. Kedua negara mengklaim pihak lawan telah sengaja memicu risiko bencana nuklir yang mengancam keselamatan publik.
Perusahaan energi nuklir milik pemerintah Rusia, Rosatom, menuduh pihak Ukraina melakukan serangan terencana. Mereka mengklaim drone yang digunakan menggunakan teknologi kabel serat optik untuk memastikan akurasi sasaran.
CEO Rosatom, Alexei Likachev, memperingatkan bahwa dunia kini berada satu langkah lebih dekat dengan insiden nuklir yang besar. Ia menilai dampak radiasi nantinya bisa meluas hingga melampaui perbatasan Rusia dan Ukraina.
Di sisi lain, pemerintah Ukraina melalui Kementerian Luar Negeri membantah keras klaim tersebut. Kyiv menegaskan bahwa tuduhan Rusia tidak memiliki landasan logika yang kuat bagi kepentingan nasional mereka.
Pihak Ukraina memberikan argumen utama sebagai berikut:
- Ukraina menganggap tidak masuk akal untuk menyerang fasilitas nuklir milik mereka sendiri.
- PLTN Zaporizhzhia berada di wilayah kedaulatan Ukraina yang sedang diupayakan untuk direbut kembali.
- Pernyataan Rusia dinilai hanya sebagai bagian dari operasi disinformasi di tengah masa pendudukan.
Konflik di sekitar PLTN Zaporizhzhia memang menjadi perhatian dunia karena letaknya yang strategis namun berbahaya. Tabel berikut merangkum fakta utama terkait insiden terbaru di pembangkit listrik tersebut.
Ringkasan Insiden PLTN Zaporizhzhia:
| Poin Utama | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi Serangan | Gedung Turbin PLTN Zaporizhzhia |
| Waktu Kejadian | Sabtu, 30 Mei 2026 |
| Dampak Fisik | Lubang pada dinding bangunan |
| Status Wilayah | Dikuasai Rusia sejak 2022 |
Hingga saat ini, IAEA terus melakukan pemantauan ketat di lokasi untuk mencegah potensi kebocoran radiasi. Lembaga tersebut mendesak penghentian total segala bentuk serangan dari maupun terhadap area pembangkit untuk menjaga keamanan global.