Isu kesehatan mental kini menjadi perhatian serius di kalangan mahasiswa, yang sering kali menyuarakan keresahan mereka melalui media sosial. Meski kesadaran mulai meningkat, banyak tanda-tanda gangguan psikologis yang sering kali terabaikan karena dianggap sebagai hal yang biasa.
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., FRSPH, selaku peneliti dan pendiri Health Collaborative Center (HCC), menjelaskan bahwa keluhan sederhana yang sering diucapkan mahasiswa bisa menjadi indikator masalah serius. Ia mencontohkan bahwa rasa lelah yang terus-menerus atau rasa malas sering kali merupakan sinyal dari tekanan mental yang nyata.
Dalam sebuah kuliah umum yang diselenggarakan oleh ILUNI FIB UI, Dr. Ray mengungkapkan bahwa ungkapan seperti merasa lelah atau tidak tahu harus berbuat apa lagi bukanlah sekadar kata-kata biasa. Jika dilihat dalam konteks tertentu, hal tersebut merupakan bentuk sinyal distress atau penderitaan mental yang dialami oleh mahasiswa.
Beberapa faktor utama yang memicu kondisi ini antara lain tekanan akademik yang tinggi, ketidakpastian mengenai masa depan, pengaruh media sosial, hingga kebiasaan memendam masalah sendirian. Mahasiswa masa kini sering kali merasa harus selalu terlihat baik-baik saja di depan publik, padahal sebenarnya mereka sedang berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup.
Memahami Perbedaan Coping Mechanism dan Healing
Untuk mengatasi tekanan psikologis tersebut, mahasiswa dapat menerapkan dua pendekatan utama, yakni mekanisme koping (coping mechanism) dan pemulihan (healing). Dr. Ray menjelaskan bahwa mekanisme koping adalah strategi jangka pendek atau harian yang digunakan seseorang untuk menghadapi stres yang muncul secara tiba-tiba.
Beberapa aktivitas yang termasuk dalam mekanisme koping antara lain:
- Melakukan kegiatan fisik atau olahraga secara rutin.
- Menulis jurnal untuk menuangkan pikiran dan perasaan.
- Berbagi cerita dan berdiskusi dengan teman dekat.
- Melakukan hobi yang memberikan rasa tenang.
Penjelasan mengenai perbedaan antara koping dan healing dapat diringkas melalui poin-poin berikut untuk mempermudah pemahaman mahasiswa.
| Aspek Perbedaan | Mekanisme Koping (Coping) | Pemulihan (Healing) |
|---|---|---|
| Tujuan Utama | Menghadapi stres harian agar tetap berfungsi. | Memulihkan luka psikologis yang mendalam. |
| Jangka Waktu | Cepat dan bisa dilakukan kapan saja. | Membutuhkan waktu yang lebih lama. |
| Sifat Tindakan | Sebagai alat bantu harian (tools). | Sebuah perjalanan proses pemulihan. |
| Kebutuhan Diagnosis | Bisa dilakukan secara mandiri. | Sering kali membutuhkan diagnosa tenaga ahli. |
Tabel di atas menunjukkan bahwa jika koping berfungsi sebagai penanganan darurat, maka healing adalah proses yang lebih kompleks. Healing tidak selalu berarti harus pergi berlibur ke tempat yang jauh, melainkan bisa dimulai dengan hal sederhana seperti tidur yang cukup atau menjalani terapi bicara.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Meskipun metode mandiri dapat membantu, ada kalanya masalah kesehatan mental menjadi terlalu rumit untuk diselesaikan sendirian. Dr. Ray menekankan bahwa jika kondisi psikologis mulai mengganggu fungsi hidup sehari-hari, maka intervensi dari tenaga profesional sangat diperlukan.
FIB UI juga mendorong para mahasiswa untuk tidak ragu mencari bantuan ahli jika mengalami gangguan mental yang berkelanjutan. Langkah ini dianggap krusial demi menjaga kualitas kesehatan psikologis jangka panjang dan mencegah dampak yang lebih buruk di masa depan.
Kesadaran untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja adalah langkah awal menuju pemulihan yang sehat. Dengan penanganan yang tepat, mahasiswa diharapkan tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga dapat berkembang secara optimal di lingkungan kampus maupun masyarakat.