Kawasan Kuningan di Jakarta Selatan saat ini dikenal sebagai pusat bisnis dengan deretan gedung pencakar langit yang megah. Namun, siapa sangka jika wilayah ini dulunya hampir dipilih oleh Presiden Soekarno sebagai lokasi pembangunan Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan fakta menarik ini dalam acara talkshow Pencanangan HUT ke-499 Jakarta yang digelar di Plaza Festival, Minggu (10/5/2026). Ia menjelaskan bahwa Kuningan menyimpan sejarah panjang, mulai dari ambisi Bung Karno hingga filosofi mendalam di balik nama pahlawan HR Rasuna Said.
Pilihan Bung Karno dari Atas Helikopter
Kisah ini bermula saat Bung Karno bersama arsitek andalannya, Frederich Silaban, memantau lahan dari helikopter untuk mencari lokasi proyek olahraga besar. Awalnya, Bung Karno sangat tertarik untuk membangun stadion di kawasan Kuningan.
Meski begitu, Frederich Silaban memiliki pandangan berbeda dan menyarankan agar pembangunan dipindahkan ke kawasan Senayan karena dinilai lebih tepat. Keputusan tersebut akhirnya membuat Kuningan dialokasikan untuk visi besar Bung Karno yang lain.
Rencana pengembangan kawasan Kuningan setelah batal menjadi lokasi stadion:
- Menjadikan wilayah ini sebagai manifestasi dari Dasasila Konferensi Asia Afrika.
- Membangun kawasan bertaraf internasional yang menjadi wajah Indonesia di mata dunia.
- Menempatkan kantor kedutaan besar dari berbagai negara sahabat di sepanjang jalan utama.
- Memberikan nama jalan yang merujuk pada lokasi internasional, seperti Jalan Casablanca.
Visi ini akhirnya terwujud dengan berdirinya banyak kantor perwakilan negara asing di Kuningan hingga saat ini. Hal tersebut menjadikan wilayah ini memiliki atmosfer kosmopolitan yang sangat kental dibandingkan kawasan lainnya.
Sentuhan Budaya Ali Sadikin dan Simbol Feminitas
Perkembangan fisik Kuningan melesat tajam pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Beliau menyadari bahwa kota yang maju tidak hanya butuh gedung beton, tetapi juga pusat aktivitas budaya dan kepemudaan.
Sebagai langkah nyata, Ali Sadikin membangun Pusat Perfilman Usmar Ismail dan Gelanggang Remaja yang kini kita kenal sebagai Gelanggang Soemantri Brojonegoro. Fasilitas ini hadir untuk memberikan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kegiatan sosial masyarakat.
JJ Rizal mencatat bahwa Kuningan awalnya memiliki karakter yang sangat 'maskulin' karena didominasi oleh aspal dan beton kelabu. Untuk menyeimbangkan karakter tersebut, Ali Sadikin sengaja menyematkan nama pahlawan wanita, HR Rasuna Said, pada jalan protokol utamanya.
Makna di balik pemilihan nama HR Rasuna Said:
| Aspek | Filosofi dan Makna |
|---|---|
| Keseimbangan Gender | Mengimbangi nama jalan protokol Jakarta yang mayoritas menggunakan nama tokoh pria. |
| Simbol Ibu | Mencerminkan sosok ibu yang memiliki tanggung jawab besar dalam merawat dan mengatur lingkungan. |
| Kebersihan (Resik) | Menekankan pentingnya menjaga kerapian dan keasrian kawasan sebagai cerminan marwah pahlawan. |
Pemilihan nama ini bukan sekadar identitas geografis, melainkan pengingat bagi warga untuk selalu menjaga kehormatan wilayah tersebut. Rizal menegaskan bahwa membiarkan kawasan Rasuna Said kotor sama saja dengan tidak menghormati sosok "ibu" yang namanya diabadikan di sana.
Tantangan Masa Depan dan Ruang Terbuka Hijau
Menjelang usia Jakarta yang ke-500 tahun, tantangan besar seperti perubahan iklim mulai membayangi kawasan pusat bisnis ini. Saat ini, ketersediaan ruang terbuka hijau di Jakarta baru menyentuh angka 10 persen dari target ideal sebesar 35 hingga 37 persen.
Acara yang dihadiri oleh figur publik seperti Maudy Koesnaedi dan Jerhemy Owen ini sekaligus menjadi momentum deklarasi Gerakan Pilah Sampah. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan jati diri Kuningan sebagai kawasan yang bersih, modern, dan tetap ramah lingkungan bagi generasi mendatang.