Sejarah Keraton Gunung Kawi yang Viral Usai Didatangi Pesulap Merah, Ternyata Begini Aslinya

Sejarah Keraton Gunung Kawi yang Viral Usai Didatangi Pesulap Merah, Ternyata Begini Aslinya
Foto: Sejarah Keraton Gunung Kawi yang Viral Usai Didatangi Pesulap Merah, Ternyata Begini Aslinya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Keraton Gunung Kawi mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah dikunjungi oleh Marcel Radhival, yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah. Lokasi yang selama ini sering dikaitkan dengan berbagai mitos pesugihan tersebut kini mulai terungkap sejarah dan fakta sebenarnya di balik kesan mistisnya.

Melalui unggahan di media sosial, Marcel menjelaskan bahwa tujuannya menyambangi Keraton Gunung Kawi adalah untuk menjawab rasa penasaran publik. Banyak netizen yang mempertanyakan kebenaran isu mengenai praktik pesugihan dan penggunaan tumbal yang kerap dianggap ada di lokasi sakral tersebut.

Demi mendapatkan informasi yang valid, Marcel langsung menemui juru kunci setempat untuk melakukan wawancara mendalam. Hal ini dilakukan agar masyarakat mendapatkan sudut pandang langsung dari pihak yang mengelola dan menjaga kawasan tersebut setiap harinya.

Sejarah dan Tokoh di Balik Keraton Gunung Kawi

Jono, salah satu juru kunci di kompleks Keraton Gunung Kawi, menjelaskan bahwa area ini berpusat pada makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Kedua tokoh ini berasal dari zaman Kerajaan Kediri kuno yang memilih menetap di sana untuk menjalani kehidupan spiritual.

Mereka dikenal menghabiskan waktu dengan bertapa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta atau mencapai kondisi moksa hingga akhir hayatnya. Keberadaan mereka inilah yang menjadi alasan utama mengapa kawasan ini dianggap suci oleh masyarakat sekitar dan para peziarah.

Jono menegaskan bahwa niat masyarakat yang datang ke lokasi ini murni untuk berziarah dan bertawasul kepada para leluhur. Kegiatan ini menurutnya sama saja dengan aktivitas ziarah di makam-makam keramat lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Pihak pengelola membantah keras anggapan bahwa tempat ini merupakan lokasi untuk mencari kekayaan secara instan melalui jalan pesugihan. Menurut mereka, persepsi negatif tersebut tidaklah benar dan melenceng dari fungsi asli keraton sebagai tempat penghormatan leluhur.

Urutan bangunan dan struktur lokasi yang akan ditemui pengunjung saat memasuki kawasan keraton :

  • Gerbang Gapura sebagai pintu masuk utama menuju kawasan sakral.
  • Tiga makam pengawal setia, yaitu Eyang Hamid, Eyang Broto, dan Eyang Joyo.
  • Keraton Gunung Kawi yang merupakan bangunan utama di ujung anak tangga.
  • Pohon Dewandaru di sisi timur yang dipercaya membawa keberuntungan.
  • Bangunan tempat ibadah untuk umat Konghucu di sisi barat.
  • Makam utama Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati di sisi utara bawah anak tangga.

Setiap struktur bangunan di kompleks ini memiliki nilai sejarah dan kepercayaan yang dijaga secara turun-temurun oleh warga sekitar. Keberadaan tempat ibadah dari agama yang berbeda juga menunjukkan adanya toleransi yang tinggi di kawasan wisata religi ini.

Mitos Pesugihan vs Fakta Berdoa

Pada masa hidupnya, Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati sering didatangi masyarakat yang ingin meminta nasihat atau wejangan hidup. Tradisi berkunjung ini tetap berlanjut bahkan setelah mereka wafat, di mana warga datang untuk mengirim doa dan berziarah.

Jono menekankan bahwa tujuan utama peziarah hanyalah untuk mendoakan leluhur, bukan untuk melakukan ritual pesugihan yang menyimpang. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan usaha seseorang tetap berasal dari kerja keras dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Banyak peziarah yang memang datang untuk meminta kelancaran usaha serta kesuksesan dalam hidup mereka. Namun, mereka menjadikan makam para leluhur ini sebagai perantara atau tawasul dalam menyampaikan doa kepada Sang Pencipta.

Kesan mistis memang sangat terasa begitu wisatawan menginjakkan kaki di gerbang Keraton Gunung Kawi. Udara dingin pegunungan serta keberadaan pohon-pohon besar yang dibalut kain poleng hitam-putih memberikan atmosfer yang sangat sakral.

Bau dupa dan sesajen yang ditemukan di beberapa titik bangunan juga menambah suasana magis yang terkadang membuat pengunjung merasa merinding. Namun, pengelola memastikan bahwa hal tersebut bukan bagian dari praktik sekte gelap atau aliran hitam.

Informasi lokasi dan administrasi bagi pengunjung yang ingin datang ke Keraton Gunung Kawi :

Kategori Keterangan
Lokasi Dusun Gendoga, Desa Balesari, Ngajum, Malang
Harga Tiket Masuk Rp 12.000 per orang
Status Lahan Milik Perhutani (Dikelola masyarakat desa)
Pengelola Sekitar 20 warga lokal sebagai pemandu dan penjaga

Data di atas merupakan ringkasan operasional bagi siapa saja yang ingin berkunjung untuk menikmati ketenangan batin atau mempelajari sejarah. Kawasan ini tetap dikelola secara profesional oleh warga desa untuk memastikan kenyamanan para wisatawan dan peziarah.

Wujud Syukur dan Kontribusi Peziarah

Peziarah yang permohonannya terkabul atau usahanya sukses biasanya akan kembali lagi ke Keraton Gunung Kawi. Kedatangan mereka kali ini bertujuan untuk melakukan syukuran serta mendoakan kembali para leluhur sebagai bentuk rasa terima kasih.

Bentuk syukur mereka tidak diwujudkan dalam bentuk tumbal yang mengerikan seperti isu yang beredar luas di media sosial. Sebaliknya, para peziarah yang sudah sukses sering kali memberikan donasi materi untuk membantu pembangunan sarana di kompleks keraton.

Berkat donasi dari para peziarah yang berasal dari Malang hingga luar Jawa, fasilitas di sana kini semakin lengkap. Bahkan, saat ini kawasan keraton sudah dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi yang bisa digunakan oleh pengunjung dan pengelola.

Dengan membayar biaya masuk yang terjangkau, pengunjung bisa mendapatkan pengalaman edukasi budaya sekaligus menikmati keindahan alam pegunungan. Tempat ini tetap menjadi salah satu destinasi wisata religi penting di Malang yang mengutamakan sejarah daripada sekadar mitos.

Artikel terkait

Rekomendasi